Saturday, 26 August 2017

Komnas PA: Tolak Pasien, RS Labuang Baji Bisa Dipidana

Jakarta, PenaOne - Penolakan Muhammad Ardiansyah (5)  untuk mendapat perawatan kesehatan akibat demam tinggi  di RS Labuang Baji, Makassar, Sulawesi Selatan merupakan tindakan sangat keji dan tidak berprikemanusiaan.

Kendati orangtua Ardiansyah si bocah malang ini telah mengantongi surat rekomendasi dari Kadis Sosial dan surat keterangan keluarga tidak mampu dari desa.

"Penolakan Ardiansyah untuk mendapat pelayanan kesehatan dasar selain pelanggaran terhadap hak anak  kesehatan," kata Ketua umum Komnas Perlidungan Anak (Komas PA) Arist Merdeka Sirait saat dihubungi wartawan Sabtu (26/8/2017).

Menurut Arist, penolakan tersebut merupakan pelanggaran terhadap hak hidup yang diatur dalam ketentuan UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dan UU RI No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia junto UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan anak.

Oleh sebab itu, masih menurutnya, penolakan Ardiansyah sebagai pasien anak miskin untuk mendapat perawatan kesehatan yang maksimal  dari RS Labuang Baji, pengelolah dan yang bertanggungjawab atas nama RS Labuang Baji dapat dikenakan tindak pidana dengan ancaman pasal berlapis dengan ancaman hukuman 12 tahun pidana penjara.

"Atas kejadian penolakan ini dan atas dasar ketentuan pasal 36 junto pasal  85 UU RI No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang menyatakan bahwa dalam keadaan darurat fasilitas pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta wajib memberikan pelayanan kesehatan pada bencana bagi penyelamatan nyawa pasien dan pencegahan kecacatan fasilitas pelayanan kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan pada bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Dilarang menolak pasien atau meminta uang muka terlebih dulu dari pasien sesungguh tidak dibenarkan atas apapun alasannya," ujar Arist.

Komnas PA mendesak  Gubernur Sulawesi Selatan untuk memberhentikan dari tugasnya sebagai direktur RS Labuang Banji  dan untuk  bertanggungjawab secara hukum.

"Mendorong kepala  Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan  untuk segera mengevakuasi Ardiansyah ke Rumah Sakit," tegas Arist.

Dirinya berjanji akan memantau perkembangan kasus ini. Bahkan, Komnas Anak juga akan menurunkan Quick Investigator Vuluntary Komnas Anak untuk melakukan koordinasi dengan aparat pemerintah dan aparatus penegak hukum di Sulawesi Selatan.

"Kami melayang surat kepada Gubernur Sulawesi Selatan," imbuh Arist.

Ardiasyah merupakan anak Rahmayadi yang tinggal di Makassar, malam tadi anak itu dibawa ke RS Labuang Baji, Makassar karena demam tinggi disertai kejang.

Namun, pihak RS menolakpasien dengan alasan hanya membawa surat keterangan miskin dari Dinas Sosial setempat. (tan/bian)