121 Calon Siswa Al-Azhar Korban Calo Ikuti Tes di Cairo

Helmy Fauzi (tengah)

Cairo, PenaOne - Sebanyak 121 dari 125 pendaftar online calon mahasiswa Al-Alzar Mesir mengikuti tes tertulis  dan wawancara yang diselenggarakan Kementerian Agama (Kemenag) RI di kantor KBRI Cairo Mesir 19-20 Maret.

Peserta tes tersebut terdiri dari 78 laki-laki dan 43 perempuan. Dari jumlah tersebut, 95 di antaranya merupakan bagian dari list grup 122 calon mahasiswa yang terkatung-katung di Mesir.

Baca: Kemenag Pastikan 122 Calon Mahasiswa Al-Azhar Korban Broker

Duta Besar RI Cairo, Helmy Fauzy, mengatakan, kegiatan ini sebagai upaya mewujudkan komitmen Pemerintah dalam melindungi WNI di luar negeri, Kementerian Agama RI melaksanakan Tes Khusus untuk pelajar Indonesia non-prosedural, yaitu pelajar yang berangkat ke Mesir tanpa mengikuti seleksi yang setiap tahun diselenggarakan Kemenag RI di tanah air.

Tes Khusus ini lanjutnya, dilaksanakan oleh Kemenag RI bekerja sama dengan Direktorat Perlindungan WNI dan BHI Kemlu RI dan difasilitasi oleh KBRI Cairo.
Peserta tes calon mahasiswa Al-Alzhar sedang menjalni tes tertulis. @foto KBRI Cairo

Dalam sambutannya pada saat pembukaan Tes Khusus Helmy Fauzy, menegaskan, tes ini merupakan wujud nyata hadirnya negara dalam upaya menyelesaikan persoalan yang dihadapi puluhan pelajar WNI yang diberangkatkan secara ilegal oleh oknum mediator/broker yang tidak bertanggung jawab.

"Sejak di tanah air, mereka telah diiming-imingi janj-janji manis untuk dapat studi S1 di Universitas Al-Azhar meski tanpa mengikuti tes yang diselenggarakan oleh Kemenag RI," ujar Helmy dalam siaran persnya kepada Redaksi PenaOne.com Rabu (21/3/2018).

Selain itu, kata dia, para pelajar tersebut telah dipungut biaya yang tidak wajar oleh para oknum mediator. Pemungutan biaya tersebut terjadi, baik sebelum keberangkatan maupun setelah tiba di Mesir. Hal inilah yang menyebabkan mereka terlantar di Mesir, sebab mereka tidak diterima di S1 Al-Azhar.

Baca: Alumni Al-Azhar: Kalau ada Pelanggaran Silahkan Proses!

"Akibatnya, mereka hidup di Mesir secara ilegal dan tidak memiliki izin tinggal. Hal ini tentu saja sangat membahayakan para pelajar tersebut, sebab jika mereka tiba-tiba terkena razia aparat keamanan Mesir, maka saat itu juga mereka akan ditangkap dan dideportasi".

“Untuk itu, Pemerintah sangat concern menyelesaikan persoalan ini dari hulu hingga hilir, dengan mengadakan Tes KhususPlui Tes Khusus ini, Pemerintah ingin menyaring para pelajar yang memang benar-benar layak dan memenuhi syarat mendaftar S1 di Al-Azhar, sekaligus menindak pihak-pihak yang telah menjadikan mereka terlantar dan menjanjikan janji-janji manis,” imbuh Duta Besar.


Duta Besar juga menegaskan hal terpenting lainnya yang menjadi concern Pemerintah adalah bahwa Tes Khusus ini tidak boleh menjadi preseden buruk di masa yang akan datang, apalagi jika ia menjadi modus pengiriman pelajar secara ilegal.

Baca: Cegah Calo, 98 Institute Minta Kemenag Tetapkan Biaya Masuk Al-Azhar Mesir

"Kedepan, Pemerintah tidak akan menyelenggarakan Tes Khusus lagi untuk mereka yang tetap datang ke Al-Azhar secara ilegal. Semua pelajar dan mahasiswa yang datang dan ingin studi di Universitas Al-Azhar, harus dipastikan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh Kemenag RI, sehingga mereka tidak menjadi korban oknum mediator," jelasnya.

Siapapun yang melanggar aturan, lanjut Helmy, maka yang bersangkutan akan menanggung resikonya masing-masing.
Kepada para peserta Tes Khusus, Duta Besar berpesan, agar seluruh peserta mengikuti Tes Khusus ini secara serius. Taatilah segala tata aturannya dan jadikan kehadiran Tim dari Kemenag RI dan Kemlu RI ini sebagai hadirnya orang tua kalian yang memiliki itikad membela dan menyelamatkan kalian dari ketidakpastian serta tipu daya para oknum mediator.

Bantulah para petugas tersebut menyukseskan tugasnya dengan bersikap terbuka kepada mereka, terutama jika para petugas tersebut memerlukan informasi dari kalian.

"Dengan sikap terbuka ini, maka berarti kalian telah membantu pemerintah dalam menutup peluang terjadinya kembali korban-korban baru yang lebih parah setelah kalian," demikian Helmy Fauzi menjelaskan. (tan/as)