Wednesday, 8 February 2017

Anas Puasa, SBY Minta Maaf Lah ke Orang yang Disakiti

Jakarta, PenaOne - Pidato politik yang disampaikan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam acara Dies Natalis ke 15 Partai Demokrat di Jakarta Convention Center (JCC) malam tadi lebih menunjukan kegundahan hatinya selama ini.

"Pidato SBY tadi malam tidak lebih curhat semata. Hati SBY mungkin sedang dirundung kegundahan," kata loyalis Anas Urbaninhrum, Sri Mulyono saat berbincang dengan PenaOne.com Rabu (8/2/2017).

SBY didepan ribuan kader partai Demokrat menyebut jika dirinya selama ini telah difitnah. Fitnah, yang dimaksud SBY adalah ia dituding menggerakan dan membiayai masa
dalam aksi damai yang dikuti jutaan umat Islam hinggga dirinya dituding melakukan makar.

"Partai Demokrat tidak ingin menjatuhkan presiden Jokowi ditengah jalan. Demokrat ingin pemerintahan Jokowi berjalan hingga 2019," kata SBY dalam acara Dies Natalis Partai Demokrat di Jakarta, (7/2/2017) malam yang disiarkan langsung salah satu televisi swasta.

SBY juga menyebut, supremasi hukum selama ini masih belum berjalan maksimal.

"Semua warga negara sama dimata hukum. Proses hukum tidak boleh diintervensi pihak manapun," terangnya.

Kembali ke Sri Mulyono, dirinya mengaku sering menengok Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum di LP Sukamiskin, Bandung tempat Anas kini ditahan.

"Saya beberapa kali nengok mas Anas di Sukamiskin. Dia rajin puasa sunah. Mungkin ini juga yang semakin mempertajam mubahalahnya," ungkap Sri.

Sri Mulyono menambahkan, Mubahalah Anas terus bekerja. Orang-orang yang berbuat dzalim terhadap Anas satu persatu tumbang.

"Pak SBY sebaiknya instrospeksi diri dan berhenti menuding menyalahkan pihak lain. Lebih mulia lagi segera minta maaf atas perbuatan kepada orang-orang yang pernah disakiti.  termasuk kepada Anas Urbaningrum," tegas pria kelahiran Jawa Tengah ini.

Menurutnya, menyimpan dan memendam kesalahan akan menyiksa diri sendiri karena tidak ada seorangpun yang bisa membohongi dirinya sendiri.

"Tidak enak to masa tua tersiksa seperti itu," ujarnya.

Sri Mulyono juga meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)  memeriksa Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dibalik kasus mega proyek Hambalang yang banyak merugikan uang negara tersebut.

KPK jangan takut untuk memeriksa Ibas. Jika Ibas tidak dipanggil untuk diperiksa KPK dikhawatirkan dituduh memperburuk citra pemerintahan Presiden Jokowi dalam pemberantasan korupsi. Padahal, Jokowi tidak mengenal kompromi untuk koruptor di negeri ini, ujar Sri.

Seorang Nazaruddin masih kata Sri, tidak mungkin memberikan keterangan palsu saat mengungkap nama-nama yang terlibat.

"Tidak sedikit orang yang masuk penjara pascapengakuan Nazarddin itu. Ada Mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, Angelina Sindahk, Mantan Menpora Andi Mallarangeng dan yang terakhir Choel Mallarangeng".

Masyarakat masih menunggu kepastian penuntasan kasus mega korupsi di Hambalang tersebut. Soalnya, Ketua KPK Agus Rahardjo sudah pernah menyampaikan untuk menuntaskan kasus itu, termasuk jika diperlukan memeriksa Ibas, seperti yang diungkap di pengadilan, demikian Sri Mulyono mengakhiri perbincangan.

Penulis: Dwitanto