Wednesday, 25 October 2017

248 Artefak Diboyong untuk Festival Europalia Indonesia


London, PenaOne - Sebanyak 248 artefak koleksi Museum Nasional dan beberapa koleksi museum provinisi antara lain Museum di Jawa Tengah, Sumatera Selatan, Jambi dan Bali diboyong ke Belgia untuk ditampilkan pada pameran yang merupakan salah satu pameran utama dari rangkaian event Festival Europalia Indonesia di Brusel.

Pameran artefak yang berjudul Kingdoms of the sea Archipel itu diadakan di Museum La Boverie di Liege dari tanggal 25 Oktober hingga 21 Januari tahun depan, demikian Fungsi Pensosbud KBRI Brusel Ance Maylany kepada Antara London, Rabu.

Pameran dengan tema maritim ini menjadi gelaran penting mengingat latar belakang sejarah dan peradaban bangsa Indonesia yang tidak lepas dari budaya maritim yang merupakan bagian dari identitas bangsa Indonesia.

Jelang pameran, sebuah kapal bernama kapal Padewakang dibangun langsung di museum tersebut oleh pembuat kapal tradisional yang didatangkan dari Sulawesi.

Kapal Padewakang adalah cikal bakal dari kapal Phinisi yang dikenal luas.

Kapal dengan ukuran panjang 11 m, tinggi 7 meter dan lebar 4 meter itu dibangun di Museum La Boverie dan merupakan kapal ketiga yang dibuat untuk ditampilkan di luar Indonesia setelah dua kapal sebelumnya dibangun dan dilayarkan ke Australia.

Pameran berupaya menggambarkan warisan sejarah maritim yang tersebar diseluruh Indonesia yang memiliki beberapa tahap sejarah maritim dari ancient period (3000SM hingga awal Masehi), pre-modern period (awal Masehi hingga abad ke-16), early modern period (abad 16-18 M) hingga modern period (abad 18 hingga sekarang).

Pada tahap pertama dari pintu masuk pameran ditampilkan berbagai hasil pameran dari masa Austronesia yang menampilkan benda-benda seni dari batu dan perunggu, hasil pertukaran diaspora dari Austronesia dan Melanesia. Bentuk budaya ditampikan seperti kapal, penggalan lukisan dari dinding gua, seni dari batu, nekara, moko dan lainnya.

Masa pre-modern merupakan kelanjutan ekspansi budaya maritim merupakan hasil interaksi dengan datangnya pedagang dari India. Pada masa ini terjadi akulturasi budaya. Kerajaan di Indonesia seperti Kutai, Tarumanegara, Kalingga, Sriwijaya, Mataram menjadi bagian dari akulturasi periode ini.

Benda budaya yang ditampilkan dari periode ini berupa kapal, patung, musik, peta-peta kuno, prasasti dari kerajaan-kerajaan tersebut.Masa eraly modern period dipengaruhi interaksi dengan pedagang dari China menampilkan berbagai bentuk budaya seperti keramik, sutra, porselain daan arsitektur.

Lebih ke dalam area pamera ditampilkan masa early modern period yang dipengaruhi oleh interaksi dengan bangsa-bangsa Eropa lewat jalur perdagangan bumbu. Kota-kota utama di Indonesia yang menjadi pusat yang merekam interaksi ini yaitu Aceh, Banten, Banjarmasin, Ternate, Tidore, Palembang menjadi tempat yang banyak ditemukan warisan sejarah maritim.

Sebagai negara kepulauan dengan 17.000 pulau dan 81.000 km panjang garis pantai, pameran maritim menjadi kesempatan untuk menampilkan identitas bangsa Indonesia yang penting dan lama terlupakan.

Pameran di Museum La Boverie Liege merupakan bagian kerjasama kedua Keberadaan kapal Padewakang juga menjadi daya tarik tersendiri pada pameran ini karena nilai sejarah dan keunikan kapal ini menjadi suatu hal yang baru di Eropa yang telah mengambil bagian dalam pembentukan sejarah maritim Indonesia.

Sebelumnya acara peresmian digelar konferensi pers pameran Kingdoms of the Sea Archipel dimoderatori Walikota Liege, Mr. Willy Demeyer dan dihadiri narasumber dari pihak Indonesia Dra. Intan Mardiana, mantan Direktur Museum Nasional selaku kurator dari pameran dan Singgih Tri Sulistiono, peneliti sejarah maritim dari Universitas Diponegoro Semarang. Sementara dari pihak Belgia hadir Mr. Dirk Vermaelen, koordinator kurator Europalia International, Mr. Pierre Yves Manguin, konsultan peneliti arkeologi dari Ecole Francaise d'extreme Orient. (ant/bian)