Rabu, 14 Juni 2017

Onde Mande, Pariwisata Sumbar Terancam Jalan Ditempat

Padang, PenaOne - Kondisi iklim industri pariwisata Sumbar terancam, pasalnya menanam modal di kawasan wisata Mandeh dianggap beresiko dan dilematis oleh banyak investor

Padahal kemolekan Kawasan Wisata Mandeh sangat dibutuhkan sentuhan tangan dingin investor agar Mandeh sejajar dengan Raja Ampat di Pulau Irian.

Terbukti sampai hari ini realisasi rencana investasi untuk kembangankan Kawasan Wisata Mandeh Terpadu (KWMT) masih terkendala.

Menurut Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Sumbar Raseno Arya, realisasikan rencana investasi bagi pengembangan Kawasan Wisata Mandeh Terpadu (KWMT) Perairan Laut di Kawasan Mandeh.

“Banyak kepentingan pribadi di Kabupaten Pesisir Selatan, sehingga mempercepat Mandeh dari Jakarta atau dari Provinsi Sumbar sendiri sulit,”ujar Raseno

Padahal, sebelumnya KWMT Mandeh disebut-sebut sebagai Raja Ampat di Bagian Wilayah Barat Indonesia, dan digadang-gadang jauh-jauh hari Kementerian Pariwisata bersama Provinsi Sumbar Dan semua kabupaten dan kota di Sumbar dan ammazing Mandeh berpotensi menjadi penarik investor dalam dan luar negeri.

“Jangan soal bangun Mandeh hanyo bacarito carito (cerita-cerita) saja harus action dan bukti yang dibutuhkan supaya Mandeh menjadi destinasi nasional,”ujarnya.

Mandeh itu rencana investasi dari Raja Arab King Salman Abdul Aziz tapi batal padahal Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Arief Yahya saat itu, sudah memastikan bahwa pihak Saudi Arabia tertarik dengan pariwisata di Sumatera Barat sebagai destinasi wisata di Indonesia.

“Sehingga waktu itu Pak Menteri gerak cepat menerima masukan dari berbagai pihak agar membuat terobosan untuk Wisata Mandeh Sumatera Barat. Karena memang mereka (Saudi Arabia) sangat tertarik masuk pada sektor pariwisata di daerah itu, eee akhirnya tidak jadi apa alasannya saya pun tidak tahu” cerita Raseno yang juga puteta Sumbar ini.

Menurut Raseno terlalu banyak kepentingan pejabat dan elite baik di Sumbar maupun di Pessel soal Mandeh ini.

“Maka akibatnya pengembangan Mandeh berjalan seperti siput dan ini suram bagi dunia investasi pariwisata,”ujarnya.

“Saya sebenarnya bangga walaupun menyambut bangga menanggapi pernyataan dari berbagai kawan-kawan itu kondisi yang terjadi. Objek-objek wisata Mandeh arus banyak dibenahi, pejabat daerah jangan berharap ke pusat, benahi di bawah, seperti hotel, jalan wisata Mandeh,”ujarnya.

Sebenarnya kata Raseno untuk menata dengan rapi pejabat di daerah jangan terlalu kedepankan kepentingan pribadi.

“Mempercepat Mandeh kini tidak mudah lagi, kita arus banyak membuat terobosan dengan berbagai pihak terkait ingin majukan Wisata Mandeh, Saya selaku urang Padang asli tentu saya ingin bangin kampung saya maju di sektor pariwisata ini,”ujarnya

Perencanaan Mandeh tahun ini apa lalu kata Raseno mana yang dikerjakan. “Mari kita buktikan bersamalah biar kalangan banyak bisa menilai, jangan ini jadi bahan cerita kosong di kemudian hari saja” tegas Raseno

Raseno mengakui kalau dia sudah  bergeilimang soal wisata di seluruh Indonesia.

“Kuncinya komitmen, fokus dan satu visi pasti cepat tuntasnya Mandeh,”ujarnya.

Kalau sudah begitu pola percepatan Mandeh gagal juga itu gagal bersama. “Tidak ada saling menyalahkan,”ujarnya.

Menurur Raseno untuk destinasi iven sekelas Tour de Singkarak sekalipun tidak ada Superman itu kerja bersama.

“Walau awalnya TDS gagasan saya tapi tetap dibicarakan bersama dan menjadi program bersama Kementerian Pariwisata dan Pemprov Sumbar serta Pemkab dan Pemko di Sumbar, kita kedepan mengatakanbTdS milik Sumbar semua,”ujarnya seperti dikutip tribunsumbar.com (bilal)