Pengamat: Sidangkan Pelaku Teror

Reza Indragiri Amriel
Jakarta, PenaOne - Pengamat psikolog forensik, Reza Indragiri Amriel mengatakan, pelaku aksi teror, termasuk bermodus bom bunuh diri seperti di Surabaya, Jawa Timur pagi tadi yang tewas selayaknya tetap disidang. Ini disebut sebagai persidangan pasca kematian pelaku (posthumous trial, post-mortem trial).

Menurutnya, mekanisme progresif berupa post mortem trial patut dikenakan atas kebiadaban pelaku kejahatan semacam itu. Terlebih karena yang bersangkutan menyertakan anak-anak dalam misi iblisnya serta menjatuhkan anak-anak sebagai korbannya.

"Setidaknya UU Perlindungan Anak pun dapat diterapkan. Bahwa, siapa pun tidak boleh mengajak anak melakukan kekerasan dan melakukan kekerasan terhadap anak," kata Reza Minggu (13/5/2018).

Masih menurut Reza, posthumous trial adalah jalan agar pelaku laknatullah itu secara pidana (sah dan meyakinkan) divonis bersalah. Lewat persidangan semacam itu, negara membuktikan bahwa kematian bukan merupakan jalan buntu untuk mengejar pertanggungjawaban pelaku. Bahwa negara tetap memburu pelaku sampai ke liang lahat.

"Kematian pelaku bukan gerbang bagi yang bersangkutan untuk menjadi martir, melainkan justru pintu baginya untuk dicap sebagai terpidana aksi teror," jelasnya.

Dijelaskannya, vonis bersalah yang dijatuhkan melalui posthumous trial juga bagian dari keadilan yang diidamkan para korban dan masyarakat. Bahwa negara berpihak pada korban.

"Hukuman dan penghinadinaan atas diri pelaku oleh masyarakat bukan sebatas sanksi sosial, tetapi justru merupakan dendam yang terinstitusionalisasi secara legal," demikian ia menjelaskan.

Pagi tadi, tiga Gereja di Surabaya, Jawa Timur dibom sekitar pukul 07:10. Hanya berselang 5 menit bom berikutnya pun meledak.

Data Polda Jawa Timur menyebut, ada 13 orang menjadi korban ledakan bom tersebut. Sementara korban yang mengalami luka-luka sebanyak  41 orang.