Thursday, 23 February 2017

Jatim Gembleng 28 Ribu Tenaga Kerja

Surabaya, PenaOne - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur terus berupaya menekan angka pengangguran.

Sepanjang tahun ini, Pemprov Jatim melalui Dinas Tenaga Kerja danTransmigrasi (Disnakertrans) memberikan pelatihan pada sebanyak 28 ribu tenaga kerja.

“Pak Gubernur telah berkoordinasi denganMenteri Ketenagakerjaan dan Menteri Perindustrian untuk membuat pelatihan-pelatihan. Kita optimistis tenaga kerja JawaTimur mampu bersaing,” tutur Wakil GubernurJawa Timur, Saifullah Yusuf di JX Internasional, Selasa (21/2/2017) kemarin.

Ribuan tenaga kerja yang akan dilatih, kata GusIpul, akan dibiayai pelatihannya oleh pemerintah provinsi, pemerintah kota atau Kabupaten diJawa Timur.

Usai dinyatakan lulus pelatihan, diharapkan mereka menjadi tenaga kerjaterampil dan mendapatkan pekerjaan sesuai dengan perusahaan yang diinginkan.

Lebih lanjut, Gus Ipul mengungkapkan Pemprov Jatim  konsisten memberikan berag m pelatihan para tenaga kerja. Program tersebutuntuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan pekerja. Terlebih saat ini PemprovJatim juga sedang fokus meningkatkan angka tenaga kerja terampil melalui pendidikan vokasi.

Kepala Disnakertrans Jatim, Sukardomenjelaskan,Tingkat Pengangguran Terbuka(TPT) pada bulan Agustus tahun 2016 di JawaTimur, sebesar 4,21 persen, terdapat penurunan TPT sebanyak 0,26 persen poin dibanding TPT posisi Agustus 2015  sebesar 4,47 persen.

Dengan keadaan tersebut, TPT JawaTimur masih tetap berada di bawah nasionalyang juga turun menjadi 5,61  persen.

“Dengan TPT Jatim per Agustus 2016 sebesar 4,21 persen, jumlah penganggur di Jawa Timur saat ini turun menjadi 839.280 orang. Sedangkan penganggur di bulan Februari 2016 berjumlah 849.330 orang, dan di bulan Agustus2015 sebanyak 906.904 orang,” jelasnya dikutip jatimprov.go.id

Disnakertrans Jatim terus melakukan upaya peningkatan K3, pelatihan, pemagangan dalam dan luar negeri, penciptaan lapangan kerja, serta penciptaan hubungan harmonis antara perusahaan dan karyawannya.

Lebih lanjut, ia berpendapat pertumbuhan ekonomi tidak dapat dipisahkan dengan kondisi ketenagakerjaan, karenanya pertumbuhan ekonomi sangat berdampak terhadap penyediaan lapangan kerja dan angka penyerapan angkatan kerja diberbagai sektor usaha.