Wednesday, 29 March 2017

729 Fasilitas Kesehatan Disiapkan untuk Pengidap HIV-AIDS

Jatim, PenaOne -  Human Immunodeficiency Virus - Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV-AIDS) menjadi salah satu penyakit yang mendapat perhatian khusus Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur selain kusta dan tuberkulosis (TBC). Untuk itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Timur telah menyediakan sebanyak 729 Fasilitas Kesehatan (Faskes) untuk melayani pengidap HIV-AIDS.
 
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Masalah Kesehatan Dinkes Jatim, Ansarul Fahruda, mengatakan pengidap HIV-AIDS saat ini tidak perlu disusahkan dengan langkanya Faskes yang menyediakan layanan tes HIV-AIDS. Faskes berupa Rumah Sakit (RS) dan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur sudah bisa dikunjungi pengidap HIV-AIDS.

“Dulu mungkin pengidap HIV-AIDS harus ke rumah sakit tertentu di Surabaya sehingga ada yang enggan memeriksakan diri. Mungkin terkendala jarak atau masih malu dan takut. Mengatasi persoalan itu, kami mengambil langkah penyediaan layanan di Faskes agar pengidap HIV-AIDS bisa didorong mau berobat,” tutur Ansarul pada Jatim Newsroom di Dinkes Jatim, Rabu (29/3/2017).
 
Ia mengungkapkan berdasarkan catatan Dinkes Jatim hingga Desember 2016,  pengidap HIV mencapai 39.034 orang, sedangkan penderita  AIDS sebanyak 17.314 dari kasus HIV. Kasus HIV- AIDS, tambah Ansarul, ditemukan  merata di semua daerah di Jawa Timur. Fakta menarik lain adalah pengidap HIV-AIDS terbanyak berada pada kelompok usia usia produktif yakni usia 15 sampai dengan 24 tahun, dengan komposisi laki-laki 56 persen dan wanita 44 persen.

Dikatakannya, dikutip jatimprov, peningkatan kasus HIV di Jawa Timur dalam lima tahun terakhir sekitar 2 hingga 3 persen. Dinkes Jatim memperkirakan kasus HIV mencapai sebanyak 57.321 kasus. Tiga urutan kabupaten/kota di Jatim dengan penemuan kasus baru HIV terbanyak di tahun 2016 adalah Kota Surabaya sebanyak 954 pengidap, Kabupaten Jember 639 pengidap, dan  Tulungagung 410 pengidap.

Penularan Virus HIV, tutur Ansarul, bisa disebabkan oleh dua faktor diantaranya melalui hubungan seks tidak aman atau heteroseksual dan penggunaan narkoba, seperti psikotropika dan zat adiktif, khususnya yang menggunakan jarum suntik.

Deteksi Dini

Langkah yang terus dilakukan menghadapi peningkatan jumlah pengidap HIV-AIDS adalah deteksi dini. Deteksi dini merupakan upaya Jawa Timur bersama LSM dan masyarakat untuk menemukan pengidap HIV-AIDS, kesadaran deteksi dini dinilai penting karena dapat meminimalisir penularan dan dampak HIV-AIDS dalam tubuh.
 
“Setelah diberi pemahaman dan sosialiasasi, selanjutnya diarahkan untuk menjalani serangkaian proses pengobatan agar tidak semakin parah. Pengidap HIV-AIDS bisa terus berkarya dan produktif jika mau berobat secara teratur,” ujarnya.
 
Tak hanya itu, Pemprov Jatim juga melakukan berbagai upaya untuk mencegah peningkatan HIV. Di antaranya, sosialisasi program penanggulangan HIV-AIDS pada beragam kelompok masyarakat terkait pengamanan darah, deteksi dini pada kelompok rentan, penggunaan alat pelindung, dan pencegahan penularan dari ibu ke anak.

Dinkes Jatim bahkan memberikan fasilitasi inisiasi layanan HIV, melakukan bimbingan teknis, dan supervisi kepada kab/kota dalam rangka menjaga mutu program.  Selain itu,  juga pengembangan layanan komprehensif, advokasi pada para stakeholder dan destigmanisasi bagi pengidap.

Menurutnya, semakin dini diketahui persentase jumlah penderita HIV yang tersebar di masyarakat maka penularan bisa dicegah sedini mungkin terutama untuk kontak terdekatnya. Apalagi saat ini, masyarakat sudah bisa memeriksakan dirinya melalui layanan tes HIV-AIDS di masing-masing kabupaten/kota.

Ansarul menjelaskan, deteksi penderita HIV memerlukan kerjasama berbagai pihak seperti LSM, kader kesehatan dan masyarakat umum. Ia juga meminta dokter, perawat, atau bidan berinisiatif melakukan tes kepada pengidap dengan keluhan diare yang disertai dengan keluhan lain.
 
“Ke depan, kita targetkan setidaknya sebanyak 80 persen bisa dideteksi termasuk mendeteksi dini orang-orang berisiko. Semakin dini kita tahu HIV, sehingga tidak sampai menunggu posisi ke AIDS-nya,” ujar Ansarul.
 
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia, sampai 30 September 2016 jumlah kasus HIV-AIDS di Indonesia sudah mencapai 302.004. Terdiri dari 219.036 pengidap HIV dan 82.968 kasus sudah masuk tahap AIDS. Dilaporkan pula, AIDS sudah merenggut 10.132 jiwa. Angka tersebut merupakan penghitungan secara kumulatif sejak pertama kali HIV dilaporkan terjadi di Indonesia pada 1987.


Upaya mencegah penyebaran HIV/AIDS tak bisa lepas dari pemahaman tentang perilaku seksual. sebanyak 70 persen - 80 persen penularan HIV di rata-rata negara di seluruh dunia, terjadi melalui hubungan seksual yang tidak aman atau berisiko. Sementara sarana penularan lainnya, seperti transfusi darah, penularan dari ibu pada bayi, lewat jarum suntik narkoba dan penularan lewat alat-alat kesehatan hanya menyumbang dibawah 10 persen. (luk)