Saturday, 21 May 2016

Rumah Betang Suku Dayak Perlu Revitalisasi


PenaOne, Rumah tradisional masyarakat suku Dayak atau yang dikenal dengan Rumah Betang, rumah adat yang terbuat dari kayu ulin mulai dari lanti hingga atap dan dindingnya banyak ditemukan di pedalaman Kalimantan.
Selain sebagai tempat tinggal yang ditempati hingga 60 keluarga yang terbagi dengan beberapa sekat-kekat seperti kamar. Rumah Betang dari dulu hingga sekarang menjadi pusat kegiatan masyrakat Dayak seperti menggelar sebebagai berbagai kegiatan adat.
Rumah Betang yang tak jarang disebutnya rumah panjang dengan memiliki struktur dari kayu sebagai penyangga pada bagian bawah dengan ukuran besar, dan memiliki tinggi sekitar dua meter sehingga rumah ini seperti rumah panggung karena menyesuaikan kondisi mengingat lokasi berada di hulu sungai jika satu saat tidak akan terkena banjir.
Kepercayaan masyarakat Dayak rumah adat ini harus menghadap ke timur di bagian hulunya dan menghadap ke barat pada bagian hilirnya. Hal ini melambangkan kerja keras masyarakat Dayak yang berkerja sejak matahari terbit hingga kembali ke rumah pada matahari terbenam.
Selain memiliki kamar yang bersekat-sekat, rumah ini juga terdapat ruangan yang digunakan sebagai aula. Didalam ruangan aula ini terlihat berbagai lukisan khas suku Dayak yang terpajang disetiap dinding. Aula atau ruangan pertemuan ini digunakan sebagai tempat pertemuan para penghuni Rumah Betang yang digunakan untuk menggelar berbagai kegiatan adat dan tempat berkumpul, bercengkrama serta melakukan aktifitas penghuni seperti menganyam.
Untuk melestarikan budaya yang ada di Suku Dayak agar tradisi di masyarakat termasuk Rumah Betang yang merupakan simbol budaya masyarakat Suku Dayat, Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Sungai Ambawang, Nasution meminta Pemerintah Kabupaten Raya lebih memperhatikan aset budaya mengingat Sumah Betang yang ada di Desa Lingga Kecamatan Sungai Ambawang banyak yang tidak terawat.
“Sejak tahun 2002 hingga sekarang Rumah Betang ini belum dilakukan rehabilitasi total. Kalaupun ada rehab seadanya dan menggunakan dana swadaya masyarakat,” kata Nasution di Sungai Raya.
Ia mengungkapkan, rumah adat masyarakat Dayak dengan luas sekitar 720 meter persegi yang dibangun sejak 1991 yang dibangun dengan mengunakan APBD Pemerintah Kabupaten Pontianak danjuga mengunakan dana swadaya masyarakat setempat. Pada tahun 2002 pemerintah daerah masih meberikan alokasi anggaran untuk biaya rehabilitasi namun setelah itu perhatian pemerintah kian berkurang.
“Namun setelah 2002 secara bertahap perhatian pemerintah kian berkurang, terakhir ada biaya rehab pada 2012 namun hanya memperbaiki kerusakan kecil saja. Sementara saat ini sudah cukup banyak dinding dan lantai rumah radank yang perlu diperbaiki,” katanya.
Disamping sebagai budaya peninggalan adat dan tidak hanya digunakan untuk keperluan masyarakat adat dayak, Nasution berharap ke depan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya bisa menyisihkan anggaran untuk biaya perbaikan termasuk pemeliharaan salah satu aset budaya yang ada di Kubu Raya tersebut. Rencananya jika Rumah Betang tersebut diperbaiki secara maksimal, Nasution akan merangkul sejumlah paguyuban lain di Kubu Raya untuk menggelar pentas kesenian budaya.
“Selain acara adat, Rumah Betang ini juga digunakan untuk kepentingan masyarakat umum lainnya, seperti balai pertemuan masyarakat, pusat beberapa kegiatan seni, budaya, sosial bagi masyarakat luas,” tuturnya.[Antara]