Monday, 21 August 2017

Pengungkapan Kekerasan Seksual pada Anak TK Dibogor Lamban

Jakarta, PenaOne - Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) menilai, pengungkapan kekerasan seksual terhadap anak Taman Kanak-kanak (TK) di Bogor, Jawa Barat lamban.

Proses lidik ke sidik oleh Polresta Bogor  atas kasus kejahatan seksual  yang menimpa QZA (5) murid Taman Kanak-kanak (TK)  di Bogor yang diduga dilakukan S alias Udin guru TKnya di  bulan Mei 2017 dan sudah memasuki tahap mengirimkan SPDP kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) patutlah diapreasiasi.

"Namun sayangnya, bila  merujuk ketentuan  dari UU RI No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) yang mengatur tentang batasan waktu pemeriksaan perkara pidana anak, dengan tidak mengurangi rasa hormat terhadap kerja keras yang telah dilakukan  penyidik bahwa tahapan proses lidik ke sidik yang dilakukan Penyidik Unit PPA Polresta Bogor Kota atas kasus ini sangatlah terbilang lamban," kata Arist Senin (21/8/2017).

Menurutnya, tahapan proses penyidikan belum sensitif  pada anak sekalipun telah mendapatkan bukti dan keterangan dari berbagai saksi dan ahli hanya. Namun karena belum mendapat persesuaian dari bukti-bukti hukum yang didapat maka kasus kekerasan seksual terhadap anak belum dapat dinyatakan lengkap untuk diajukan kepada Jaksa.

Jika merujuk pada waktu kejadiaan perkara kekerasan seksual yang terjadi di awal  bulan Mei hingga sekarang sudah memasuki pertengahan bulan Agustus proses penyidikan ini juga belum lengkap dapat dikategorikan bahwa penyidik telah mengabaikan ketentuan dari UU SPPA.

"Guna keadilan bagi korban serta demi kepentingan terbaik bagi anak (the best interest of the child) Komnas Anak mendesak segera penyidik Unit PPA Polresta Bogor Kota  mentuntaskan penyidikannya dan segera pula menyerahkan berkas perkara kepada JPU Untuk diteruskan ke  pengadilan," kata Arist singkat. (Haris P)