'98 Insitute Minta Mabes Polri Bongkar Sindikat Pengiriman Camaba ke Al-Azhar


Sayed Junaidi Rizaldi
Jakarta - Direktur Eksekutif '98 Institute Sayed Junaidi Rizaldi meminta Bareskrim Mabes Polri membongkar sindikat dugaan tindak pidana dibalik penerimaan 122 calon mahasiswa baru (camaba) Universitas Al-Azhar Mesir dari Indonesia yang saat ini sudah berada disana.

Baca: Ratusan Camaba Al-Azhar dari Indonesia Kabarnya Terkatung-katung

Penerimaan mahasiswa Al-Azhar harus transparan dan tidak mengutamakan kepentingan kelompok maupun golongannya sendiri.

"Integritas calon mahasiswa Al-Azhar harus dikedepankan," kata Sayed dalam keterangan tertulis yang diterima PenaOne.com Minggu (4/3/2018).

Dirinya mengakui, telah mendengar kabar jika saat ini ada 122 calon mahasiswa Al-Azhar yang sudah berada di Mesir. Namun, kata Sayed, kedatangan mereka tersebut belum melalui test dari Kementerian Agama (Kemenag).

Baca: DPR Minta Polisi dan Kemenag Telusuri Dugaan TPPO 122 Camaba Al-Azhar

"Sesuai kesepakatan antara pemerintah Indonesia dan Univesitas Al-Azhar mahasiswa yang akan kuliah disana harus melalui test dari Kemenag. Kenapa hal ini bisa terjadi," ujarnya.

Pak Cik, sapaan akrab Sayed Junaidi Rizaldi menduga selain 122 camaba ini masih banyak camaba universitas Al-Azhar dari Indonesia yang saat ini sudah berada di Mesir namun belum bisa masuk bangku kuliah.

Baca: KBRI Cairo Bantah Dilibatkan Proses Penerimaan  Mahasiswa Al-Azhar

"Sindikat pengiriman camaba ini harus dibongkar. Jangan sampai merugikan anak bangsa yang ingin mengenyam pendidikan disana," ungkap Pak Cik.

Selain Kemenag, Ikatan Alumni Mahasiswa Al-Azhar di Indonesia juga mempunyai peran penting dalam hal pengiriman ini. Karena, menurutnya, Ikatan alumni Al-Azhar di Indonesia yang diberikan 'fasilitas' untuk merekrut calon mahasiswa ini.

"Siapapun yang terlibat dalam sindikat dalam jaringan ini harus dibongkar. Kami yakin Kapolri Jenderal Tito Karnavian mampu mengungkap kasus ini," urainya.

Baca: Mahasiswa Kampar yang-m Ditahan di Mesir Dibebaskan

Pak Cik yang turun langsung dilapangan saat peristiwa reformasi 1998 ini tidak ingin semangat reformasi dinodai sekelompok orang yang ingin mencari keuntungan semata.

"Kami tidak rela jika reformasi yang telah kami perjuangkan selama ini ternoda oleh segelintir orang," demikian Pak Cik   menjelaskan. (tan/amril)