Calon Independent Sulit untuk Menang

PEMILIHAN Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku Juni mendatang  sangat menarik. Karena, salah satu pasangan calon berasal dari jalur independent.

Memang, ini bukan suatu sejarah baru dalam pemilihan kepala daerah. Dan, tidak ada yang salah dengan hadirnya pasangan calon dari jalur independent di alam demokrasi saat ini. Namun, ironisnya pasangan calon dari jalur independent  yang bertarung dalam setiap pemilihan kepala daerah belum pernah berhasil memperoleh kemenangan.

Jika, pasangan calon jalur independent itu ‘pure’ (murni) dari awal memilih jalur tersebut. Maka, pasangan calon jalur independent akan menjadi pilihan alternatif bagi masyarakat. Tetapi, pada umumnya para pasangan calon kepala daerah yang memilih jalur independent tidak berproses dari awal secara murni menentukan sikap sebagai pasangan calon independent.

Faktanya, sebagian besar pasangan calon independent sebelumnya pernah mendaftarkan diri sebagai bakal calon pada partai-partai politik yang ada. Kemudian, tidak lolos mendapatkan rekomendasi partai. Sehingga menjadikan jalur independent sebagai pilihan kedua. Dan, bukan menjadikan jalur independent sebagai pilhan tunggal sejak awal oleh para calon independent tersebut.

Diatas kertas, para calon kepala daerah dari jalur independent sudah bisa dipastikan kalah. Jika, tolak ukur keberhasilan itu di ukur dari para pasangan yang di usung oleh partai politik. Karena, percaya tidak percaya atau suka tidak suka para calon yang di usung oleh partai politik mempunyai jaringan infrasturktur yang jauh lebih kuat ketimbang pasangan calon dari jalur independent.

Tetapi, pasangan calon dari jalur independent masih mempunyai ‘kemungkinan’ menang. 

Kemenangan calon independent bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya, ada para oknum partai politik yang tidak loyal dengan bermain pada dua kaki dan berkhianat pada keputusan partai politiknya sendiri. Dan, itu akan membuka sedikit peluang bagi kemenangan calon independent.  Tetapi, tidak semudah itu. Karena, para calon dari independent masih harus kerja extra  keras berhadapan dengan para pemilih cerdas yang rasional dan obyektif.

Pemilih cerdas akan berpikir jauh lebih panjang. Karena, para pemilih cerdas tidak hanya berpikir sebatas siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Bagi pemilih cerdas yang menginginkan terjadinya perubahan di Maluku tidak akan berpikir sesederhana itu. Maka, para pemilih cerdas tidak akan memilih calon dari jalur independent. Karena, calon independent memiliki kosekuensi yang berat. Sebab tanpa dukungan partai politik, maka kebijakan yang dibuat saat menjadi kepala daerah akan mengalami hambatan. Hal ini disebabkan, karena tidak adanya dukungan  penuh dari lembaga legislatif. Sehingga, dikhawatirkan pemerataan pembangunan sosial dan ekonomi serta lainnya tidak akan berjalan sesuai harapan.

Selain itu, visi dan misi dari calon kepala daerah jalur independent akan berbeda dengan visi dan misi lembaga legislatif yang berasal dari  partai politik. Ini mengakibatkan kinerja untuk mencapai visi kepala daerah dari jalur independent menjadi kurang efektif. Kalaupun calon jalur independent menang bukan berarti harapan masyarakat luas yang haus akan perubahan akan terwujud dengan semudah yang dibicarakan.

Logikanya, para calon kepala daerah yang menang melalui jalur partai politik saja masih mengalami kesulitan mewujudkan visi dan misinya. Apalagi, calon dari jalur independent yang tidak mempunyai dukungan partai politik di legislatif. Jadi, para calon dari jalur independent sulit untuk untuk menang.

Oleh: Arnold Thenu
Ketua FORMAMA ( Forum Masyarakat Maluku)