DPR Minta Polisi dan Kemenag Telusuri Dugaan TPPO 122 Camaba Al-Azhar

Khatibul Umam Wiranu
Jakarta, PenaOne - Anggota Komisi VIII DPR RI Khatibul Umam Wiranu meminta
Kepolisian dan Kementerian Agama (Kemenag) mengusut apabila ada dugaan tindak pidana trafiking dalam kasus 122 calon mahasiswa baru (Camaba) universitas Al-Azhar Mesir.

Baca: Ratusan Camaba Al-Azhar dari Indonesia Kabarnya Terkatung-katung

"Jika benar ada indikasi telah terjadi penipuan terhadap sebagian camaba Al-Azhar tersebut, maka kita menghimbau KBRI di Cairo bekerja sama dengan polisi setempat, serta pihak Kemenag bersama Kepolisian RI untuk mengusut dugaan penipuan dan tindak pidana Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang dilakukan sejumlah oknum WNI terhadap para bakal calon mahasiswa baru ini," kata Umam dalam pesan elektronik yang dikirimkan ke Redaksi PenaOne.com Minggu (4/3/2018).

Baca: Mahasiswa Kampar yang Ditahan  di Mesir Dibebaskan 

Memang, kata Umam, dalam menanggapi masalah ini kita harus hati-hati dan teliti dalam mencari informasi yang benar mengapa kasus ini bisa terjadi.

Menurut Umam, harus ditanyakan kepada mereka para bakal calon mahasiswa atau camaba apakah mereka mengikuti prosedur resmi yg sudah disepakati antara pihak Al-Azhar dengan Kemenag RI atau apakah mereka “terjun bebas”?

Sebab, lanjutnya, setiap tahun Kemenag bersama asosiasi alumni Al-Azhar menyelenggarakan tes untuk masuk menjadi mahasiwa Al-Azhar. Tentu saja ada yang lulus diterima dan ada yang tidak lulus.

Baca: KBRI Cairo Fasilitasi Test 122 Camaba Al-Azhar

"Kasus camaba sekarang ini masuk katagori “terjun bebas” tanpa melewati proses di Kemenag RI," ungkapnya.

Terjun bebas dalam arti mereka datang ke Cairo karena mungkin saja terpengaruh oknum-oknum “pemberi harapan palsu alias PHP” yang menjanjikan dapat langsung diterima di Al-Azhar tanpa mengikuti proses seleksi dan prosedur masuk Universitas Al-Azhar yang telah ditetapkan bersama antara Al-Azhar dan pemerintah RI melalui Kemenag RI. Dan jumlah mereka sangat banyak.

Masih menurut politisi partai Demokrat ini, perlu dikonfirmasi lebih dahulu, benarkah terdapat indikasi, camaba ini menjadi korban penipuan dan TPPO oleh sekelompok oknum yang menjanjikan mereka bisa langsung masuk Universitas Al-Azhar tanpa prosedur melalui Kemenag.

Baca: 4 Mahasiswa Asal Indonesia Dibebaskan Aparat Mesir

"Karena beredar informasi yang kami himpun, Komisi 8 menengarai ada oknum yang meminta biaya dalam jumlah tertentu kepada sebagian bakal calon mahasiswa yang dikirim secara non prosedural ini. Tetapi akhirnya membuat mereka terkatung-katung di Mesir karena tak dapat diterima di Universitas Al-Azhar dan ditambah persoalan lain yaitu tidak mempunyai izin tinggal yang sah di Mesir," ungkapnya.

Menurut Umam lagi, teman-teman Komisi VIII DPR RI sudah menanyakan kepada Kemenag RI, juga Kedutaan Besar Republik Indonesia di Cairo, bahwa mereka datang ke Mesir tanpa memperoleh Rekomendasi dari Kemenag.

"Bahkan Dirjen Pendis (Pendidikan Islam) sudah datang ke Cairo dan bertemu mereka para camaba yang pergi tanpa rekomendasi Kemenag," jelasnya.

Dalam masalah ini masih kata Umam, Dirjen Pendis dan KBRI berusaha membantu mereka dengan melakukan tes bagi mahasiswa yg mau masuk Al-Azhar atau mengikuti persiapan (i’dad) dulu sebelum mengikuti tes masuk.

"Kami sudah dapat konfirmasi bahwa KBRI di Cairo sendiri sudah siap akan memfasilitasi test masuk istimewa bagi sekitar 122 camaba tsb dalam bulan Maret ini," tuturnya.

Tetapi jika benar ada indikasi telah terjadi penipuan terhadap sebagian camaba Al-Azhar tersebut, maka kita menghimbau KBRI di Cairo bekerja sama dengan polisi setempat, serta pihak Kemenag bersama Kepolisian RI untuk mengusut dugaan penipuan dan tindak pidana TPPO yg dilakukan sejumlah oknum WNI terhadap para bakal calon mahasiswa baru ini.

Baca: Rencana Pungutan Zakat 2,5 % PNS Tak Penuhi 3 Unsur 

Dirinya menenggarai, kasus seperti ini sudah menjadi modus setiap tahun, ada oknum yang mengambil keuntungan dg modus seperti ini.

"Bahkan masih ada yang dimintai dana kepada para camaba  dengan alasan untuk mengupayakan mereka bisa diterima Al-Azhar," ujarnya.

Umam menambahkan, para camaba pada posisi yang lemah berhadapan dengan oknum yang menjanjikan mereka bisa langsung kuliah di Al-Azhar itu. Tercatat sampai sekarang ada 1500 lebih camaba yang belum jelas nasibnya.

Baca: Dubes Mesir Terima Belasan Pengusaha Kopi dan Sawit

Jika ini benar maka pihak yang berwenang harus terus mengejar aspek pidana dari kasus ini, dan menindak aktor intelektual dibalik pengiriman non prosedural dan penipuan thd para bakal camaba ini.

"Karena jika tidak, maka akan terus menerus menjadi preseden dan memakan korban para calon mahasiswa baru," demikian Khatibul Umam Wiranu menjelaskan. (tan/anis)