Saturday, 15 April 2017

Sadis, Siswi SMA Ini Diusir dan Tak Boleh Ikuti UNBK Karena Hamil

ilustrasi
Medan, PenaOne - Ironis, sudah jatuh ketimpa tangga lagi, pepatah inilah yang dialami seorang siswi berinisial NW (16) yang hamil setelah menjadi korban pencabulan oleh pacarnya berinisial AS (24) Jalan Antariksa, Kelurahan Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia, Sumatera Utara.

Tak hanya itu saja, NW juga diusir pihak sekolah saat akan mengikuti Ujian Nasional Berbasis Kompetensi (UNBK)  karena karena kondisinya yang sedang mengandung.

Ironisnya lagi, AS sebagai pelaku pencabulan tersebut juga tidak mau bertanggungjawab atas perbuatannya. Padahal, pihak keluarga sudah membicarakan persoalan ini secara kekeluargaan.

Kisah tragis ini terungkap saat  Komisi Perlindungan Anak (KPA) Kota Medan mendatangi kediaman orang tuanya.

Dihadapan petugas dari KPA Kota Medan ini, NW tidak dapat menyembunyikan depresinya. Ia berkali-kali menangis saat menceritakan keinginannya untuk dapat mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang menjadi syarat terakhirnya untuk memperoleh ijazah SMA.

"Saya sangat ingin ikut ujian nasional, supaya bisa mendapat ijazah SMA," katanya, Jumat (14/4/2017).

NW sendiri saat ini telah melahirkan bayi laki-laki hasil perbuatan AS yang diharapkannya bertanggungjawab.

Namun NW sendiri tidak sanggup melanjutkan ceritanya mengenai rencananya bersama bayinya tersebut.

Orang tua NW, DS mengatakan mereka sudah kebingungan untuk "memaksa" AS bertanggungjawab atas bayi laki-laki yang kini sudah berusia 10 hari tersebut. Upaya penyelesaian masalah lewat jalur kekeluargaan menurutnya sudah ditempuh dengan mendatangi pihak keluarga AS.

Namun hasilnya, pihak keluarga AS menolak penyelesaian dengan cara kekeluargaan tersebut.

Laporan Mengambang

Karena kebingungan DS mengaku pihaknya bahkan sudah mengadukan hal ini kepada pihak kepolisian di Polsek Medan Baru yang ditandai dengan keluarnya surat STTLP/116/II/2017/SPKT SEK MEDAN BARU tertanggal 27 Januari 2017.

"Tapi sampai sekarang tidak ada respon dari pihak kepolisian, pelaku masih berkeliaran dikampung ini. Kami sepertinya tidak punya tempat mengadu lagi," ujarnya menyeka air mata.

Mendengar pengakuan dari pihak keluarga tersebut, Sekretaris KPA Kota Medan John Suhairi berjanji akan mendampingi pihak keluarga untuk menyelesaikan persoalan ini.

Mereka juga mengecam lambannya pihak Polsek Medan Baru dalam menangani pengaduan dari pihak keluarga.

"Ini kasus kekerasan terhadap orang yang masih berstatus anak. Dia sudah dikeluarkan dari sekolah dan tidak bisa ikut ujian, dan kemudian pengaduannya terkesan diabaikan oleh polisi. Ini persoalan, kami akan serius menangan ini," katanya didampingi pokja Medan Johor Siti Aisyah, Pokja Medan Petisah Aminoer Rasyid, Pokja Medan Maimon Oki Katila Sitorus, Wakil ketua KPA Kota Medan, Heri Wahyudi dan wakil ketua bidang hukum dan Advokasi, Nurman Afandi SH. MH.

Mengenai batalnya NW mengikuti ujian, KPA Kota Medan akan menyurati Dinas Pendidikan Kota Medan agar membantu korban untuk mengikuti ujian susulan.

"Apakah ikut ujian paket C atau lainnya, kita akan datangi Dinas Pendidikan Kota Medan. Semoga hal ini bisa selesai," ujarnya.

Sementara, dikutip HNN Indonesia, mengenai lambannya penanganan terhadap pengaduan keluarga korban, KPA Kota Medan juga berencana mendatangi Polsek Medan Baru untuk mempertanyakan kendala dalam memproses pengaduan tersebut termasuk menangkap AS. (roi)