Minggu, 07 Mei 2017

Antara Kentut, Ketua KPK dan OSO

KENTUT  itu adalah  mekanisme normal tubuh dalam kaitan dengan gas dalam usus. Kentut baunya busuk. Bahkan ada yang busuk sekali. 

Meski ini mekanisme normal, tapi janganlah kita kentut di depan umum. Apalagi jika kita orang yang dihormati karena memiliki posisi terhormat. Karena itu berarti kita kurang tahu adab dan sopan santun. 

Kita semua punya kewajiban sekaligus hak untuk kentut/membuang gas bau busuk itu. Tapi ketika dilakukan ditempat umum,  kita akan dinilai tidak sopan dan memiliki nilai etis yang sangat rendah. 

Begitu juga dengan pikiran. Meski pikiran itu benar, tapi tidak semua pikiran harus anda sampaikan di depan umum. Karena boleh jadi  itu menimbulkan ketersinggungan,  keresahan dan ketidaknyamanan umum.

Pernyataan Ketua KPK Agus Rahardjo terhadap Oesman Sapta Odang (OSO) berkaitan dengan rangkap jabatan  Ketua Partai Politik sebagai Ketua Lembaga Negara DPD RI adalah pernyataan yang sama sekali tidak memiliki dasar. Keliru dan 1000% salah. 

Karena tidak ada satupun Undang-undang (UU) di negara ini yang melarang pimpinan atau Ketua Partai Politik untuk menjadi Anggota bahkan Ketua Lembaga Negara, dalam hal ini DPD RI.

Kembali ke pernyataan Ketua KPK, apakah karena ketidakpahaman tentang UU yang mengatur tentang DPD RI atau karena memang memiliki agenda politik tersembunyi untuk menghancurkan KPK dari dalam.

Namun, yang jelas pernyataan Ketua KPK ibarat Kentut Didepan Umum. Sebuah tindakan yang tidak sopan, yang bau busuknya telah mengganggu kenyamanan umum dan tercium kedalam ruangan-ruangan Kantor KPK itu sendiri.

#savekpkdariupayamenghancurkandaridalam.

Oleh: Benny Rhamdani 
Senator/Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Sulawesi Utara