Monday, 13 February 2017

Kerja Senang Jangan "Mbesengut”

Semarang, PenaOne - Pernahkah terbersit dalam pikiran bahwa kita bekerja di tempat yang salah? Pernahkah kita jengkel saat target pekerjaan terasa amat berat? Atau, pernahkah kita merasa bahwa pekerjaan orang lain tampak lebih mudah dan menyenangkan?

Jika jawaban dari sederet pertanyaan itu adalah ya, maka kita perlu merenungi analogi yang disampaikan oleh Fahrurrozi MAg saat Tausyiah dan Pengarahan kepada ASN Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah.

Di hadapan Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP, jajaran pimpinan dan staf instansi tersebut, pria separuh baya itu menceritakan kisah cicak dan nyamuk. Cicak binatang merayap dengan tubuh kecil harus memangsa nyamuk yang terbang.

“Kalau cicak selalu mikir posisinya, stres itu. Ya Allah iki salah penempatan. Iki salah SK,” ceritanya disertai candaan.

Ungkapan Fahrurrozi segera disambut tawa riuh para ASN. Analogi itu disampaikannya untuk mengobarkan semangat ASN agar tidak mudah menyerah ketika mereka ditugaskan pada OPD baru usai SOTK akhir tahun lalu.

“Tapi kalau cicak yakin bahwa nyamuk adalah rezekinya, maka sepintar-pintarnya nyamuk terbang, tetap bisa didapat. Cicak tidak pernah jatuh karena makan nyamuk. Dia makan sesuai haknya. Sepanjang kita bekerja, mencari rezeki sesuai hak kita, maka insya Allah selamat. Bekerja di mana punno problem. Yakinlah Allah tidak pernah keliru membuat takdir. Mari kita belajar merenungi ini,” lanjutnya.

Fahrurrozi menuturkan, apabila ASN bekerja dengan dilandasi keikhlasan dan kebahagiaan, dia tidak akan mempermasalahkan di mana dia bekerja. Dia justru bersemangat untuk bekerja maksimal dan mencapai target yang ditetapkan, mesti tidak selalu diawasi secara langsung oleh pimpinan.

“Kalau orang bekerja niatnya ibadah, maka dia akan semangat mengejar target, bukan dikejar oleh target. Hari ini misalnya Bapak Kepala Dinas mengatakan, target kita Rp 41,7 triliun. Kita nikmati (pekerjaan). Bismillah, sebelum Desember insya Allah tercapai. Kalau orang bekerja bahagia, tanpa diawasi pun dia tidak akan ledha-ledhe,” ujarnya.

Sebaliknya, apabila ASN bekerja tanpa adanya keihklasan, dia hanya akan merasakan beban saat bekerja. Dia terus-menerus melihat bahwa pekerjaan orang lain lebih menyenangkan daripada pekerjaannya.

“Kita itu sering tidak bahagia karena melihat nikmat orang lain. Urip kuwi sawang-sinawang. Panggonmu nggon duwit, panggonku nggon demit kok. Jangan sampai terucap seperti itu,” tegasnya.

Usai mendengarkan tausyiah tersebut, Gubernur Ganjar Pranowo bertanya kepada para ASN DPMPTSP Jateng apakah mereka bekerja dengan bahagia. Dia berharap selurunya dapat merasa nyaman menjalankan tugasnya.

“Bapak/Ibu bahagia nggak? Nek kerja bahagia,wajahe ora mbesengut lho ya. Passion dan kebahagian itu adalah kenyamanan. Dalam konteks profesional sebenarnya itu yang kita harapkan. Sekarang yang dibutuhkan adalah mental mau melayani sebagai satu passion bahwa ya saya bekerja di sini untuk itu,” jelas orang nomor satu di Jawa Tengah itu.

Mantan anggota DPR RI tersebut mencontohkan, ASN yang bekerja sebagai frontliner di bidang perizinan akan tersenyum ikhlas kepada publik yang dilayani.

“Tersenyum dan tatap matanya. Nyuwun sewuBapak/Ibu ada yang perlu dibantu? Layani dengan ikhlas,” pesannya.

Usai memimpin apel dan mendengarkan tausyiah, Ganjar meninjau pelayanan perizinan di DPMPTSP Jateng. Dia juga sempat berdialog dengan Export Import Manager Sudung PT Argo Manunggal Triasta Kota Salatiga saat mengambil izin prinsip perluasan penanaman modal yang telah diurusnya tiga hari lalu.

“Pak, apa komplainnya? Silakan sampaikan mumpung ada saya. Nggak apa-apa, nggak usah takut, nggak usah malu” ujar Ganjar.

Sundung pun menyampaikan jika pengurusan perizinan yang dilakukan sudah relatif cepat. “Belum ada komplain, Pak. (Pengurusan perizinan) ini alhamdulillah relatif cepat. Tiga hari sudah jadi,” ungkapnya.

Manajer perusahaan tekstil tersebut menerangkan, saat ini perusahaannya berencana kembali melakukan perekrutan tenaga kerja. Pasalnya, perusahaan yang didirikan pada 2007 itu tengah mengembangkan diferensiasi produk untuk dipasarkan. Sehingga 800 tenaga kerja existingperlu ditambah.

Mendengar penjelasan Sudung, Ganjar senang karena perusahaan tekstil itu memiliki potensi besar untuk menyerap tenaga kerja. Dia kemudian mengarahkan agar PT Argo Manunggal Triasta dapat bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah.