Bagaimana Bayi Bernapas dalam Rahim? 


JIKA Anda penasaran bagaimana bayi bernapas dalam rahim, ketahui penjelasannya di sini.
Topik mengenai segala hal seputar bayi dalam kandungan pasti selalu menarik bagi para wanita, khususnya ibu hamil. Setiap ibu atau calon ibu pasti ingin tahu bagaimana kondisi dan perkembangan janin dalam kandungan setiap minggunya, bahkan kalau bisa setiap hari.

Salah satu hal menarik yang sering membuat penasaran bagi para calon orang tua adalah tentang bagaimana bayi bernapas dalam rahim ibunya. 

Sama halnya dengan orang dewasa, janin dalam kandungan pun memerlukan oksigen untuk perkembangan organ-organ tubuhnya. 

Namun, seperti dikutip klikdokter.com Rabu (25/4/2018) cara mendapatkan oksigen pada bayi berbeda. Bayi dalam rahim tidak bernapas menggunakan mulut ataupun hidung, melainkan melalui ibunya.

Saat ibu hamil bernapas, akan terjadi pertukaran oksigen dan karbon dioksida di paru ibu. Oksigen tersebut akan dibawa dalam darah ke seluruh bagian tubuh, termasuk janin. Tali pusar dan plasenta berperan membawa oksigen serta seluruh nutrisi lain yang diperlukan oleh janin. 

Dalam tali pusar pula terjadi pertukaran antara oksigen dan karbon dioksida. Inilah sesungguhnya cara bayi bernapas.

Bayi belajar bernapas dalam rahim

Meskipun kebutuhan oksigen sepenuhnya didapat dari ibunya, bayi tetap melakukan simulasi pernapasan selama ia ada dalam rahim. Sejak usia 10 minggu, janin akan mulai “menghirup” sedikit cairan amnion (cairan ketuban). Gerakan menghirup ini sebenarnya lebih menyerupai menelan dan bertujuan untuk mengembangkan paru. Di usia 32 minggu, bayi akan mulai melakukan simulasi gerakan bernapas yang melibatkan pengembangan dada.

Organ paru bayi cukup matang dan siap untuk menyokong hidupnya di luar rahim saat memasuki usia 36 minggu. Itulah sebabnya sebaiknya bayi dilahirkan ketika usia kehamilan setidaknya sudah 36 minggu. Selain paru-paru, satu hal yang penting juga untuk mendukung pernapasan bayi adalah alveoli dan surfaktan dalam paru.

Alveoli adalah kantung-kantung kecil dalam paru yang berfungsi sebagai tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida, sementara surfaktan adalah suatu senyawa yang tersusun atas lemak dan protein dan berfungsi untuk mempertahankan alveoli mengembang ketika lahir.

Semua hal tersebut akan mulai berfungsi sebagai organ pernapasan saat bayi dilahirkan. Bayi bernapas pertama kali ketika lahir ditandai dengan menangis. Proses transisi dari lingkungan dalam rahim ke dunia luar adalah hal yang sangat vital. Bila dapat dilalui dengan baik, maka bayi akan dapat bertahan hidup. Setelah itu, seiring berjalannya waktu, jumlah alveolinya akan bertambah, paru-parunya pun akan terus berkembang dan semakin kuat melalui berbagai aktivitas yang dilakukan bayi.

Lakukan ini untuk mencegah gangguan pernapasan pada bayi

Gangguan pernapasan pada bayi yang baru lahir adalah hal yang sangat mengancam nyawa. Beberapa contoh kondisinya adalah respiratory distress syndrome (RDS), pneumonia, dan penyakit membran hialin. 

Penyebab paling sering dari berbagai gangguan pernapasan tersebut adalah kelahiran prematur. Untuk itu, setiap ibu perlu mencegah kelahiran prematur agar masalah-masalah tersebut tidak terjadi. 

Caranya adalah dengan melakukan beberapa modifikasi gaya hidup, seperti:

1. Hindari makan makanan yang tidak matang atau setengah matang. Makanan yang tidak dimasak hingga matang, terutama daging, berpotensi menyebabkan infeksi TORCH saat hamil. Infeksi ini menyebabkan bayi rentan mengalami cacat bawaan dan kelahiran prematur.

2. Hentikan kebiasaan merokok dan minum alkohol. Sudah ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa rokok dan alkohol sangat buruk efeknya bagi kehamilan, seperti meningkatkan risiko keguguran, cacat bawaan, dan prematuritas.

3. Batasi konsumsi kafein, baik dari kopi maupun teh. Kafein boleh dikonsumsi dalam batas aman oleh ibu hamil. Namun, bila dikonsumsi secara berlebihan dapat menyebabkan bayi lahir dengan berat yang rendah atau lahir prematur.

4. Rutin berolahraga. Olahraga aerobik ringan, seperti jalan santai atau berenang, dapat menguatkan jantung dan paru ibu serta meningkatkan aliran oksigen dalam tubuh ibu, sehingga oksigen untuk janin pun akan semakin banyak.

Bayi memang belum benar-benar bernapas saat ia masih dalam rahim. Mengingat kebutuhan oksigennya didapat dari sang ibu, karena itu setiap ibu hamil harus benar-benar memperhatikan apa yang ia konsumsi. Ibu hamil juga perlu terus menjaga staminanya supaya bayi di dalam kandungan selalu mendapat cukup nutrisi dan oksigen. (anis)