Monday, 31 July 2017

DIY Musti Kembangkan Industri Pariwisata Dukung Bandara Baru

Kulon Progo, PenaOne - Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki pekerjaan rumah membangun dan mengembangkan "industri pariwisata" sebagai daya dukung adanya bandara baru di Kabupaten Kulon Progo yang ditargetkan mulai beroperasi 2019.

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Dinas Pariwisata di lima kabupaten/kota, khususnya Kabupaten Kulon Progo harus segera menyiapkan sumber daya manusia (SDM) sektor pariwisata yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris dan Mandarin sebagai bahasa ibu.

Saat ini, trend terbaru wisatawan berasal dari Tiongkok, Australia, Jepang, Amerika dan Eropa. Pariwisata membutuhkan pemandu wisata yang mahir berbahasa Mandarin.

Genderal Manajer Komersial Bandara I Gusti Ngurah Rai Rahardhian Dewanto Yogisworo di Kulon Progo, Senin, mengatakan pengelolaan airport mencakup "golden triangle" yakni airline, airport dan pemda. Ketiganya harus bersinergi supaya industri pariwisata berkembang pesat dan maskapai penerbangan tertarik.

"Peran pemda sendiri mendukung sosial budaya, sumber daya manusia (SDM), serta pengembangan daya tarik daerah agar airline atau maskapai penerbangan tertarik masuk," kata Yogisworo.

Menurut dia, pemkab segera menyiapkan sumber daya manusia yang profesional di sektor pariwisata dan memiliki keahlian yang menunjang bandara. Adanya bandara perlu didukung oleh pemerintah kabupaten, sosial budaya, sumber daya manusia, dan program kawasan.

"Suatu daerah harus memiki daya tarik sendiri, supaya maskapai penerbangan masuk dengan sendirinya. Sehingga Pemkab Kulon Progo harus mulai menyiapkan sektor pariwisata dan infrastruktur," kata Yogisworo.

Menurut dia, bukan hal yang mudah maskapai penerbangan bisa masuk ke suatu daerah tanpa memiliki daya tarik. Kita tidak mudah mengalahkan Singapura dan Malaysia.

Untuk itu, perlu ada yang dijual di maskapai internasional, kalau tidak, manfaat yang dipetik dengan adanya bandara tidak dapat dirasakan.

"Kita harus jualan, apa yang bisa dijual di dunia internasional, misalnya apa yang bisa dijual dari Kulon Progo sampai Candi Borobudur," kata dia.

Ia mengatakan ada hal yang menarik dikunjungi atau tidak. Hal ini yang harus diciptakan, sehingga Pemkab Kulon Progo dan Dinas Pariwisata memiliki peran penting dalam membuat perencanaan untuk pengembangan wilayahnya. Selain itu, sepanjang akses menuju bandara, harus diciptakan tempat-tempat yang memiliki daya tarik untuk dikunjungi, sehingga orang tidak merasa jauh dalam perjalannya.

Selanjutnya, aksebilitas Kulon Progo harus dipikirkan dari sekarang. Karena sebagian wilayah DIY, objek wisatanya masih Prambanan-Borobudur dan Gunung Merapi Sleman.

"Sekarang, kami sebagai pengusaha bandara, tidak hanya sekedar memikirkan bandaranya saja, tapi juga memikirkan akses menuju bandara," katanya.

Menurut dia, pembangunan tol sangat penting dalam sektor asksebikitas menuju bandara atau jalan yang sudah ada diperlebar dengan enam jalur. Kalau tidak, maka akan ditinggalkan.

"Tujuan ke Yogyakarta itu untuk berwisata. Dengan trafic penerbangan di Yogyakarta berkisar 8 juta per tahun, kami yakin ke depan tiga sampai empat tahun bandara beroperasi akan menjadi tujuan wisata," katanya.

Menurut dia, memilihat dari potensi wisata dan infrastruktur jalan, ia pesimistis wisatawan akan tinggal lama di Yogyakarta.

