Tuesday, 30 May 2017

Kata Andar, Panglima TNI Paling Tahu Soal Pesawat AW 101

Andar Situmorang
Jakarta, PenaOne - Panglima TNI Gatot Nurmantyo dinilai orang yang paling bertanggung jawab atas kasus dugaan korupsi pembelian helikopter AgustaWestland (AW) 101 yang menurut perhitungan sementara ditemukan kerugian negara sekitar Rp 220 miliar dari nilai proyek Rp 738 miliar.

"Seharusnya Gatot Nurmantyo bersikap ksatria dan bertanggung jawab. Undang-undang RI Nomor 34 Tahun 2004 Tentang TNI menyebutkan jika Panglima TNI adalah Perwira tertinggi yang memimpin TNI.  Klausul itu ada dalam pasal 1 butir 10 UU dimaksud," kata Direktur Eksekutif Govermaint Again Coruption and Discrimination (GACD) Andar Situmorang di Jakarta, Selasa (30/5/2017).

Panglima TNI Gatot Nurmantyo dan Ketua KPK Agus Rahardjo saat memberikan keterangan pers di kantor KPK. foto@Puspen TNI

Menutut Andar, dalam Bab VIII Soal Pembiayaan pasal 66-69 dalam UU Nomor 34 Tahun 2004 itu juga menyebutkan pada prinsipnya, dukungan anggaran TNI dalam tanggung jawab Panglima TNI.

"Panglima TNI mengajukan anggaran kepada Menteri Pertahanan yang berasal dari dana APBN. Lantas Menteri Pertahanan meminta persetujuan ke DPR. Jadi mustahil jika Panglima TNI tidak mengetahui dugaan korupsi helikopter AgustaWestland (AW) 101 itu," ujar Andar.

Andar mengingatkan agar KPK dan TNI tidak ikut dalam permainan politik di negara ini.

Sehingga KPK akan jauh dari inetrvensi politik manapun. "TNI pun jangan juga berpolitik".

"Biarkan KPK bekerja secara maksimal jauh dari intervensi manapun," tegasnya.

Pada Jum'at (26/5/2017) Ketua KPK Agus Rahardjo, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Kepala Staf TNI AU Marsekal Hadi Tjahjanto menggelar jumpa pers di Gedung KPK Jakarta.

Gatot Nurmantyo mengumumkan penetapan tiga tersangka dalam kasus pembelian helikopter AgustaWestland (AW) 101.

Ketiga tersangka diduga menyalahgunakan wewenang sehingga menimbulkan kerugian negara yakni Marsma TNI FA selaku pejabat pembuat komitmen (PPK), dan Letkol. Adm TNI WW selaku pemegang kas dan Pembantu Letnan Dua (Pelda) SS yang berperan menyalurkan dana pada pihak tertentu. (tim redaksi)

Andar meminta KPK agar menuntaskan sejumlah kasus dugaan korupsi yang pernah dilaporankannya beberapa tahun lalu.

"Kami LSM GACD  mempertanyakan status hukum penyelidikan dugaan korupsi  KTP senilai Rp 2,9 triliuan, korupsi pengadaan baju hansip di Depdagri sebesar Rp520 Miliar, pengadaan gerbong keteta api oleh Hatta Radjasa senilai Rp750 Miliar dan dugaan korupsi Mendikbud Anies Baswedan senilai Rp146 Miliar yang sudah kami laporkan ke KPK," pungkas Andar Situmorang.