Wednesday, 1 February 2017

SBY Luruskan Namanya Disebut Saat Sidang Ahok

Jakarta, PenaOne - Nama presiden Republik Indonesia ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) disebut oleh terdakwa dugaan penistaan agama yang juga calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam persidangannya kemarin.

Ahok merasa memiliki perihal percakapan telepon antara Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin dengan SBY pada bulan Oktober 2016 lalu.

Tak mau namanya 'dicatut' oleh Basuki. SBY hari ini meluruskan kabar yang tidak benar itu.

SBY mengatakan, jika dirinya ingin bicara truth atau fakta tanggal 7 Oktober 2016 memang ada pertemuan antara Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni dengan ketua organisasi.

Pada hari itu dijadwalkan Agus dan Sylvi bertemu PBNU dan Muhammadiyah, yang saya tahu tema pertemuan itu Agus dan Sylvi mohon doa restu agar perjuangannya dalam Pilkada DKI berhasil, jelas SBY dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Rabu (1/2/2017).

SBY, yang mendapat gelar 'Wise Person Council' dari negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), menitipkan salam kepada tokoh-tokoh PBNU dan Muhammadiyah itu agar bisa bertukar pikiran mengenai Islam dan dunia.

"Sekarang ini saya adalah satu dari tiga yang disebut wise person council mantan Presiden Turki Gul, mantan Presiden Nigeria Abdussalam, dan saya sendiri, menjadi wise person dari OKI yang pusatnya di Jeddah, Saudi Arabia. Peran untuk memberikan peran dan nasihat kepada OKI tentang masalah di Timur Tengah, Rohingya, dan tempat-tempat lain yang menurut OKI kita harus peduli dan mencari solusi. Dalam konteks itulah kita kapan-kapan bertemu untuk mendiskusikan itu," jelas SBY.

SBY mengaku tidak tahu kegiatan di PBNU itu tak hanya dihadiri oleh KH Said Aqil Siradj, tapi juga Ma'ruf Amin sebagai Rais Aam NU. SBY menegaskan kehadiran Ma'ruf dalam pertemuan itu bukan sebagai Ketua MUI, melainkan Rais Aam NU.

"Saya tidak ikut dalam rombongan itu, saya katakan tidak mungkin Agus dan Sylvi sudah mandiri nanti dikira di bawah bayang-bayang ayahnya. Saya kira tidak baik. Tidak ada kaitannya dengan kasus Pak Ahok, dengan tugas-tugas MUI untuk mengeluarkan fatwa," kata Ketua Umum Demokrat itu.

Dengan alasan itu, SBY menampik tudingan Ahok mengenai intervensinya dalam keluarnya pendapat dan sikap keagamaan MUI. SBY menyebut, karena tidak ikut dalam pertemuan itu, salah seorang staf Ma'ruf menghubunginya menggunakan telepon seluler milik staf tersebut.

"Ada staf, bukan saya yang menelepon Pak Ma'ruf Amin langsung atau Pak Ma'ruf ke saya, yang menyambungkan dengan kaitannya seputar pertemuan itu. Saya ulangi lagi, insya Allah bisa berdiskusi yang lain-lain. Kalau Pak Ma'ruf Amin tidak ada pertemuan lain percakapan langsung saya dengan Pak SBY, untuk menetapkan pendapat keagamaan atau apa pun namanya," papar SBY.

Untuk itu, SBY mempersilakan pihak Ahok mengklarifikasi pendapat dan sikap keagamaan itu dengan pihak MUI. SBY menegaskan pertemuan putra sulungnya, Agus, dan Sylvi dengan PBNU dan Muhammadiyah untuk meminta doa restu.

"Pertemuan Agus dan Sylvi dengan PBNU dan Muhammadiyah kemudian pendapat keagamaan tanyakan saja ke MUI, majelis ulama memang itu ada ketuanya. Selama saya jadi presiden, bertemu lengkap dengan pengurusnya memang segala sesuatunya dimusyawarahkan, silakan ditanyakan apakah pendapat keagamaan itu lahir di bawah tekanan SBY atau siapa pun saya kira mudah sekali. Daripada saya defensif, tanyakan saja langsung. Apakah MUI dalam mengeluarkan pendapat keagamaannya ditekan oleh SBY atau siapa pun," kata dia.