Kamis, 01 Juni 2017

ASN Kantor Bea dan Cukai Atambua Ditambah 100 Orang

Atambua, PenaOne - Kepala  Kantor Wilayah Bali Nusra, Syarif Hidayat ketika menggelar peletakan batu pertama kepada  pembagunan gedung Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pembean B Atambua, Kabupaten Belu, Provinsi NTT, di Kelurahan Manumutin, Kecamatan Kota Atambua, Selasa pekan kemarin, mengatakan, aparat Abdi Sipil Negara (ASN) Kantor Bea dan Cukai perlu memberikan pelayanan yang optimal dan prima kepada pemerintah RI di wilayah perbatasan RI-RDTL. Kantor lama Bea dan Cukai dibangun di area pelabuhan Atapupu. Dan, sekarang akan menaikan statusnya dari tipe Pratama menjadi tipe Madya.Sehingga jumlah ASN pun bertambah dari 30 orang menjadi 100 orang,” tutur Hidayat.

“Saya berharap agar kedepan aparat ASN Bea dan Cukai Atambua bisa meningkatkan pelayanan prima bagi pemerintah  RI di wilayah perbatasan RI- RDTL serta menjaga kedaulatan NKRI,” pintanya.

Dia pun menggungkapkan, kerap terjadi pelintas barang antar negara  di wilayah perbatasan kerena lebih banyak ekspor ke negara tetangga Timor Leste. Yakni kebutuhan Sembako. Kelontong, Aqua, logistik, makanan dan minuman, bahan bangunan semen meningkat 90 persen.Sedangkan Impor  dari negara Timor Leste adalah kopi, vanili, coklat dan hasil bumi lainnya.

“Kita berharap agar ekspor lebih  besar  daripada impor agar mendatangkan keuntungan bagi negara dan lebih khusus kepada warga kabupaten Belu. Oleh karena itu, kedepan pemerintah daerah dan pusat berupaya agar pabrik hasil bumi dan lainnya bisa ada di wilayah perbatasan.Sebab, selama ini barang ekspor ke Timor Leste berasal dari luar NTT, pulau Jawa, misalnya,” ujar Hidayat kemarin.

Menurut Hidayat, Kabupaten  Belu jangan hanya dijadikan kota transit saja tetapi paling tidak barang kebutuhan pokok perlu dikelola di Kota Atambua untuk meningkatkan perekonomian warga di perbatasan.

Untuk mencegah terjadinya  aksi punggutan liar (Pungli) ilegal di perbatasan, kata Hidayat, kedepan kantor Bea dan Cukai akan menempatkan 8 orang ASN selama satu bulan secara bergilir sehingga barang yang masuk dan keluar ke negara Timor Leste menjadi semakin kecil pontensi pungli.

Acara  peletakan batu pertama diawali dengan pemberkatan tanah dan batu oleh Romo Yoris Giri,Pr  dari Paroki St. Stela Maris Atapupu dan dipandu dengan ritual adat oleh tokoh adat Belu. (bian)

Sumber: metrotimor.com