Saturday, 10 December 2016

Gempa Aceh, Penganut Parmalim di Tobasa Ajak Rakyat Intropeksi Diri


Toba Samosir, PenaOne - Duka ditanah rencong yang baru saja terjadi akibat guncangan gempa berkekuatan 6,5 skala richter adalah duka seluruh bangsa Indonesia.

Masayarkat diseluruh penjuru negeri ini beramai-ramai memanjatkan doa dan mengumpulkan dana untuk saudara kita di Kabupaten Pidie Jaya, provinsi Aceh tersebut.

Tak terkecuali masyarakat penganut Ugamo (agama) Malim yang dikenal sebagai Parmalim di Kabupaten Tobasamosir (Tobasa) Sumatera Utara pun ikut mendoakan agar masyarakat Pidie Jaya tabah dan sabar menjalani cobaan ini.

Hari ini, warga Parmalim yang ada di Tobasa berkumpul  bersama dan menggelar doa sebagai rangkaian ibadah Marari Sabtu.

Dipimpim Jintar Naipospos, yang bertindak sebagai ulu punguan atau  pemimpin Parmalim disela-sela acara itu mengatakan, duka masyarakat Aceh juga duka kami juga sebagai anak bangsa.

"Karena itu, ibadah pada hari ini, selain mendoakan bangsa, kami juga sengaja mendoakan agar Indonesia terbebas dari segala bencana. Bagi masyarakat Aceh, kami doakan supaya tabah dalam menghadapi cobaan dari Tuhan ini," ujar Jintar di parsantian rumah Oppu Rugun Naipospos,  Desa Sibadihon, Kecamatan Bonatua Lunasi, Sabtu (10/12/2016).

Jintar yang sudah berusia paruh baya ini mendesak agar pemerintah lebih fokus memberikan bantuan baik pangan dan papan.

"Kedatangan presiden Jokowi ke Aceh mudah-mudahan menambah semangat bagi para korban gempa," katanya.

Jintar yakin,  bencana ini pasti pasti ada sebab musababnya. "Kami mengajak seluruh anak bangsa untuk intropeksi diri".

Ditempat yang sama, Iwan Darmawan, dosen fakultas Universitas Pakuan Bogor mengungkapkan, Bhineka Tunggal Ika yang dilahirkan Mpu Tantular di zaman kerajaan Majapahit bisa selalu terjaga jika seluruh lapisan masyarakat selalu menjaga 4 pilar kebangsaan.

"Sebenarnya, jika 4 pilar kebangsaan terjaga yakni pancasila, UUD 1945, NKRI dan bhineka tunggal ika, dipastikan ancaman perpecahan tidak perlu ditakuti, karena tidak akan terjadi" tegas mahasiswa program Doktor Ilmu Hukum Universitas Indonesia (UI) ini.

Kegiatan menemui komunitas-komunitas kecil yang kerap terpinggirkan dan terkesan jarang terpikirkan oleh pemerintah seperti parmalim ini perlu dilakukan anak bangsa.

"Karena ini kelompok ini terkadang justru menjadi tolok ukur dalam menjaga toleransi dan keberagaman," terang Iwan Darmawan.

Penulis: Dwitanto