Wednesday, 8 February 2017

AFC Dorong PSSI Tertibkan Lisensi Klub Indonesia

Jakarta, PenaOne - AFC mendorong PSSI untuk menekankan kepada klub, soal pentingnya regulasi lisensi klub. Hal itu dikatakan Sekjen AFC, Dato Windsor Jhon, saat mengunjungi kantor PSSI, Selasa (6/2/2017). Menurut John, implementasi lisensi klub akan sangat penting untuk perkembangan sebuah klub sepak bola di Asia.

Dalam kunjungannya itu AFC mengidentifikasi permasalahan sepak bola di Indonesia dan akan membantu mencari solusi terkait penerapan lisensi klub, percepatan lisensi pelatih AFC dan wasit AFC, pengembangan sisi teknis, dan percepatan pengembangan pemain muda beserta kompetisi sepak bolanya.

Terkait penerapan lisensi klub di Indonesia, AFC menekankan bahwa dalam sebuah liga tidak boleh ada satu individu yang boleh memiliki lebih dari satu klub.

Sekjen AFC pun menekankan bahwa peraturan tersebut sudah ada dan harus diberlakukan di setiap federasi sepak bola.

"Kami sudah punya peraturan bahwa tidak boleh ada cross-ownership, yaitu kalau ada satu orang membeli klub sepak bola, ia tidak boleh membeli satu klub lagi di liga yang sama. Itu sudah ada peraturannya. Jadi peraturan itu harus diberlakukan juga oleh PSSI," ujar Dato Windsor Jhon di Kantor PSSI.

"Penting untuk PSSI menekankan peraturan lisensi klub karena di bawahnya ada regulasi yang mengatur secara khusus bagaimana seseorang bisa memiliki suatu klub sepak bola. Saya berharap media di Indonesia memberikan dukungan untuk membantu PSSI mengimplementasikan lisensi klub karena itu sangat penting bagi pembangunan suatu klub," lanjut Sekjen AFC itu.

Sementara itu, terkait perubahan nama klub karena proses perubahan pemilik seperti yang marak terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, Sekjen AFC itu tidak mempermasalahkan perubahan nama selama hal tersebut dilakukan setelah musim kompetisi berakhir atau sebelum musim kompetisi resmi dimulai.

"Perubahan nama klub ada dua hal yang diterapkan di level AFC. Pertama, sebelum klub tersebut bermain di kompetisi resmi AFC. Jadi kalau ada klub Indonesia bermain di kompetisi AFC, selama satu kompetisi hanya satu nama itu yang akan terus digunakan dalam setiap pertandingan.

Kedua, untuk ranah pergantian pemilik yang mengubah nama klub dan struktur manajemennya pun berubah, perubahan nama klub diberikan, tapi harus menunggu hingga satu musim berakhir," papar Dato Windsor Jhon seperti dikutip bola.com.

Perubahan nama klub di Indonesia karena pergantian pemilik memang beberapa kali terjadi. Ambil contoh Persijatim yang berubah nama menjadi Sriwijaya FC, Niac Mitra menjadi Mitra Kukar, Persisam Putra Samarinda yang menjadi Bali United, Pelita Jaya yang menjadi Pelita Bandung Raya dan kini Madura United.

Selanjutnya Persiram Raja Ampat yang menjadi PS TNI, dan Bhayangkara FC yang awalnya bernama Persebaya Surabaya, dan kemudian terus berganti nama, antara lain Persebaya United, Bonek FC, Bhayangkara Surabaya United.

Bicara soal Bhayangkara FC yang lima kali melakukan perubahan nama dalam kurun waktu dua tahun adalah contoh sebuah pelanggaran terhadap lisensi klub seandainya terjadi dalam kompetisi resmi PSSI yang berjalan.