Menulis Puisi Esai dari Perspektif Seorang Jurnalis

Oleh: Satrio Arismunandar


PENGGAGAS puisi esai, Denny JA, berulang kali menyatakan, ia menginginkan puisi kembali ke tengah gelanggang, dan tak hanya milik para “penyair karir.” Penyair karir di sini secara sederhana saya artikan sebagai sosok yang secara brand lebih dikenal publik sebagai penyair/sastrawan/seniman, walau mereka mungkin juga menggeluti kerja-kerja lain.

Brand itu muncul secara alami karena mereka telah mendedikasikan banyak energi, sumber daya, dan kerja keras, untuk kepenyairannya, dan mungkin juga telah menghasilkan karya-karya puisi yang  berkualitas tinggi. Sapardi Djoko Damono, misalnya, adalah “penyair karir” walaupun beliau juga berprofesi sebagai dosen di Fakultas llmu Pengetahuan Budaya UI.

Per definisi, tiap orang yang menulis puisi atau syair bisa disebut sebagai penyair. Namun, sebutan “penyair karir” mengisyaratkan bahwa orang tersebut menjadikan penulisan puisi dan kerja kepenyairan sebagai bagian utama atau bagian penting dalam kehidupannya. Ini memang agak subyektif. Maka, jika seseorang hanya menulis satu atau dua puisi dalam setahun, tentu sulit masuk kategori “penyair karir.”

Namun, seberapa penting sebenarnya mengajak mereka yang “bukan penyair karir,” untuk juga menuliskan pengalaman batin dan opini sosialnya dalam puisi esai? Puisi Esai, menurut saya, memang berpotensi untuk mengajak mereka yang “bukan penyair karir,” untuk menuliskan pengalaman batin dan opini sosialnya. Ini menjadi penting dalam konteks bangsa Indonesia, yang tampaknya kurang memiliki tradisi membaca dan menulis yang kuat.

Berdasarkan studi "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Sungguh memprihatinkan.

Orang Indonesia mungkin termasuk “jago ngobrol,” tetapi sangat parah dalam membaca dan menulis. Budaya membaca dan menulis perlu ditumbuhkan sedini mungkin. Maka setiap ada sarana atau tool, yang berpeluang untuk meningkatkan kemampuan dan kebiasaan membaca dan menulis, hal itu harus kita dukung. Puisi Esai adalah salah satu tool tersebut.

Apa yang membuat “bukan penyair karir” tertarik juga menulis puisi esai? Tentu saja jawabannya akan sangat bervariasi, tergantung situasi dan kondisi masing-masing individu. Maka, saya akan menjawab berdasarkan pengalaman saya sendiri. Sebetulnya sejak masih sekolah di SD, saya sudah suka menulis. Pada 1980-an saya sudah menulis puisi, esai, laporan perjalanan, resensi buku, cerita pendek, dan berbagai artikel untuk media cetak.

Saya sudah menjalani profesi jurnalis lebih dari 25 tahun, sejak menjadi jurnalis Harian Pelita pada 1986. Pelita saat itu adalah koran milik Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang diambil-alih oleh Golkar. Waktu itu saya juga masih berstatus mahasiswa Jurusan Elektro Fakultas Teknik UI.

Sebagai jurnalis, menulis puisi esai itu terasa “dekat” dengan pengalaman menulis berita atau feature bertema sosial untuk media cetak. Bedanya adalah jurnalisme secara tegas memisahkan antara opini dan fakta, sedangkan --dalam puisi esai—fakta/data bisa “sah” bercampur dengan opini dan fiksi.

Seperti halnya menulis puisi esai, dalam menulis berita, sang jurnalis juga sedikit banyak harus mengumpulkan data untuk melengkapi isi beritanya. Oleh karena itu, menulis puisi esai --yang menuntut penggunaan “riset kecil-kecilan” atau pencarian data untuk memperkuat latar belakang kisahnya—seolah-olah adalah “satu langkah melampaui jurnalisme.”

