Sabtu, 03 Juni 2017

Pak Jokowi....Ini Kendala Pendidikan di Sorong Papua

ilustrasi
Sorong, PenaOne - Untuk ‘merubah’ alam berpikir seseorang agar menjadi lebih baik, tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Dengan melalui jalur pendidikanlah jalan satu-satunya agar seseorang dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Masalah pendidikan di tanah Papua masih saja mendapat masalah yang harus diatasi Pemerintah dengan baik, terkait layanan pendidikan dengan kekurangan guru sekolah dasar dan menengah di daerah-daerah Pedalaman yang mengakibatkan proses pembelajaran tidak dapat berlangsung dengan baik.

Bagaimana sumber daya manusia (SDM) dapat ditingkatkan sedangkan di beberapa perkampungan di Kabupaten Sorong masih terdapat pendidikan yang sangat memprihatinkan. Berbagai persoalan sering bermunculan, baik dari pihak pengajar (guru), murid (siswa) maupun sarana inrfastruktur dasar.

Seperti yang temukan oleh Bernadus Ferdinandus, salah satu petugas dari UNICEF. Kata Bernadus, sejak bertugas mendampingi SD Inpres 50 Nanjemor, Kabupaten Sorong. Dia mendapati para pengajar yang tidak mempunyai tempat tinggal, hal inilah yang membuat para guru enggan melakukan proses belajar mengajar dengan baik, akhirnya para siswa menjadi korban.

Menurut Bernadus yang ditemui, Jumat 2/06/17), keberadaan rumah guru di Kampung Nanjemor sangat penting, agar guru bisa tinggal menetap sehingga dapat melayani anak-anak di kampung tersebut.

Bernadus pun akhirnya berinisiatif bersama warga membangun rumah guru. Untuk pembangunannya, dibuatlah tiga unit bangunan yang terdiri dari 10 kamar untuk guru SD Inpres 50 dan guru SMP satu atap Nanjemor. “Pembangunan rumah ini dari hasil swadaya, mulanya saya membeli pasir dan batu setelah itu para guru yang menjadi tukangnya,” ujar Bernadus.

Masalah lain yang dihadapi adalah, selain tidak adanya rumah bagi guru, para murid kebanyakan enggan bersekolah, karena sejak pagi para orang tua sering membawa anak-anaknya ke kebun.

“Yang menjadi kendala di SD Nanjemor, bukan gurunya tetapi murid yang seringkali tidak masuk sekolah karena diajak orang tuanya ke kebon ataupun ke kota hingga berminggu-minggu sehingga tidak bisa sekolah,” jelasnya.

Tak hanya di Nanjemor. Hal serupa ditemukan oleh petugas UNICEF lainnya. Seperti yang diungkapkan Sarmi dan Nur Hayyu. Sarmi menceritakan kisahnya selama bertugas di kampung Malabam dan Klayas.

Menurut Sarmi, di dua kampung tersebut (Malabam dan Klayas) para muridnya sangat antusias untuk mengikuti proses belajar, sayanganya justru guru-gurulah yang jarang di tempat tugas dikarenakan transportasi yang sulit.

Meski begitu, sebagai tenaga pendampingan dari UNICEF, Sarmi dan rekannya Nur Hayyu tetap menjalankan tugas dengan baik. Oleh karena itu, dirinya berharap perhatian khusus pemerintah agar lebih meningkatkan infra stuktur dasar baik jalan maupun perumahan para guru. (bian)

Sumber: sorongraya.com