"Makanya, turis yang datang ke Yogyakarta dari Bali itu hanya satu hari. Mereka berkunjung ke Prambanan dan Borobudur, kemudian balik terbang lagi ke Bali," katanya.

Sekarang yang perlu dipikirkan oleh Pemkab dan Dinas Pariwisata Kulon Progo adalah infrastruktur jalan dan objek wisata yang inovatif dan kreatif, supaya turis mau tinggal lama di Yogyakarta.

"Di Bali, turis menginap 4 sampai lima hari. di Yogyakarta, turis paling lama tinggal tiga hari," katanya.

Wakil Bupati Kulon Progo Sutedjo mengatakan saat ini, Pemkab Kulon Progo tengah membangun infrastruktur Bedah Menoreh dalam rangka membangun akses wisata di wilayah itu.

"Jalan Bedah Menoreh ini akan menghubungkan bandara-Temon-Kokap-Giirimulyo-Samigaluh-Kalibawang-Borobudur sejah 63 kilometer," katanya.

Selain itu, kata Sutedjo, masyarakat di kawasan Bukit Menoreh secara swadaya mulai mengembangkan berbagai objek wisata, baik yang berupa curug, gua dan wisata alam.

"Wisata di Kulon Progo mulai berkembang pesat di wilayah utara. Kami juga mulai mengimbangi dengan membangun infrastruktur," katanya.

Identifikasi Objek Wisata

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Beppeda) Kabupaten Kulon Progo mengidentifikasi dan memetakan jalan-jalan dan titik-titik lokasi di Kecamatan Samigaluh yang dapat menjadi penopang Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Borobudur, Jawa Tengah.

Kepala Bappeda Kulon Progo Agus Langgeng Basuki mengatakan Bappeda juga mencari posisi yang menarik untuk melihat Borobudur dari atas.

"Setelah identifikasi dan pemetaan, kami akan usulkan kepada tim percepatan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur untuk mendapat persetujuan dan dibiayai pembangunannya," kata Langgeng.

Ia mengatakan identifikasi dan pemetaan menindaklanjuti ditetapkannya Salaman, Bener, dan Tritis (Samigaluh) sebagai kawasan penopang KSPN Borobudur oleh Kemenko Maritim dan Sumber Daya.

Langgeng mengatakan KSPN Borobudur ada dua kawasan, yakni kawasan otorita dan kawasan koordinatif. Kawasan otorita sudah disepakati meliputi tiga kabupaten yakni Magelang di wilayah Kecamatan Salaman, Kulon Progo di Samigaluh, dan Purworejo di Bener.

"Prinsipnya Candi Borobudur merupakan cagar budaya yang dilindungi oleh UNESCO karena termasuk 10 keajaiban dunia. Dengan kondisi itu, ada ketentuan maksimal jumlah pengunjung, sehingga perlu ada kawasan di luarnya yang menjadi otorita pemerintah dalam pengembangan KSPN Borobudur," kata dia.

Terkait program pembangunan jalan Bedah Menoreh, kata Langgeng, akan tetap jalan karena sudah sinkron dengan program KSPN Borobudur. Program bedah menoreh sendiri berfungsi untuk menghubungkan akses bandara dengan Yogyakarta wilayah utara dan wilayah perbatasan Jawa Tengah, sebagai akses bandara menuju Borobudur, dan untuk mengembangkan potensi wisata di kawasan Pegunungan Menoreh.

"Meskipun dalam perencanaan nasional di Kementerian PU-PR belum masuk perencanaan, 2017, tapi secara bertahap dialokasikan di APBD. Ide program ini juga ansih dari Kulon Progo, tapi harapannya ke depan mendapat dukungan dari Pemda DIY dan Pusat," imbuhnya.

Skema Bedah Menoreh

Sekrekatis Daerah (Sekda) Kulon Progo Astungkara mengatakan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo masih mencari skema penembangan kawasan utara atau Bedah Menoreh. Saat ini, pihaknya masih mengkaji apakah akan dibuat rencana induk sedangan sistem hinterland atau parsial.

