Tuesday, 17 October 2017

Korban Salah Tangkap: Dipukul Kunci Roda Hingga Dibakar....

Delapan pemuda salah tangkap

Karawang, PenaOne - Cerita pilu mulai diungkap delapan orang pemuda yang menjadi korban salah tangkap yang dilakukan Polsek Klari, Karawang, Jawa Barat.

Delapan orang pemuda tersebut berasal dari Kampung Gintung Kolot, Desa Gintung Kerta, Kecamatan Klari, Karawang. 

Korban salah tangkap itu, kini terus mencari keadilan. Selain telah melayangkan gugatan ke Pengadilan Negeri (PN) Karawang untuk ganti rugi Rp8 Miliar, mereka juga menuntut agar Polisi dan Kejaksaan mengembalikan nama baik mereka yang sudah terlanjur dicap buruk oleh masyarakat.

Sesuai putusan Kasasi di Mahkamah Agung Nomor 1011 K/PID.SUS/2016, yang keluar pada tahun 2016 kemarin, delapan pemuda ini ternyata tidak terbukti melakukan aksi pembunuhan terhadap korban Sahrul Budiman.

Mayat Sahrul Budiman kala itu ditemukan warga disekitar samping Bendungan Walahar Klari tahun 2015.

Hari ini, Selasa (17/10/2017) kepada wartawan, korban salah tangkap ini menceritakan perihal aksi kekerasan oknum petugas Polisi dari Polsek Klari yang memaksa mereka agar mengakui aksi pembunuhan tersebut. 

Misalnya Deni Hendarsyah (20), salah satu korban salah tangkap. Dia mengaku mengalami penyiksaan kejam dari petugas mulai dari dipukul leher bagian belakang, sampai deretan pukulan di bagian wajah.

"Waktu itu saya dijemput terus dibawa ke Polsek (Klari), dibawa ke ruangan tapi engga tahu ruangan apa lalu lampunya dimatiin. Saya ditanya nama, saya disuruh balik badan kemudian leher bagian belakang saya dipukul," ujarnya. 

Setelah itu, kata Deni, dia dibawa dan dimasukkan ke dalam sel tahanan Polsek Klari. Ternyata di dalam ruangan sel sudah ada enam orang rekannya yang lain dengan kondisi babak belur seperti bekas pukulan.

"Paginya saya di BAP. Saya dipaksa suruh mengakui bahwa saya membunuh korban. Saya sudah bilang tidak tahu apa-apa tapi polisi tidak percaya," kata dia.

Karena terus diancam, Deni akhirnya terpaksa mengakui, sampai akhirnya dia bersama tujuh orang temannya dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Karawang.

"Di perjalanan waktu mau dibawa ke kejaksaan saya juga terus diancam agar mengakui perbuatan itu," kata dia.

Korban salah tangkap lainnya, Frizkon Ramadhan (21) juga mengalami nasib yang sama. Dirinya mengaku lebih parah mendapatkan siksaan dari oknum petugas Polsek Klari. 

Selain dipukul menggunakan kunci roda untuk mengaku telah membunuh, bulu kemaluannya sempat dibakar dengan menggunakan korek api.

"Saya juga dipukul oleh teman-teman saya sendiri karena teman saya disuruh polisi," katanya.

Gugat Polres Karawang Rp8 Miliar 

Delapan korban salah tangkap dalam kasus pembunuhan seorang pemuda di Desa Walahar, Klari bernama Sahrul Budiman, pada tahun 2015 silam menggugat negara dalam hal ini Polisi dan Jaksa untuk ganti rugi.

Gugatan ini setelah Pengadilan menguatkan putusan bebas kedelapan orang yang dituduh pelaku tersebut. Yang menguatkan persidangan saat itu, penyidik mengatakan bahwa kedelapan orang yang dituduh pelaku pembunuhan ini terekam CCTV Bendungan Walahar, namun setelah dilakukan pengecekan, ternyata CCTV di sekitar Bendungan Walahar semuanya dalam kondisi mati.

"Selain itu berdasarkan hasil persidangan tidak ditemukan sidik jari kesepakan orang ini dalam alat bukti yang dihadirkan seperti dalam obeng dan barang lain," ungkap pengacara kedelapan korban salah tangkap, Aneng Winengsih.

Aneng menjelaskan, kedelapan kliennya tersebut merasa dirugikan akibat jadi korban salah tangkap kedelapan pemuda ini kemudian ditahan dan disangkakan melakukan persekongkolan jahat menghabisi nyawa korban. Setelah dibuktikan di pengadilan, sangkaan itu tidak berdasar. Akhirnya kedelapan orang ini divonis bebas dan telah berkekuatan hukum tetap.

Berdasarkan keterangan dari salah satu korban salah tangkap, FR mengatakan, selain dipaksa untuk mengakui telah melakukan pembunuhan, dia bersama rekannya disiksa oleh oknum polisi. Bentuk penyiksaan itu diantaranya dipukul dengan menggunakan kunci roda. Akibatnya, kedelapan orang ini mengalami luka cukup parah.

"Waktu itu saya dipaksa suruh ngaku. Padahal saya sudah bilang tidak membunuh tapi mereka (polisi) tidak percaya," ungkap FR. (ga/tan)