Bagi saya sebagai jurnalis, menulis puisi esai itu terasa alamiah dan tidak sulit. Bedanya dengan berita bertema sosial yang saya tulis untuk media, dalam menulis puisi esai saya membiarkan imajinasi saya bermain dan bergerak bebas. Soal berikutnya lebih bersifat teknis, yakni bagaimana imajinasi itu diwujudkan dalam kata, kalimat, dan baris-baris puisi, yang memiliki nilai estetika dan menuntut penghayatan batin.

Kini ada pandangan bahwa puisi esai telah melampaui peran tradisional puisi, karena juga menjadi “sastra diplomasi.” Dalam kasus hubungan Indonesia-Malaysia, hubungan batin antara kedua negara bisa pula ditulis oleh para diplomat, politisi, pengusaha, atau sejarawan dalam wujud puisi esai.

Komentar saya, mengapa tidak? Sejak dulu seni budaya dan sastra, termasuk puisi esai, bisa menjadi sarana yang menjembatani hubungan kedua negara. Saya ingat, di TVRI era Orde Baru dulu ada program variety show “Titian Muhibah” yang menampilkan artis-artis terkenal Malaysia. Pada saat yang sama, di TV Malaysia juga disiarkan “Titian Muhibah,” yang menampilkan artis-artis terkenal Indonesia.

“Titian Muhibah” ini memang merupakan program kerjasama budaya antara pemerintah Indonesia dan Malaysia, untuk meningkatkan hubungan persahabatan antara rakyat kedua negara. Saat ini program itu di TVRI sudah tidak ada lagi. Tetapi di TV swasta, kita lihat ada program kontes menyanyi dangdut, yang melibatkan peserta dan publik dari negara-negara ASEAN yang berbahasa Melayu. Bedanya, program ini murni swasta, bukan disponsori pemerintah.

Nah, puisi esai tampaknya mengisi kekosongan ini dengan kolaborasi antara sastrawan Indonesia dan Malaysia. Ini adalah kegiatan yang diorganisasikan oleh unsur masyarakat madani (civil society). Saya melihat ini sebagai hal yang positif. Bahkan ada kemungkinan, program ini diperluas dengan melibatkan sastrawan pengguna bahasa Melayu dari Brunei Darussalam, Singapura, dan bahkan mungkin Thailand (Selatan). Kalau ini bisa terwujud, sungguh luar biasa.

Puisi esai terbaru yang saya tulis mengisahkan nasib orang Betawi, warga lama di DKI Jakarta, yang semakin lama semakin tersisih dan terpinggirkan. Sosok orang Betawi di sini dipersonifikasikan pada Mat Ropi, anak tuan tanah Betawi yang dulu pernah berjaya. Tetapi sesudah orang tuanya wafat, Mat Ropi dan keluarga kalah dalam “pertarungan ruang hidup” di Jakarta, dan terpinggirkan.

Mat Ropi mencoba bertarung untuk mempertahankan martabat dan kehidupannya sebagai orang Betawi. Antara lain, lewat menghidupkan sanggar budaya Betawi.  Namun terbukti itu tidak mudah. Nasib belum berpihak padanya. Kini orang Betawi seperti Mat Ropi jadi tersingkir, dan tidak lagi merasa sebagai “tuan rumah” di Jakarta.

Kalau dengan cara liputan jurnalistik biasa, saya bisa membuat tulisan feature tentang Mat Ropi dan keluarganya. Namun, sebebas-bebasnya menulis feature, saya tetap terikat pada fakta. Boleh menggunakan metafora untuk memenuhi selera estetika, tetapi tidak bisa berlebihan juga. Dengan wahana puisi esai, saya lebih leluasa menggunakan metafora dan tentu saja imajinasi, untuk mengembangkan nilai estetikanya.

Satrio Arismunandar adalah penulis buku dan praktisi media. Mantan jurnalis Harian Pelita, Kompas, Majalah D&R, Media Indonesia, Majalah Aktual, Aktual.com, dan Produser Eksekutif Trans TV.