"Saat ini, Bedah Menoreh masih menginduk rencana detail tata ruang (RDTR) masing-masing kecamatan, mulai dari Temon-Kokap-Girimulyo-Samigaluh-Kalibawang," kata Astungkara.

Ia mengatakan pemkab sudah membuat Perda RDTR Dekso dan RDTR Samigaluh sebagai Kota Satelit. Perda ini sudah ada rencana detail teknis (DED) pengembangan kawasan. Sehingga, ketika ada program pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur, Kulon Progo siap sebagai kawasan penyangga.

"Pembuatan RDTR Dekso dan RDTR Samigaluh gayung bersambut dengan KSPN Borobudur," kata dia.

Selain itu, pemkab juga akan mengakses anggaran dari Pemda DIY, dan menyediakan anggaran melalui APBD. Tujuannya yakni Bedah Menoreh cepat selesai dan sinergi dengan program pengembangan Kawasan Strategis Nasional (KSN) Borobudhur yang dananya mencapai triliunan.

"Kami berharap Bedah Menoreh dengan KSN Borobudhur dapat sinergis. Kami belum tahu alokasi anggaran untuk Bendah Menoreh dari KSN Borobudhur," katanya.

Dirinya telah menyampaikan tentang rencana strategis mendorong pengembangan Kawasan Borobudur. Dengan adanya Borobudur dan Bandara, bagaimana peran strategis Pemkab Kulon Progo.

"Kami mengusulkan pengembangan Sendangsono, Suroloyo, Gua Kiskendo, Bedah Menoreh, jalur Sentolo-Ngeplang," katanya.

Ia mengatakan pemerintah pusat telah memiliki program tujuh plus tiga wilayah kawasan, yakni Toba, Borobudur. Program tersebut memiliki efek pengembangan kawasan selatan.

Khusus Program Bedah Menoreh, Pemkab Kulon Progo akan mengembangkan Ibu Kota Samigaluh dan Ibu Kota Dekso. Saat ini , pemkab sedang menyusun DED.

"Dengan adanya program pemerintah pusat ini, dihadapkan kita menyambut, kemungkinan program tersebut sampai selatan," katanya.

Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo Krissutanto mengatakan kawasan perbukitan menoreh memang kaya akan potensi wisata. Selain wisata alam berupa curug, bukit, hingga gua, ada pula perkebunan teh, kopi, cengkih, dan durian yang bisa dioptimalkan sebagai agrowisata.

Krissutanto mengungkapkan, masyarakat juga semakin kreatif dalam mengembangkan obyek wisata secara mandiri. Angka kunjungan wisata pun terus mengalami peningkatan. "Kami berikan kesempatan kepada masyarakat untuk berkembang. Kami akan berikan pendampingan dan pembinaan, khususnya terkait sapta pesona," kata Krissutanto.

Selain itu, rencana detail teknis (DED) Sendangsono-Suroloyo sudah selesai disusun Dinas Pekerjaan Umum.

"Kawasan wisata religi belum kami sentuh dengan pembangunan fisik. Tapi DED sudah selesai dibuat, dan isinya sangat detail dan bagus," katanya.

Ia mengatakan DED Sendangsono-Suroloyo selesai dibuat sejak 2015. DED tersebut membuat rencana pembangunan infrastruktur jalan, sarana dan prasarana penunjang hingga model bangunan yang boleh dikembangkan di sana.

"Kami juga berhati-hati supaya pengembangan Sendangsono-Suroloyo tidak menyalahi koridor Sendangsono-Suroloyo sebagai daerah penyangga lingkungan alam dan penyangga pengembangan Borobudur," katanya.

Krissutanto mengatakan radius KSPN Borobudur dalam perencanaan ada prioritas, tinggal menunggu waktu pelaksanaannya.

Menurut dia, kalau perangkat perencanaan sudah jadi tinggal dilaksanaan sesuai dengan kemampuan keuangan daerah dan pusat.

"Ada keuntungan kami memiliki DED pariwisata, khususnya DED Sendangsono-Suroloyo. Kami sudah ditawari pembangunannya menggunakan dana alokasi khusus (DAK) dan dana keistimewaan (danais). Kalau belum memiliki perencanaan, bantuan akan dialokasikan ke kabupaten lain yang siap," katanya.

