Tuesday, 7 March 2017

7 Anggapan Soal Keguguran yang Sebenarnya Salah

ilustrasi
Jakarta, PenaOne - Keguguran adalah hal yang paling mengecewakan bagi calon ibu. Banyak mitos yang muncul terkait dengan keguguran.

Apa saja mitos keguguran yang ada? Dan apakah mitos keguguran tersebut benar?. Dikutip dari Nimas Mita Etika M hellosehat.com.

Berbagai mitos keguguran yang paling umum, namun sebenarnya salah

1. Perdarahan adalah tanda keguguran

Faktanya, tidak semua perdarahan yang terjadi pada ibu hamil merupakan tanda dari keguguran. Perdarahan adalah hal yang wajar terjad pada kehamilan trimester pertama. Kondisi ini dialami setidaknya 20-40% ibu hamil. Bahkan perdarahan berat yang terjadi saat hamil juga belum menentukan ia mengalami keguguran.

2. Apabila telah mengalami keguguran sekali, maka akan susah untuk hamil lagi

Setelah mengalami keguguran, sering kali ibu merasa takut tidak akan bisa hamil lagi karena telah kehilangan janin sebelumnya. Hal ini tentu saja termasuk ke dalam mitos keguguran. Jika Anda keguguran, jangan khawatir karena Anda masih memiliki kesempatan kedua.

Meskipun memang peluang keguguran pada kehamilan berikutnya meningkat menjadi 20%, tetapi tetap saja Anda masih mempunyai kesempatan.

Jika Anda kembali mengalami keguguran di kehamilan berikutnya maka penting untuk Anda untuk melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan. Semakin sering Anda mengalami keguguran maka peluang untuk mengalami keguguran di kehamilan selanjutnya akan semakin besar, namun bukan berarti menutup kemungkinan Anda untuk hamil.

3. Saya harus menunggu 3 bulan setelah keguguran untuk mencoba hamil lagi

Pernyataan tersebut adalah mitos keguguran. Anda tidak butuh waktu yang lama untuk kembali mencoba hamil. Bahkan sebuah penelitian menyebutkan bahwa seorang wanita dapat kembali hamil satu bulan setelah mengalami keguguran, bahkan dalam beberapa kasus hanya membutuhkan waktu beberapa minggu saja.

Bahkan wanita yang bisa hamil dalam waktu yang cepat setelah keguguran justru mempunyai peluang yang rendah untuk mengalami kondisi hamil di luar kandungan.

Penelitian lain yang juga membuktikan bahwa wanita tidak membutuhkan waktu yang lama untuk hamil kembali adalah penelitian yang dilakukan pada 30 ribu wanita hamil di tahun 2010.

Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa kelompok wanita yang hamil lagi kurang dari 6 bulan setelah keguguran mempunyai peluang yang lebih rendah untuk mengalami keguguran kembali dibandingkan dengan kelompok wanita yang menunggu lebih lama untuk hamil lagi.

4. Keguguran terjadi karena salah ibu

Saat keguguran, yang akan merasa paling bersalah adalah sang calon ibu. Ibu yang merasa kecewa dan tertekan tersebut biasanya akan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah terjadi. tetapi apakah benar keguguran disebabkan oleh kesalahan ibu?

Sebagian besar keguguran terjadi akibat kelainan kromosom dan hal ini terjadi pada 60% kasus keguguran. Sedangkan kelainan kromosom ini tidak ada hubungannya dengan perilaku serta kebiasaan ibu saat hamil. sehingga, ibu tidak seharusnya menyalahkan dirinya akibat keguguran yang terjadi.

5. Mengalami keguguran berkali-kali pertanda wanita tidak subur

Banyak sekali faktor dan penyebab yang mengakibatkan seorang ibu keguguran, contohnya saja masalah atau gangguan tiroid yang dialami ibu, gangguan pertumbuhan janin, atau masalah pembekuan darah yang terjadi pada ibu.

Sebagian besar wanita hanya akan mengalami 2-3 kali keguguran walaupun tetap saja hal ini berbeda-beda pada setiap perempuan dan mereka masih berpeluang untuk hamil kembali. Sehingga pernyataan yang menyebutkan bahwa keguguran berkali-kali pertanda tidak subur merupakan mitos keguguran.

6. Keguguran disebabkan oleh stres fisik atau emosional ibu yang mudah berubah

Sebuah riset pada tahun 2015 di Amerika mengungkapkan sebanyak 64% responden menganggap bahwa keguguran dapat terjadi akibat mengangkat benda-benda yang berat. Bahkan tidak hanya mengangkat beban berat saat hamil, tetapi sebagian bepikiran melakukan olahraga juga dapat mengakibatkan keguguran.

Tetapi hal tersebut tidak sepenuhnya benar dan merupakan mitos keguguran. Hal ini terbukti dalam sebuah studi yang dilakukan di Israel yang membandingkan perbedaan tingkat kejadian keguguran antara wanita hamil yang berada di daerah perang dengan daerah yang aman. Perbedaan kejadian keguguran tidak jauh antara kedua kelompok tersebut, hanya 2% saja.

7. Keguguran tidak bisa dicegah

Walaupun memang susah memprediksi penyebab keguguran, Anda tetap bisa melakukan hal pencegahan agar keguguran berpeluang lebih kecil untuk terjadi. Merokok adalah kebiasaan yang sangat meningkatkan peluang keguguran. Bahkan menurut penelitian, mengisap 10 batang rokok sehari berpeluang sangat besar untuk keguguran – walaupun ayah yang merokok.

Sehingga, sebaiknya ibu hamil menerapkan pola hidup yang baik, memilih makanan yang sehat, dan menghindari berbagai hal yang dapat meningkatkan risiko keguguran.