Wednesday, 23 August 2017

Komnas PA: Prostitusi Anak di Bogor Bukan Hal Baru

Ilustrasi
Jakarta, PenaOne -  Terbongkarnya jaringan prostitusi anak dan terus meningkatnya kejahatan seksual melalui jaringan online yang melibatkan anak (Child Prostitution Online) dikawasan destinasi wisata Puncak Bogor baru-baru bukanlah kabar baru.

Nanum Komnas Perlindungan Anak memberikan apreasi kepada Polres Bogor dan Direskrimum Polda Jawa Barat yang telah bekerja keras membongkar kasus prostitusi yang melibatkan anak dikawasan puncak Bogor.

Demikian disampaikan Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, dalam siaran pers Rabu (23/8/2017).

Menurutnya, di  bulan April tahun ini  Polres Bogor bersama Mabes Polri sesungguhnya telah membongkar jaringan prostitution online yang juga melibatkan puluhan anak-anak usia remaja  dari berbagai tempat telah terjadi di tempat yang sama.

“Jadi apa yang terjadi hari ini tidaklah terlepas dari kontribusi banyak pihak dan pemangku kepentingan. Masyarakat sekitar menutup mata bahkan  cuek terhadap fenomena ini,” tegas Arist.

Dirinya juga menyinggung pemilik hotel dan penginapan ditempat ini  juga ikut membiarkan konstribusi prostitusi demi meraup rupiah, apalagi pemerintah Bogor juga tidak mempunyai sensitifitas terhadap anak.

Walaupun kota ini sudah dinyatakan pemerintah sebagai kota layak anak namun yang cukup memalukan justru permintaan konsumen dewasa terpelajar terhadap anak untuk prostitusi terus meningkat.

“Inilah salah satu peluang yang menyebabkan suburnya prostitusi anak bertaraf international terus berkembang di kawasan Puncak Bogor. Kawin kontrak dengan warga negara asing di kawasan ini adalah hal yng lumrah ditengah-tengah sebahagian masyarakat di kawasan destinasi wisata ini juga salah datu faktor pendorong menjamurnya anak-anak terlibat dalam dunia prostitusi. Bujuk rayu, tipu muslihat dan mengkambinghitamkan kemiskinan yang dilakukan para predator anak ini juga salah satu pemantik anak-anak menjadi korban prostitusi,” bebernya.

Pemicu (triger) keterlibatan anak-anak usia sekolah dari kota Bogor dan sekitarnya dalam jaringan Child Prostution Online, Kata Arist,  dipengaruhi oleh gaya hidup dan kurangnya kontrol orangtua dan lingkungan sekolah terhadap perubahan prilaku anak remaja dalam menghafapi globalisasi informasi serta  permisifnya keluarga terhadap seks. Tsunami teknologi juga turut serta mempengaruhi  gaya hidup dan pola konsumsi anak-anak, tambah Arist.

“Oleh sebab itu untuk memutus mata rantai jaringan yang melibatkan jaringan online internasional diperlukan sikap tegas pemerintah kota dan kabupaten Bogor terhadap fenomena meningkatnya prostitusi online di kawasan puncak,” pungkasnya. (tan/bilal)