Kamis, 06 April 2017

Mantan Bek Persija Ditangkap atas Kasus Match Fixing di Malaysia

Kuala Lumpur, PenaOne - Komisi Anti Korupsi Malaysia (MACC) pada Rabu (6/4/2017) menangkap dan menahan tiga pesepak bola. Tiga pemain itu diciduk karena diduga terlibat dalam match fixing(pengaturan pertandingan) di kompetisi Negeri Jiran.

Tiga pesepak bola itu memiliki kisaran usia 26 dan 27 dan salah satunya berstatus pemain asing. MACC dalam keterangannya, masih akan menahan tiga pemain itu hingga 12 April 2017 untuk kepentingan penyelidikan.

Sementara rata-rata media lokal Malaysia belum menyebut nama tiga pesepak bola itu, Malaymail Online pada Kamis ini membuka identitas tiga pemain yang diduga terlibat itu. Ketiganya merupakan pemain dari klub MISC-MIFA yang merupakan kontestan Malaysia Premier League 2017.

Ketiga pemain itu adalah Mohd Khairul Izzuwan Saari (kiper), S. Harivarman (bek), yang merupakan warga negara Malaysia. Satu lagi merupakan warga negara Argentina, yakni Alan Aciar.

Keberadaan nama terakhir itu tentu mengejutkan karena publik sepak bola Indonesia cukup mengenal sosok Alan Aciar. Alan Aciar berseragam Persija Jakarta pada 2015.

Secara khusus, Alan Aciar bergabung dengan MISC-MIFA pada awal musim ini. Ia dikontrak bersamaan dengan pesepak bola Indonesia, Steven Imbiri, dengan durasi kontrak satu tahun.

Seperti dilansir dari New Straits Times, Kamis (6/4/2017), dugaan match fixing ini justru dilaporkan oleh manajemen MISC-MIFA. Klub berjulukan The Indian ini merasa janggal dengan hasil rentetan enam kekalahan dari sembilan partai, termasuk saat kalah 3-6 dari Sarawak FA di ajang Piala FA pada 14 Februari 2017 dan saat dilibas 2-7 oleh Universiti Teknologi Mara pada 3 Maret 2017 di ajang Premier League 2017.

"Sebagai Presiden MIFA, saya ingin menegaskan lagi bila MIFA tidak pernah goyah dalam mempertahankan standar tinggi terkait integritas dan transparasi dalam mengelola manajemen tim," kata Datuk T. Mohan, Presiden MIFA.

"MIFA berkomitmen untuk selalu konsisten menjaga praktik olahraga khususnya sepak bola agar senantiasa dalam level terbaik."

"Kami datang untuk mengetahui kemungkinan beberapa pemain kami terpengaruh pihak luar untuk memengaruhi hasil pertandingan. MIFA lantas membentuk komite independen untuk menyelidiki dugaan ini dan hasil penyelidikan komite ini dilaporkan ke pihak yang berwenang untuk diselidiki lebih jauh," beber sang presiden klub.

MACC menduga ketiga pemain itu menerima uang berkisar 10 ribu hingga 30 ringgit (Rp 30 juta-Rp 90 juta) dari bandar untuk memengaruhi hasil pertandingan.

Sumber di MACC mengungkapkan selain tiga pemain itu, ditengarai lebih banyak lagi pemain yang ikut terlibat dalam perbuatan yang mencoreng sportivitas itu. Dikutip bola.com, MACC menegaskan akan terus melakukan penyelidikan hingga semua pelaku tertangkap.

"Ini jadi peringatan bagi siapapun, untuk menghentikan aktivitas (match fixing) ini. Mungkin ada orang-orang tertentu yang tidak terdeteksi oleh MACC, tapi begitu kami tahu, kami akan selidiki dan implikasi dari perbuatan itu mungkin bisa berujung pada larangan bermain seumur hidup," tegas Datuk Azam Baki, Wakil Komisaris MACC. (nah)