Minggu, 28 Mei 2017

Antisipasi ISIS Masuk, Ini yang Dilakukan Ormas Sulut

Manado, PenaOne - Peristiwa kontak senjata antara angkatan bersenjata Filipina dengan kelompok Maute yang berafiliasi dengan ISIS di Marawi, Filipina Selatan disikapi dengan sikap siaga oleh organisasi masyarakat adat (Ormas Adat) terbesar di Sulawesi Utara, Brigade Manguni Indonesia (BMI).

Panglima BIBMI (Badan Intelijen Brigade Manguni Indonnesia) Adv. E.K. Tindangen, SH ditemui Sabtu (27/05), menginstruksikan ke seluruh Kepala BIBMI di Kabupaten/Kota di Sulut agar menyiagakan Satuan Tugas Intelijen (Satgas Intel) di daerah perbatasan dan pesisir.

“Perlu di ingat, jarak Mindanao hanya 5 jam lewat laut dan 10 menit lewat udara ke kabupaten terdekat, yakni Talaud dan Sangihe. Kepala BIBMI di Kabupaten/Kota harus memberi perhatian khusus ke wilayah pesisir dan perbatasan,” jelas Tindangen.

BIBMI harus bisa melakukan deteksi dini terhadap paham-paham dan pengaruh separatis dan radikalis yang menyusup masuk ke Sulut, tambah Tindangen.
Lebih lanjut, Tindangen juga menghimbau pemerintah agar kembali mengaktifkan Mapalus Kamtibmas hingga di tingkat lingkungan.

“Sebaiknya, pemerintah propinsi dan Kabupaten/Kota kembali mengaktifkan Mapalus Kamtibmas hingga tingkat lingkungan. Ini sebagai salah satu cara mengantisipasi lebih dini,” imbau Tindangen.

Untuk Satgas Intel BIBMI, Tindangen menginstruksikan agar segera melakukan koordinasi.

“Saat di lapangan, Satgas BIBMI silahkan berkoordinasi dengan TNI dan Polri. Lakukan semua tindakan sesuai protap pihak yang berwenang,” tegas Tindangen.
Jangan gegabah dan utamakan keselamatan diri, tambahnya seperti dikutip fajarmanado.

Sementara itu, untuk WNI yang berada di Filipina, terutama di daerah konflik, tetap taati himbauan pemerintah Filipina dan juga himbauan yang disampaikan Konsulat Jenderal (Konjen) RI.

Informasi ISIS merebut kota Marawi di Filipina Selatan merebak setelah media lokal Filipina memberitakan baku tembak terjadi ketika polisi dan tentara bergerak untuk melaksanakan perintah penahanan seorang pemimpin kelompok Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon.

Kelompok Maute yang berafiliasi dengan ISIS kemudian menyerbu Kota Marawi sebagai bentuk respons atas rencana penahanan tersebut.

Pada Selasa (23/05/2017) malam, Presiden Rodrigo Duterte pun memberlakukan darurat militer di Mindanao, Filipina Selatan, menyusul baku tembak antara tentara Filipina dan kelompok bersenjata di Kota Marawi. (bian)