Sunday, 10 July 2016

Dampak dari Konflik, Rumah Sakit di Yaman Kukurangan Tenaga Medis


Shana'a, PenaOne – Sebanyak 1.200 dokter dan tenaga medis asing telah meninggalkan Yaman untuk menghindari bahaya akibat konflik, sejak perang saudara yang berlangsung selama satu tahun lebih.

Catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) cabang Yaman menyebutkan, sebagian besar dokter ahli bedah di Yaman berasal dari luar negeri, dan sudah banyak yang pergi sejak konflik pecah di negeri itu.

“Sejak perang meningkat pada Maret 2015, dengan dimulainya serangan bom, sedikitnya 1.200 praktisi kesehatan non-Yaman telah meninggalkan negara itu,” menurut laporan WHO yang diungkap Middle East Eye edisi Sabtu (9/7/2016).

Hal itu berdampak pada terjadinya krisis kesehatan akibat semakin berkurangnya tenaga medis yang menangani pasien,

Seperti pasien Rayan Al-Azazi (28 tahun), yang tengah menderita cedera otak serius akibat kecelakaan mobil yang menimpanya. Ia berobat ke rumah sakit milik pemerintah di Thammar. Namun tidak tertangani karena rumah sakit tidak memiliki ahli saraf.

Sebelum perang, ada dokter spesialis neurologi asing yang ditempatkan di rumah sakit itu. Namun sejak bom mulai menimpa wilayah tersebut, dokter asing meninggalkan negara itu. Sementara pihak rumah sakit belum menemukan penggantinya karena keterbatasan spesialis saraf di Yaman.

Azazi pun dirujuk ke rumah sakit di ibukota Shana’a, yang berjarak sekitar tiga jam dari rumahnya. Tapi ketika ia tiba di ibukota, juga tidak ada spesialis yang diharapkan karena mengungsi juga ke luar. Dia meninggal sebelum ditangani dokter.

Saudara Azazi menceritakan kematian saudaranya, “saudara saya sebelumnya telah bertunangan dua bulan lalu. Dia tadinya akan ke Shana’a untuk mencari pekerjaan, untuk persiapan menikah. Tapi kematian akhirnya memanggilnya sebelum ia menikah.”

Wadee Sinan (45) seorang pasien jantung kronis juga ditemukan telah meninggal karena tidak adanya penanganan medis.

Kementerian Kesehatan Yaman mengharapkan solusi permanen untuk mengakhiri krisis, tapi masih belum bisa terwujud.

Menteri Kesehatan pro-Houthi Ghazi Ismail mengatakan, tidak hanya dokter asing yang telah bergegas meninggalkan negara itu, tapi sejumlah besar dokter warga Yaman juga telah melarikan diri dari perang.

“Kami berusaha keras untuk mencarikan pengganti dokter asing, tapi kami tidak dapat menemukan cukup alternatif, karena sebagian besar orang asing memiliki spesialisasi langka,” kata Ismail.

Dia mengatakan kementerian tidak memiliki cukup spesialis sebagai akibat dari perang, dan ini menimbulkan krisis medis yang rumit.

“Rumah sakit harus menjalankan pelayanan medis, tapi kita tidak memiliki alternatif,” ujarnya.

Minimal diperlukan 2.000 spesialis di seluruh negeri, untuk memenuhi setengah dari kebutuhan kesehatan Yaman saat ini.

Tetap Bertahan di Medan Konflik

Tidak semua dokter spesialis pergi, ada juga beberapa dokter yahg masih bertahan. Ini seperti Mazen Mohammed, seorang warga Yaman yang bekerja sebagai ahli bedah ortopedi di rumah sakit Sheikh Khalifa di Taiz, memberikan pengobatan gratis untuk pasien.

Dia sebenarnya mendapatkan tawaran bekerja di dua negara lain, tetapi ia lebih memilih tetap tinggal di Yaman yang masih sangat memerlukan jasanya daripada di tempat lain.

“Kami para dokter yang masih bertahan adalah para malaikat rahmat. Kami tidak bisa memikirkan uang saat ini. Yaman membutuhkan kami, jadi kami harus fokus pada upaya membantu para korban perang. Allah pasti tidak akan melupakan kami,” kata Mohammed.

Beberapa tenaga medis juga bertahan tapi pindah ke daerah pedesaan. Sebagian kecil saja yang masih bertahan terus bekerja di daerah konflik, walaupun memiliki penawaran yang lebih baik dari luar negeri. Mereka mengatakan ingin membantu para korban perang, walaupun sewaktu-waktu harus siap dengan serangan yang menyasar rumah sakit.

Seperti klinik darurat Dokter Tanpa Batas (MSF) yang terkena serangan bom udara dari koalisi pimpinan Arab pada Desember lalu yang melukai tujuh orang.

Pihak Kementerian Kesehatan saat ini juga tengah mengupayakan untuk mendapatkan donasi dari organisasi internasional guna membayar dokter dan membawa mereka kembali ke Yaman.

Seorang pasien kritis mengatakan bahwa ia sudah tidak memiliki harapan hidupnya akan diselamatkan. “Saya tidak percaya perang akan segera berakhir, dan juga saya tidak berpikir bahwa dokter baru akan datang untuk membantu pasien di Yaman. Ya, saya hanya pasrah bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, dan jika kita kehilangan hidup kita di dunia ini, Allah akan memberikan kehidupan kami di akhirat.”