Wednesday, 12 July 2017

Sejumlah Sastrawan Asal Lampung Kecewa

Jakarta, PenaOne - Panitia Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (Munsi) 2 dinilai inkonsisten.

Sejumlah sastrawan yang lolos seleksi karya (buku sastra) memboikot dengan tidak hadir.

Munsi 2 yang ditaja Pusat Pembinaan, Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbubud) RI akan digelar di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, 18-20 Juli 2017.

Ketidakkonsisten panitia adalah tak adanya biaya transportasi peserta dari daerah masing-masing ke tempat acara.

Padahal, pengumuman awal bahwa peserta yang lolos seleksi kurator melalui karya buku akan didanai transportasi ke Jakarta. Sejumlah sastrawan yang diundang  pun menyatakan tidak akan hadir.

Semetara lainnya tetap hadir meski harus menggadai atau menjual barang berharganya.

Sementara Isbedy Stiawan ZS, Sosiawan Leak, Tjahjono Widarmanto, Iyut Fitra, Suyadi Saan, Darman Moenir, Marhalim Zaini, dan lain-lain menempuh jalur membuat petisi yang akan ditujukan kepada Kemendikbud RI dan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (dh Pusat Bahasa).

“Kami kecewa pada panitia yang tak konsisten dengan janjinya. Selain itu, tak adanya penjelasan kepada peserta yang lolos seleksi. Rasanya minta maaf saya tak cukup,” tandas Isbedy Stiawan ZS, sastrawan asal Lampung, dihubungi di Bandar Lampung, Rabu (12/7/2017) siang.

Dia mendesak panitia tetap konsisten, bukan sebaliknya mengganti peserta yang tak hadir kepada sastrawan yang mau datang tanpa dibiayai.

“Mereka diundang sebagai pengganti, saya duga tak melalui seleksi karya. Jadi lucu kan?” imbuh Isbedy.

Kekecewaan para sastrawan peserta Munsi 2 semakin riuh pada grup WA Munsi 2. Silang-pendapat bermunculan.

Selain itu, status dan komentar “miring” bermunculan di facebook (FB) dan menjadi viral. Setelah penyair Edy Pranata menulis kekecewaannya di FB, giliran sastrawan Dadang Ari Murtono melalui akun FBnya.

Berikut pernyataan Dadang: Dalam pengumuman awal yang mereka publikasikan, mereka menjanjikan akan menanggung biaya transportasi dari daerah asal peserta hingga lokasi acara serta akomodasi selama musyawarah berlangsung.

Janji itulah, saya kira, yang menyebabkan banyak sastrawan mengirim beberapa eksemplar buku untuk mengikuti seleksi acara tersebut.

Kenyataannya, bersamaan dengan pengumuman siapa saja yang lolos seleksi, panitia juga menyebutkan bahwa mereka tidak menanggung biaya transportasi peserta dan hanya bisa membantu dengan cara mengirim surat rekomendasi ke beberapa instansi di daerah untuk mempermudah pengajuan proposal.

Surat rekomendasi itu memang dikirim. Di Jawa Timur sendiri, surat itu tiba menjelang liburan lebaran.

Beberapa kawan yang mencoba menembusi surat itu diping pong ke sana ke mari sebelum kemarin mendapatkan keputusan bahwa bantuan itu tidak dapat dicairkan karena waktu yang terlalu mepet. Saya tidak hendak mempersoalkan dana yang tidak cair itu, melainkan keseriusan panitian musyawarah.

Pengumuman awal dari panitia Munsi 2,
jika mereka di awalnya sudah menjanjikan transportasi, logikanya, mereka telah menyusun anggaran untuk itu.

Alangkah lucunya bila mereka merencanakan satu hal, menyampaikannya ke publik, namun ternyata mereka belum siap untuk itu. Tapi memang itulah yang terjadi. Dan untuk itu, tak pernah mereka menyampaikan penjelasan.

Hal itu semakin terasa miris mengingat musyawarah tersebut digelar di Hotel Mercure Ancol, sebuah hotel mewah yang tentu saja tidak murah harganya.

Daripada menghadiri acara dengan panitia yang mencla-mencle seperti itu, lebih baik saya makan krupuk di kos. (wawan/bian)