Friday, 24 March 2017

Anak 98 Minta Kasus Penusukan Alumni UMB Dituntaskan

Ilustrasi
Jakarta, PenaOne - Penusukan yang dialami aktivis mahasiswa 1998 Universitas Mercu Buana (UMB) Jakarta usai menunaikan shalat Isya di Masjid Raya Tiku Pasaman, Sumatera Barat (Sumbar) 22 Maret lalu menyisakan kepedihan yang mendalam sesama aktivis lainnnya.

Peristiwa penusukan yang dialami adr Aznil di lingkungan Masjid Raya Tiku itu menunjukkan kebencian atas nama SARA sudah memicu tindakan kriminal, membahayakan nyawa orang lain, dan berpotensi memicu kerusuhan sosial.

"Fakta di lapangan menunjukkan bahwa Aznil yang merupakan seorang muslim, ditikam di teras masjid usai sholat Isya oleh jamaah lainnya hanya karena sikap Aznil dalam melihat Pilkada DKI. Hanya karena dinilai pernyataanya membela Ahok,  dan membela Ahok adalah tindakan yang dikategorikan Kafir sehingga layak dibunuh," kata Ketua Rumah Gerakan 98 Sayed Junaidi Rizaldi Haloho dalam siaran pers ke Redaksi PenaOne.com Jumat (24/3/2017).

Menuturnya, kalau sebelumnya konflik dikhawatirkan terjadi antar agama,  antar suku dan antar golongan,  kini konflik ternyata tidak lagi pandang bulu,  satu agama pun bisa dibunuh jika berbeda pandangan terkait Pilkada DKI.

Hal ini menunjukkan bahwa kebencian yang terbangun sebagai dampak dari masifnya kampanye dengan menggunakan isu SARA telah meracuni akal sehat pelaku sehingga siap melakukan apapun untuk mencapai tujuannya.  Tidak sekedar melakukan kekerasan verbal,  namun juga fisik bahkan membunuhpun rela dilakukan atas nama kepentingan kelompok belaka.

Lebih jauh lagi dikatakannya, melihat lokasi peristiwa yang jauh dari DKI maka dapat disimpulkan bahwa penyebaran kebencian dan isu SARA ini sudah sangat masif dan dikhawatirkan juga masuk di sekolah hingga meracuni generasi muda kita.

Kepala anak dan hati anak anak kecil dan dibawah umur itu sudah merasuk kebencian SARA. Anak anak kecil dan dibawah umur itu akan "dipaksa"untuk membenci sesama manusia hanya karena perbedaan etnis dan agama.

Pihaknya meminta polisi khusunya Polda Sumatera Barat mengusut tuntas pelaku penikaman terhadap saudara Aznil dan memberikan hukuman tegas terkait tindakan kriminal yang dilakukan.

"Agar polisi dan istansi terkait bersikap tegas menindak para pelaku penyebar SARA dan ujaran kebencian yang terbukti telah merusak kedamaian yang selama ini terjaga," ujarnya.

Jika polisi dan instasi terkait membiarkan hal itu maka bisa dikatakan polisi dan instansi terkait melakukan pelanggaran HAM dengan bentuk pembiaran terjadinya intimidasi terhadap hak hak politik Rakyat.

"Menuntut negara untuk melindungi setiap perbedaan sikap politik dan keyakinan ber Agama agar bebas dari intimidasi," kata dia.

Ia meminta Kapolri Tito Karnavian memecat Kapolda Sumbar jika tidak mampu menuntaskan kasus ini.

"Tuntaskan kasus sahabat kami ini. Jika tidak, kita minta Kapolri memecat Kapolda Sumbar," tegasnya.

Berikut kronoligis penikaman Aznil di Masjid Raya Tiku tanggal 21 Maret 2017:

Jam 18.30

Selesai menemani buyer survei minyak nilam di Simpang Empat Pasaman, saya sampai di Masjid Raya Tiku untuk melaksanakan sholat Maghrib berjamaah bersama Masril.


Jam 19.45

Selesai sholat Magrib, saya mengajak Sekretaris Masjid Raya, Yosfiandra makan malam di rumah makan yang tidak jauh dari Masjid.


Jam 19.08 - 19.40

Saya, Yosfiandra dan Masril makan malam bersama sekaligus berdiskusi tentang akhlak islam.


Jam 19.45

Kami bertiga berangkat ke Masjid Raya Tiku untuk melaksanakan sholat Isya berjamaah.


Jam 19.45

Saya melihat Idham F ada didalam masjid menatap saya dengan wajah sangar.

Idham F adalah orang kampung saya dan yang saya kenal pernah mengancam akan membunuh saya melalui Surat Terbuka di FB atas sikap politik saya pro Jokowi dan Ahok. Apalagi akhir-akhir ini status FB saya dianggap mendukung Ahok pada Pilkada DKI.


Jam : 19.45 - 20.10

Aznil Sholat Isya berjamaah dan juga melaksanakan shalat sunat.


Jam : 20.05 - 20.15

Selesai melaksanakan sholat isya dan sholat sunat, Aznil mengobrol-ngobrol beberapa jamaah dan bertelur sapa.

Seorang jamaah bernama Daman Guru berbincang tentang penyakit yang dideritanya dengan Aznil.

Saat Aznil  berbicara dengan Daman, tiba-tiba orang bernama Idham F itu mengejar dia lalu berteriak,

"Lai sholat juo waang mah, anjiang (ternyata anda sholat juga, anjing)".

"Emang anda saja yang sholat" jawab Aznil.

"Manjawok waang anjiang. Aden tikam waang beko(menjawab lu anjing. Saya tikam kamu)" tiba-tiba dia menghujamkan tangannya ketubuh Aznil.

Perut sebelah kiri Aznil tersusuk pisau diujamkan oleh Idham.

Dia lalu mengejar Aznil  kembali untuk menikam mengarah ke dadanya dengan teriak, " matilah waang pembela kafia (mati kau pembela Ahok kafir)"

Tikam ke dua mengarah ke dadanya  Aznil  berhasil mengelak dan mundur ke belakang.

Ketika dia mau mengejar Aznil kembali, seorang tukang parkir masjid bernama Mul berlari memisahkan mereka.

Dia pun marah ke tukang parkir, "waang jan ikuik campur lo. Waang lo den tikam (kamu jangan ikut campur. Nanti saya tikam juga kamu)".

Jamaah masjid yang rata-rata orangtua terlihat ketakutan dan tidak berani memisahkan.

Orang bernama Idham itu kembali mengejar Aznil untuk mengunjamkan pisaunya tapi berhasil dielakan Aznil.


Jam : 20.10 - 2015

Terlihat Aznil diperutnya keluar usus dan dia memegangnya dan memasukan kembali kedalam. Dia berjalan menuju ke mobilnya yang parkir di halaman masjid dan meminta Masril membawanya ke Puskesmas Tiku.

Setelah mendapat pertolongan pertama dari Puskesmas lalu saya dibawa sama ambulance ke Rumah Sakit Lubuk Basung untuk tindakan intensif


Jam : 23 00 WIB tanggal 22 Maret 2017 sampai kronologis dibuat, hasil keputusan teman2 saya yang tanpa lelah menjaga saya akhirnya memutuskan untuk membawa saya ke rumah sakit Yarsi Bukittinggi untuk perawatan lebih lanjut.


Penulis: Dwitanto