Rencananya, lanjut dia, penggunaaan danais dan DAK untuk pembangunan infrastruktur Sendangsono-Suroloyo dimulai 2017. Usulan yang sudah masuk yakni pelebaran jalan dan pemasangan LPJU yang selama ini masih sangat minim.

Selain itu, di kawasan Sendangsono-Suroloyo tidak boleh ada bangunan hotel, melainkan penginapan model homestay. "Perlu banyak yang dipertahankan, meski di sana potensi menjadi daerah wisata," katanya.

Siapkan IKM

Dinas Perdagangan Kabupaten Kulon Progo menyiapkan sumber daya manusia sektor industri kecil menengah untuk mendukung adanya bandara. Pelaku IKM adalah penggerak perputaran ekonomi di sebuah objek wisata. Untuk itu, Dinas Perdagangan memberikan pelatihan peningkatan keterampilan, seperti pelatihan kepada perajin gula semut "Sari Aren" Nglinggo Barat, Desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh.

Kepala Dinas Perdagangan Kulon Progo Niken Probo Laras mengatakan pelatihan ini bertujun perajin gula semut memanfaatkan peluang dengan dibangunnya Bandara Internasional di Kulon Progo dan ditetapkannya Kawasan Borobudur sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional serta pembangunan Bedah Menoreh.

"Kegiatan penumbuhan dan pengembangan usaha industri berbasis agro, makanan dan minuman melaksanakan pelatihan peningkatan keterampilan pengrajin gula semut berbahan baku dari nira aren. Jangan sampai mereka menjadi penonton dengan adanya mega proyek," kata Niken.

Ia mengatakan pelatihan ini disamping mengenalkan cara pembuatan gula semut dari nira aren juga dipraktikkan pengembangan produk gula semut aren sebagai bahan baku produk kombinasi minuman instan dengan berbagai rasa, seperti jahe, kunir dan kencur.

"Pada kesempatan tersebut juga dicoba membuat formula kombinasi antara gula semut nira aren dengan kopi," katanya.

Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perdagangan Kulon Progo Dewantoro mengatakan pihaknya memberikan pelatihan-pelatihan kepada pelaku industri kecil dan menengah mengolah potensi lokal untuk diproduksi supaya memiliki nilai jual dan mampu meningkatkan ekonomi masyarakat.

"Kami memberikan pelatihan pemanfaatan bahan baku untuk produk - produk yang bisa dipromosikan dan laku untuk mendukung KSPN Borobudur. Masyarakat harus siap menyambut Bukit Menoreh sebagai pusat wisata baru," kata Dewantoro.

Ia mengatakan potensi di Bukit Menoreh sangat banyak, serti empon-empon, teh, kopi, bunga krisan, durian, kelengkeng hingga minyak atsiri. Bahan baku lokal tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi masyarakat di kawasan Bukit Menoreh, yakni Kecamatan Kokap, Samigaluh, Kalibawang, Nanggulan dan Girimulyo.

"Adanya KSPN Borobudur, sepanjang jalan di kawasan Bukit Menoreh 'uang berceceran'. Untuk itu, kami mulai mempersiakan sumber daya manusia (SDM) dari sisi ketrampilan supaya mereka tidak hanya menjadi penonton saat wisata Bukit Menoreh menjadi tujuan utama wisata," katanya.

Rencananya, lanjut Dewantoro, Dinas Perdagangan akan mendampingi masyarakat Jatimulyo, Girimulyo mengembangkan kawasan usaha rakyat untuk konoditas empon-empon. Yakni mengajari masyarakat membuat jamu dan bagaimana pengemasan, serta penjualan.

"Kami berharap pengembangan industri kecil empon-empon menggerakan ekonomi masyarakat dan mendukung pariwisata. Pelaku IKM dapat menjual jamu mereka di objek-objek wisata yang dikembangkan masyarakat," katanya. (bahar/ant)