Di Cairo, Komisi II Ajak Semua Negara Dukung Palestina

Pertemuan delegasi Parlemen Indonesia-Mesir dan Dubes RI di untuk Mesir Helmy Fauzi Cairo. @Kbri Cairo
Cairo, PenaOne - Wakil Ketua Komisi II DPR RI Fandi Utomo menyebut, dalam menghadapi keputusan Amerika Serikat (AS) yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, seluruh negara-negara di dunia yang peduli dengan perdamaian dunia harus bersatu untuk mendukung Palestina.

Fandi yang juga menjadi Ketua Delegasi Parlemen Indonesia-Mesir menyebut, selain membahas isu pentingnya daerah dalam perekonomian nasional, isu pengakuan AS atas Yerusalem yang menjadi concern Indonesia dan Mesir

Hal tersebut terangkat dalam pembahasan pertemuan Parlemen Indonesia-Mesir di Cairo, kemarin, Selasa (12/12/2017).

Selain seruan untuk Palestina, kedua parlemen juga membahas perkembangan terakhir di kawasan, khususnya ucapan duka cita rakyat Indonesia kepada rakyat Mesir atas serangan ke Masjid Raudhah, Sinai Utara.

"Atas nama rakyat Indonesia, Parlemen Indonesia ucapkan simpati yang mendalam atas serangan tersebut ", jelas Fandi.

Dia juga menyampaikan penerapan desentralisasi di kedua negara memang berbeda. Namun lanjutnya, kedua negara memiliki semangat yang sama, "Sama seperti di Indonesia, saat ini semangat untuk memberdayakan daerah melalui desentralisasi juga menjadi isu utama di Mesir".

Pertemuan dengan Parlemen Mesir kemarin merupakan bagian dari rangkaian kunjungan resmi Komisi II DPR RI ke Mesir pada 12 Desember 2017. Tujuan dari kunjungan delegasi yang dipimpin Wakil Ketua Komisi II, Fandi Utomo, tersebut adalah melakukan studi banding mengenai pembangunan daerah.

Selain bertemu Parlemen Mesir, delegasi juga bertemu dengan think tank pemerhati dan peneliti kebijakan publik, khususnya isu-isu desentralisasi di Mesir.

Sementara itu, menanggapi pertemuan tersebut, Dubes RI untuk Mesir, Helmy Fauzy mengatakan Mesir dan Indonesia perlu terus mendorong dan menjadi inisiator dalam menyatukan langkah-langkah komunitas internasional dalam mendukung kemerdekaan Palestina.

"Kedua negara punya latar belakang historis dan peran penting terhadap perjuangan politik Palestina," jelas Helmy. (*/anis)