Mirwan Amir Bantah Kirim Surat ke Metro TV dan Media Indonesia


Jakarta, PenaOne - Mirwan Amir, saksi Setya Novanto dalam sidang kasus dugaan korupsi E-KTP membantah telah mengirimkan surat kepada Pemred Metro TV dan Media Indonesia.

Mirwan secara tegas mengatakan, jika dirinya tidak pernah menulis surat tersebut.

"Surat tersebut adalah hoax alias bohong. Isinya juga penuh fitnah dan hoax," ujar Mirwan dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi PenaOne.com (6/2/2018).

Ditegaskannya, keterangan saya di persidangan adalah kejadian yang sesungguhnya. Tidak ada maksud untuk memojokkan pihak-pihak tertentu, termasuk SBY.

"Juga tidak ada nada tuduhan kepada SBY. Keterangan saya di persidangan juga tidak terkait dengan urusan atau kepentingan orang lain atau pihak lain mana pun juga. Itu adalah keterangan pribadi saya sebagai saksi di persidangan," kata mantan politisi partai Demokrat ini.

Dirinya berharap kepada siapapun yang menulis surat hoax tersebut sebaiknya segera sadar bahwa fitnah itu keji.

"Fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Mari kita dukung gerakan anti hoax," pungkas Mirwan Amir.

Sebelumnya di WhatApss beredar pernyataan Mirwan Amir yang mengirimkan surat kepada Pemred Metro TV dan Media Indonesia. Berikut pesan Mirwan Amir yang beredar.

Kepada Yth
Rimpinan Redaksi METRO TV dan Media Indonesia

Pertama-tama saya mohon maaf, tidak bisa memenuhi permintaan wawancara apalagi hadir di studio dengan tema wawancara soal keterlibatan SBY dan E KTP.

Kondisi saat ini tidak memungkinkan, keluarga saya alami stress berat bahkan terpaksa setahun terakhir saya ungsikan ke australia.

Namun saya akan klarifikasi saja apa yang sebenernya terjadi dalam persidangan 25 Januari 2018 lalu.

Menurut saya, Saat ini terjadi kesimpangsiuran berita persidangan kasus E KTP antara keterangan saya di ruang pengadilan dan keterangan Firman Wijaya luar sidang di pengadilan 25 Januari lalu. Berikut klarifikasi saya:

Saat ditanya Saudara Firman Wijaya tentang apakah saya tahu tentang Projek E KTP, saya menjawab tidak tahu. Karena saya memang tidak tahu seperti yang saya kemukakan pada sidang sebelumnya sebagai saksi Irman dan Andi narogong.

Lalu saya kembali dicecar oleh saudara Firman wijaya terus seperti memaksa saya agar mengetahui kasus itu, padahal saya tidak tahu menahu,

Hal itu juga yang saya kemukakan saat saya, saan mustofa dan Firman Wijaya menengok Anas Urbaningrum seminggu sebelum sidang itu, di Sukamiskin. 

Namun atas desakan Firman Wijaya dan saan Mustofa dengan alasan untuk menyelamatkan Anas urbaningrum dari tuduhan KPK serta agar Pak Setya Novanto bisa mendapatkan Justice Collaborator dari KPK sehingga tidak dihukum maksimal, maka saya dipaksa mengarang cerita.seolah-olah ada kekuatan besar selain Setya novanto. 

Awalnya saya menolak, tapi karena terus didesak, akhirnya terpaksa saya ikuti kemauan mereka dengan diiming-imingi janji.

Akhirnya, di persidangan 25 januari itu, atas pertanyaan kedua yang memaksa dari Firman Wijaya, saya terpaksa menjawab saya tahu masalah E KTP itu memiliki problem atas Informasi Yusnan Solihin, agen penyedia produk Automated Fingerprint Identification System (AFIS). 

Kalimatnya kurang lebih begini yang saya karang: "Saya mendengar dari Pak Yusnan, program e-KTP ini ada masalah. Maka itu, Pak Yusnan menulis surat kepada pemerintah tim (pemenangan) 2009. Saya katakan kalau tidak baik, lebih baik tidak dilanjutkan, Informasi itu kemudian saya teruskan kepada SBY di kediaman pribadinya di Cikeas, Bogor. SBY memilih tetap melanjutkan proyek demi kepentingan Pilkada."

Atas keterangan saya itu saya dijamin oleh Firman Wijaya tidak akan dilibatkan apapun oleh Setya Novanto dalam keterangannya nanti sebagai JC.

Firman, Anas dan Saan Mustofa bahkan memaksa saya menyebut nama Ibas terlibat, saya tolak. Karena memang saya tidak pernah tahu. Untuk hal ini penolakan saya diterima oleh mereka. 

.Tapi sekarang, Saya merasa dikhianati, karena ternyata saya mendapat permintaan tertulis dari pengacara Setya Novanto atas pengajuan JC Setya Novanto ke KPK melibatkan nama saya sebagai penerima uang korupsi E KTP di luar enam nama lainnya yaitu, Ganjar Pranowo, Olly, Yasona Laoly< Haeruman harahap, Tamsil Linrung, dan Arif Wibowo.. Saya benar-benar dikhianati oleh Firman Wijaya, Saan Mustofa dan Anas Urbaningrum. 

Terus terang dalam kasus ini saya tidak terlibat dan tidak tahu menahu, silahkan buktikan saja oleh pengadilan dan Setya Novanto aliran duitnya.

Kalaupun saat ini berdedar keterangan Firman Wijaya di luar persidsngan yang menyatakan SBY adalah aktor atau nama besar di balik korupsi E KTP, itu sama sekali bukan keterngan saya. Saya tidak pernah menyebutnya. Silahkan dicek di sejumlah media yang menyaksikan persidangan hari itu, Sekali lagi itu kesimpulan pribadi dari saudara firman Wijaya yang tanggung jawabnya bukan pada saya.Saya tidak pernah menyebut SBY aktor dibalik korupsi E KTP

Demikian keterangan saya, dibuat dengan sebenar-benarnya, Demi Alloh inilah yang terjadi sebenernya

Klarifikasi saya ini meski untuk Metro TV dan Media Indonesia, namun saya izinkan dikutip oleh siapapun.

Senin 5 Februari 2018
                                                                              Mirwan Amir.