Monday, 9 October 2017

Cerita Khusus Dibalik Tim Perumus, "TOPI HITAM AD/ART"

TOPI HITAM selalu dikenakannya dalam setiap momen. Bahkan, acara 'sakral' sekalipun.

Tak lazim memang memakai penutup kepala alias topi di saat acara formal. Namun, bagi pria berdarah batak ini memakai topi merupakan suatu keharusan.

Topi hitam, selalu menemani Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) provinsi Kepulauan Riau (Kepri) Rudiarjo Pangaribuan. Kemanapun ia pergi dan dalam berbagai kesempatan ia selalu mengenakan topi yang sudah dianggapnya sebagai 'mahkota'.

Rudi, sapaan akrab Ketua IWO Kepri merupakan salah satu dari 10 orang tim perumus Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) bentukan Mubes I IWO 8-9 September 2017 lalu.

Saat datang ke Jakarta, Rabu 4 Oktober, Rudi dengan bangganya mengenakan baju berwarna hitam bertuliskan IWO Kepri. Rudi juga memakai celana hitam. Ia pun terlihat memakai topi kesayangganya yang juga berwarna hitam.

Serba hitam yang ia kenakan. Namun, hatinya tetap putih seputih kapas. Karena, dia datang dari Batam, provinsi Kepri dengan niat sangat tulus yakni ingin menuntaskan amanat pimpinan sidang untuk merampungkan AD/ART IWO dalam kurun waktu 30 hari.

Tiba, Wisma NTT dikawasan Tebet, Jakarta Selatan tempat digelarnya acara tim perumus AD/ART matanya terlihat merah. Bukan karena minum alkohol. Tapi tersirat ia terlihat lelah karena kurang istirahat dalam perjalanan menuju Jakarta dari Batam.

Sampailah suatu ketika, saat Ketua umum IWO Jodi Yudono membuka acara tim perumus AD/ART IWO sekitar pulul 16:29 Wib. Rudi begitu 'khusuk' mendengarkan petuah sang Ketua umum IWO.

Berbeda dengan salah satu rekannya Muhammad Abu Bakar, Rudi tidak suka berselfi atau berfoto. Ia lebih suka ditemani kopi hitam dan rokok dalam pembahasan AD/ART IWO.

Banyak gagasan yang ditelorkan Rudi. Gagasan yang masuk akal langsung diadopsi rekan lainnya dan dimasukan dalam pasal AD/ART IWO yang akan di pakai sebagai landasan IWO kedepannya dalam beroganisasi.

Sampai suatu ketika. Rudi tetap kokoh dengan pendiriannya soal syarat-syarat anggota IWO. Ia tetap ngotot jika syarat anggota IWO adalah dari media online dan berbadan hukum. Perdebatan seru dan panjang itupun terjadi diantara tim perumus lainnya.

Seru memang menghadapi Rudi. Disamping ia keras dalam berpendirian. Rudi juga seorang selalu mengedapankan fakta disertai landasan yang kuat jika memunculkan sebuah argumen.

Hingga di hari Jum'at tanggal 6 Oktober 2017, tibalah saatnya Rudi dan tim perumus AD/ART IWO lainnya ditemani Jodi Yudhono bertatap muka dengan Ketua Dewan Pers Yosep Stanley Adiprasetio di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Disana, ia tetap mengenakan topi hitam kesayanganya. Sama seperti Ketua umum IWO yang selalu mengenakan topi. Apakah karena mereka sama-sama Ketua lantas gemar mengenakan topi...? Tidak juga, hobi mengenakan topi sudah lama tertanam dari diri mereka masing-masing.

Saat beraudiensi dengan Stanley, sapaan akrab Ketua Dewan Pers. Rudi justru banyak memberi masukan positif bagi kalangan wartawan online. Rudi memang tegas dalam berbicara dan ketegasannya itu sangat terukur.

Diakhir penutupan tim perumus AD/ART IWO yang disiarkan secara live oleh tim Wakil Ketua umum IWO Rival Ahmad Labaika Rudi memperoleh kesempatan membacakan Anggaran Rumah Tangga bersama Kristanto Suryadi yang menjabat Bendahara IWO Kabupaten Kapuas, provinsi Kalimantan Tengah.

Meski masih terdengar logat "bataknya" dalam bertutur kata. Namun, Rudi terlihat lancar membacakan Anggaran Rumah Tangga IWO hingga dipenghujung acara.

Sampai hari Sabtu tanggal 7 Oktober 2017 pukul 01:55 Wib, Rudi harus berkemas-kemas meninggalkan penginapan untuk pulang ke Batam karena penerbangan pesawat pertama sudah menantinya di Bandar Udara (Bandara) Soekarno Hatta, Banten.

"Bisa diundur pak Sekjend berangkatnya. Dada saya agak sesak ini karena minum kopi tadi," kata Rudi dinihari itu sembari memegangi dadanya.

"Silahkan pak Rudi istirahat sebentar. Kalau sudah berkurang rasa sakitnya baru kita jalan ke Bandara," ucap Sekjend IWO Witanto yang turut mengantarkan kepulangan Rudi samlai di Bandara.

Terimakasih Rudiarjo Pangaribuan Ketua IWO Kepri atas kedatangannya kembali ke Jakarta untuk menuntaskan AD/ART IWO.
Rudiarjo Pangaribuan (kanan) bersama salah satu Dewan Etik IWO provinsi Kepri saat di lantai 7 Gedung Dewan Pers, Jakarta Pusat Jum'at (6/10/2017).

Kami salut, topi hitam yang engkau kenakan kemanapun dalam pembahasan pasal demi pasal AD/ART IWO akan selalu terkenang.

Semoga AD/ART IWO bisa sejajar dengan topi yang engkau kenakan. Artinya, AD/ART IWO bisa dijunjung tinggi oleh anggota IWO lainnya seperti layaķnya engkau menjung tinggi topi hitam kesayangamu. (tim redaksi)