Friday, 10 June 2016

Masjid Tertua di Tanah Jawa yang Dulunya Merupakan Pura

Masjid Laweyan
Solo, PenaOne - Sebuah Masjid Kuno masih kokoh berdiri hingga kini di Kota Solo, Jawa Tengah. masjid tersebut berdiri pada pemerintahan Jaka Tingkir di Kerajaan Pajang. Masjid tersebut kini dikenal dengan nama Masjid Laweyan. Konon masjid ini adalah pura yang digunakan untuk ibadah oleh agama Hindu.
Jika sedang berjalan jalan ke Kota Solo, Jawa Tengah, jangan lupa singgah di Kampung Laweyan. Selain berbelanja batik di kampung batik Laweyan anda juga akan menemukan satu bukti sejarah Islam di tengah tengah kampung Laweyan.

Masjid Laweyan demikian nama masjid tersebut. Bangunan kuno ini hingga kini masih tegak berdiri dan menjadi tempat beribadah umat Islam.

Dari catatan sejarah, masjid ini berdiri sejak 1546 atau pada masa Kerajaan Pajang  pada masa pemerintahan Sultan Hadi Wijaya  atau yang dikenal dengan Jaka Tingkir.
Konon masjid ini masih berupa Pura tersebut milik Kiageng Beluk, setelah Ki Ageng Henis masuk, pura ini pun berubah fungsi menjadi Masjid.

Ki Ageng Henis adalah keturunan Raja Brawijaya, sehingga masih Trah Majapahit . Setelah itu Ki Ageng Henis menurunkan cucu yang kemudian menjadi Raja pertama Dinasti Mataram, Panembahan Senopati.
Pada masa perkembangan masjid Laweyan, tumbuhlah sebuah Pesantren yang memiliki banyak santri. Konon karena banyaknya santri maka Pesantren tersebut tak henti menanak nasi sehingga asap terus mengepul. Akhirnya kampung tempat Pesantren tersebut dikenal dengan Kampung Kabelukan dari kata beluk atau asap.

Masjid Laweyan yang Dulunya Merupakan Pura

Masjid Laweyan merupakan bukti sejarah perkembangan Islam di Solo pada masa Kerajaan Pajang. Islam berkembang cukup pesat karena dakwah yang dilakukan Ki Ageng Henis secara santun dan lemah lembut mampu mengikat hati masyarakat pada masa itu.

Masjid ini mempunyai keunikan tersendiri, selain bentuknya seperti pura masjid ini tidak mempunyai menara yang digunakan untuk adzan seperti masjid pada umumnya saat itu.
Keunikan dari masjid ini  adalah pada mimbar yang digunakan untuk khotbah. Mimbar ini terbuat dari kayu ukir yang dibuat pada saat pemerintahan Pakubuwono X. Karena saat itu belum ada gergaji maka seluruh bangunan masjid ini dikerjakan menggunakan Tatah, akibatnya setiap kayu jati  yang digunakan untuk penyangga masjid ini tidak simetris.

Di masjid ini juga terdapat bedug yang berasal dari Kraton Solo yang berukuran raksasa dengan diameter sekitar dua meter yang tebuat dari kayu utuh dan hingga kini belum pernah diganti.
Luas bangunan inti masjid Mataram adalah delapan belas kali sembilan meter. Selain tembok tebal, bangunan masjid terbuat dari kayu jati kuno. Tentunya di sejumlah tempat, telah mengalami pemugaran.
Di masjid tersebut juga digunakan untuk tata cara islami seperti pernikahan Talak, Rujuk, Musyawarah, dan makam.

Khusus untuk makam hingga kini kerabat kerajaan telah banyak yang dimakamkan di makam tersebut. Selain Ki Ageng Henis, Permaisuri Pakubuwono V dan sejumlah tokoh serta kerabat kerajaan lainnya. Bahkan Pakubuwono II  pernah dimakamkan di makam tersebut sebelum dipindah ke makam raja-raja Imogiri Jogja.
Sebagaimana masjid islam Jawa lainnya, pada waktu waktu tertentu masjid ini menjadi tempat ziarah. Misalnya pada malam Jumat, banyak peziarah datang untuk berdoa dan bertahajud di masjid ini. Bahkan tak jarang mereka menginap hingga Subuh.
Bagi anda yang ingin mengenal lebih jauh tentang masjid Laweyan dan ingin berziarah, sempatkan untuk berkunjung ke masjid ini yang terletak di ujung Barart Daya Kota Solo, Jawa Tengah.