Saturday, 7 October 2017

Cerita Khusus Dibalik Tim Perumus, 'TERIMAKSIH PALU SIDANG'



DINI hari saat semua orang tertidur pulas, pria berkulit hitam dan berkumis tebal itu berpamitan kepada keluarga tercintanya di Kota Langsa, provinsi Nangro Aceh Darusalam (NAD) untuk pergi ke Jakarta menuntaskan tugas mulia guna merampungkan Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) Ikatan Wartawan Online (IWO).

Kala itu jam ditangannya menujukan pukul 01:04 Wib. Dalam hati kecilnya pria yang sudah mempunyai dua orang cucu ini berkata "Aku harus datang ke Jakarta untuk tugas mulia ini. Bagaimanapun caranya aku harus datang".

Muhammad Abu Bakar namanya. Pria yang menggemari wartawan dari sisi investigasi ini lebih menyukai perjalanan ke Bandara Kualanamu, Sumatera Utara untuk datang ke Jakarta dengan jarak tempuh sekitar 3 jam.

Kata dia, dirinya lebih dekat ke bandara Kualanamu dibandingkan bandara Aceh untuk ke Jakarta. Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam sampailah dia di Bandara yang kini sudah bertaraf international itu.

Pesawat pertama dari Bandara Kualamanu membawa pria kelahiran Dusun Buket Kareung 2 November 1972
ini sampai di Jakarta sekitar pukul 07:01 Wib. Lantas, dirinya langsung menggunakan kendaran menuju Wisma NTT di kawasan Tebet, Jakarta Selatan yang dipakai untuk peristirahatan bersama anggota tim perumus AD/ART lainnya.

Begitu datang, pria yang gemar berselfi ini langsung menggunakan kameranya untuk membuktikan jika dirinya sudah sampai di Jakarta.

Sampailah saatnya, hari Kamis 4 Oktober 2017 Ketua umum IWO Jodi Yudono membuka acara tim perumus AD/ART IWO sekitar pulul 16:29 Wib.

Abu, sapaan akrabnya, lebih banyak diam saat tim perumus lainnya mulai membahas pasal demi pasal Anggaran Rumah Tangga IWO. Hanya sesekali dia berbicara namun ketegasan yang diusulkannya justru masuk realita dalam penyusunan.

Dalam berbagai diskusi pembahasan AD/ART IWO Ketua IWO provinsi Aceh ini banyak berbeda pendapat dengan Sekretaris IWO Kota Manado, provinsi Sulawesi Utara Simon Siagian.

Namun, perbedaan pandangan justru membuat suasana pembahasannya semakin ramai dipenuhi gelak tawa.

Dasar memang pria suka berselfi. Sampai suatu ketika, Abu pun meminta befoto dengan seorang dara manis saat pembahasan AD/ART dilakukan diluar Wisma NTT.

Saat berada di gedung Dewan Pers lantai 7 ketika anggota tim perumus AD/ART dan Jodi Yudhono bertemu dengan Yosep Stanley Adi Prasetio yang kini dipercaya menjabat sebagai Ketua Dewan Pers hingga 2019 Abu tak banyak berkata.

Dirinya lebih suka menyimak perbincangan santai antara anggota tim perumus dengan Stanley.

Diakhir penutupan pembacaan hasil tim perumus AD/ART yang disiarkan secara langsung oleh tim Wakil Ketua umum IWO Rival Ahmad Labaika Abu juga tak banyak bicara. Namun, dirinya memperoleh kesempatan membacakan hasil ketetapan Anggaran Dasar IWO setelah kesempatan pertama yang diberikan kepada Simon Siagian.

"Alhamdulilah kita sudah selesaikan semua tugas ini," kata dia malam itu Jum'at (8/10/2017).

Sebagai oleh-oleh dari Jakarta sebagai salah satu tim perumus AD/ART IWO Abu akan membawa pulang satu set palu sidang yang dipergunakannya.

"Di Aceh saya tidak punya palu sidang. Boleh saya bawa ke Aceh palu sidang ini ya pak Sekjend," kata Abu lirih.

Dengan menanggukan kepala Sekjend IWO Witanto pun mengamini niat baik Abu  yang ingin membawa palu sidang itu ke Aceh.

Terimakasih  Wan Abu. Dedikasi dan perjuanganmu bersama anggota tim lainnya saat pembahasan AD/ART IWO akan dikenang sepanjang masa. Semoga AD/ART yang dihasilkan berguna bagi anggota IWO lainnya di seluruh Indonesia. (tim redaksi)