Friday, 10 February 2017

Ma'mun Murod ke SBY, Data Anas Masih Tersimpan Rapi

Jakarta, PenaOne - Loyalis mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, Ma'mun Murod menanggapi sinis cuitan di twitter pribadi Presiden RI ke-6 Sulilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam beberapa hari terakhir ini.

Dalam cuitan @mamunmurod_ yang dilihat PenaOne.com, Jum'at (10/2/2017) pria yang berprofesi sebagai dosen di Jakarta ini setidaknya menuliskan 73 cuitan di akun twitter pribadinya yang saling berkaitan.


"1.SEBAIKNYA PAK SBY TIDAK USAH “CENGENG”," bunyi cuitan Ma'mun pertama Kamis (9/2/2017) pukul 18:24.

Dalam cuitan berikutnya Ma'mun juga mengomentari terkait aksi demonstrasi mahasiswa dikediaman SBY dikawasan Mega Kuningan, Jaksel.

"15.Sy paham dg twitan Pak @SBYudhoyono n memang tak sehrsnya mantan Pres dpt prlakuan dmkn. Ini hrs jd perhatian serius bagi Pak @jokowi"


"10. Pak SBY mbuat kebijakan utk tambah jumlah pasukan Paspampres dr sebelumnya hanya terdiri dr tiga grup: 1. Paspampres; 2. Paspamwapres".

"11.dan 3 Paspam Presiden or PM negara sahabat or tamu negara lainnya) jd 4 grup (grup tambahan utk para mantan Presiden (Wapres)" cuit Ma'mun.

Ma'mun juga menyinggung soal korupsi mega proyek Hambalang yang menyeret Anas Urbaningrum.


"23.data2 kasus Mas Anas msh trsimpan dg rapi. Siapa th kalo dibuka lg bs temukan “pemain” n koruptor yg sesungguhnya dlm Kasus Hambalang" cuit Ma'mun pukul 19:01.

Bahkan ia menuliskan jika perlakuan "tidak nyaman" yang dialami SBY saat ini tidak jauh berbeda dengan yang dialami Anas Urbaningrum waktu itu.

"29.Perlakuan "tidak nyaman" yang sekarang Pak SBY rasakan itu juga yang dulu antara 2010-2014 Mas Anas rasakan," demikian cuitan Ma'mun Murod pukul 19:08.

Dalam cuitan terakhirnya pria yang ikut mendirikan Ormas Perhimpunan Pergerakan Indoensia (PPI) ini meminta maaf pada SBY jika dirinya telah lancang.

"73.Anggap saja sebagai "buah" dari yang Pak SBY tanam. Mohon maaf Pak SBY kalau saya lancang. Sekian (MMA, Tol Cikunir, 9/2/17)," demikian cuitan Ma'mun Murod pukul 20:07.

Penulis: Dwitanto