Faisal Assegaf: Lakon 'Politik Kuda Liar' Fadli Zon Untungkan Penyebar Hoaks



Faisal Assegaf
Jakarta, PenaOne - Faizal Assegaf Ketua Progres '98 menganggap, rangkaian manuver Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon  lebih mengandalkan isu-isu destruktif dan makin mengarah pada penyaluran dendam politik.

"Perilaku dan pendekatan tersebut, sangat memprihatinkan, jauh dari etika serta berpotensi menyuburkan gosip-gosip politik identitas demi memilihara sentimen kebencian dan ikatan emosional pengikutnya," katanya dalam pesan elektronik yang dikirimkan ke PenaOne.com Kamis (28/2/2018).

Menurut Faisal Assegaf, tidak ada upaya pencerahan dan komitmen Fadli Zon untuk mendorong kesadaran berpolitik dan berdemokrasi yang sehat.

Baca: Hasil Poling Fadli Zon, 75 Persen Ingin Presiden 

Walhasil, sebagai petinggi partai yang berada di sentrum oposisi, lakon 'politik kuda liar' yang dipraktekkan Fadli Zon memberi keuntungan bagi kelompok penyebar hoaks.

"Suka atau tidak, berbagai kritikan yang dilancarkan oleh Fadli Zon dalam mengoreksi kekuasaan Jokowi, terkesan hanya menargetkan penciptaan kegaduhan di ruang publik tanpa memberi solusi apapun," ujarnya.

Akibatnya, kata pendiri alumni presidium 212 ini, akal sehat dan nurani rakyat dibuat terjebak dalam aneka retorika politik yang tidak mendidik, tendensius dan menyiram prasangka sesama anak bangsa.

Pertunjukan model 'politik kuda liar' ala Fadli Zon, kini semakin menemukan kohesi dengan perilaku dan watak kelompok penyebar hoaks.

Baca: Ratusan Aktivis 98 akan Bergabung ke KNP Jokowi

"Tampaknya kedua pihak saling memperluas barisan kebencian dengan kebebasan berpendapat sebagai arena penyaluran kebencian dan hasutan kepada lawan politiknya," jelas Faisal.

Kalau hal itu dibiarkan, masih menurytnya, tentu dapat berakibat buruk dan akan berakumulasi pada tujuan-tujuan jahat untuk merusak tatanan kehidupan berbangsa.

"Namun saya kira mayoritas rakyat yang masih berpikir waras dan cerdas, tidak akan terjebak dengan hasutan politik Fadli Zon. Dia justru semakin terstigma sebagai lokomotif politik identitas dan menjadi idola kelompok penyebar hoaks," demikian Faisal Assegaf menjelaskan. (buri/tan)