Selasa, 28 Maret 2017

Medsos Bikin Anak Cemburu

Semarang, PenOne - Kemudahan menggunakan media sosial melaluismartphone membuat banyak orang kecanduan menggunakannya, termasuk para orang tua. Bahkan disadari atau tidak terkadang mereka mengabaikan anaknya.

“Saat Musrenbang di eks Karesidenan Semarang, forum anak menyampaikan Pak gub mbok orang tua-orang tua itu diingatkan. Saben dina facebook-an terus. Ternyata media sosial bikin anak cemburu. Karena bapak ibunyasaben dina kelonan HP (hand phone). Ibu ngeloni HP, bapaknya ngeloni HP.Anaknya nggak dikeloni, sehingga anaknya jealous,” kata Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP, dalam acara Pelantikan Pengurus Fatayat NU masa khidmat 2016-2021 dan Rapat Kerja Wilayah se-Jawa Tengah di Hotel Semesta, kemarin.

Orang nomor satu di Jawa Tengah itu kemudian menceritakan video diyoutube yang tengah menceritakan anak-anak yang sedang menyampaikan cita-citanya. Dalam vidoe itu ada satu anak perempuan kecil, yang tengah mencoret-coret kertas tidak jelas. Ketika ditanya cita-cita dia, anak itu menyampaikan ingin menjadi handphone.

“Kenapa ingin jadi handphone? Karena bapak saya mau tidur ngeloni handphone, bangun tidur sing digoleki handphone. Ibunya podho wae. Anak-anak sekarang itu merasa. Coba perhatikan,” pinta dia

Handphone (smarthone), imbuh bapak satu putera ini, memiliki dua sisi yang sangat berlawanan. Sebesar 50 persen sisinya baik, karena memudahkan mendapat informasi dan bekerja. Namun, 50 persennya lagi sangat kejam. Sebab, semua informasi yang muncul tidak ada pihak lain yang memfilter. Yang mampu memfilter hanya keimanan, rasionalitas yang tinggi dan akar budaya yang dimiliki Indonesia.

“Ini saya ingin sentuh ibu-ibu. Karena memang saya kira ibu yg punya kekuatan dahsyat. Ibu dengan kadang-kadang judes, galak, tapi sebenarnya itu ekspresi bagaimana dia harus mendekap anaknya untuk kemudian diharapkan anaknya berada di jalan yang benar,” urai Ganjar dikutip jatengprov.

Sementara itu Ketua Fatayat NU Jawa Tengah Hj Tazkiyyatul Muthmainnah SKM mengatakan, organisasinya juga konsen terhadap masalah-masalah perempuan dan anak. Dia membeberkan, Fatayat memiliki lembaga yang konsen pada pemberdayaan perempuan dan perlindungan perempuan dan anak. Perempuan berperawakan mungil itu juga menyebut, Fatayat peduli dengan masalah yang kerap dihadapi tenaga kerja wanita.

“Karena TKW sebagian berasal dari desa, sementara di grassroot kita juga ada di situ. Artinya, TKW juga banyak warga Fatayat. Bahkan di Hongkong dan Taiwan ada pimpinan cabang fatayat istimewa,” ungkap dia.

Fatayat NU ingin fokus pada masalah TKW karena tidak menginginkan anggotanya bekerja di luar negeri hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Ketika terpaksa bekerja di luar negeri, anggota Fatayat mesti memiliki skill memadai.

“Kami ingin mengadvokasi teman-teman yang ke sana harus punya skill. Kalaupun harus ke sana, dia juga harus tahu bagaimana menjaga diri. Bentuknya pelatihan, workshop dan kita kerja sama dengan BP3TKI untuk konsen terhadap masalah TKI,” tutupnya.