Pertemuan 29 Mei Harus jadi Titik Awal Perubahan

Sayed Junaidi Rizaldi
Jakarta, PenaOne - Aktivis 98, Sayed Junaidi Rizaldi menyebut peristiwa kerusuhan Mei 1998 dan tumbangnya Presiden Soeharto menjadi pengingat kita lagi bahwasanya ada pekerjaan rumah yang belum selesai.

Menurutnya,  kawan-kawan aktivis 98 dimanapun berada tetap berpatokan pada nilai-nilai gerakan 98, yaitu tetap melakukan perubahan dimanapun berada.

Minimal lanjut dia, kita tahu bahwa hasil perjuangan yang kita dapatkan hari ini, bukan 1 hari dan 2 hari, kemudian jangan pernah dilupakan bahwasanya semua orang bisa berbicara hari ini dengan lancar dan lugas, itu tidak terlepas dari perjuangan reformasi 98.

“Dan pada hari ini para  Aktivis 98 juga dituntut secara sejarah untuk bertanggung jawab terhadap reformasi ini, tetapi sampai hari ini kita belum berkuasa penuh,” ungkapnya tegas Minggu (27/5/2018).

Masih menurutnya, yang jelas ada beban dan tanggung jawab sejarah yang harus diselesaikan oleh para aktivis 98.

"Pasca reformasi 98, semuanya saya bilang harus mengamalkan nilai-nilai perjuangan 98 dan ada agenda-agenda kita yang belum selesai yang harus kita wujudkan, seperti masalah pelanggaran HAM dalam tragedi Trisakti, tragedi Semanggi I dan II, yang bisa diselesaikan melalui Pengadilan Judicial misalnya, sementara Presiden Jokowi pernah mengatakan bahwa kasus ini harus diselesaikan, namun mentok di Kejaksaan Agung,” bebernya.

Lanjut Sayed, sampai hari ini juga akhirnya berbalik, tiba-tiba orang-orang yang dulu memusuhi kami, melawan kami,  sekarang mereka  yang seolah-olah reformis. Lalu munculah kelompok-kelompok Ormas yang tidak berlandaskan Pancasila.

“Kita harus ingat, mereka itu adalah orang-orang yang dulu sangat anti reformasi,” tegasnya.

Menurut Sayed, saya masih ingat bahwa sampai hari ini kita para aktivis 98 masih berjuang untuk bagaimana bisa masuk pada lingkaran kekuasaan, sehingga bisa membuat regulasi kebijakan di masyarakat. Karena selagi masih ada darah dan air mata, selagi perjuangan belum selesai, saya mengutip kata-kata Nehru.

“Harapan saya, semangat revolusi dan reformasi 98 harus ada di dada kita semua dan insya Allah buka puasa bersama aktifis 98 pada Selasa 29 Mei nanti akan jadi momentum konsolidasi aktivis 98 dalam rangka menyiapkan Agenda Rembug Nasional Aktifis 98," demikian jelas Pak Cik  panggilannya.

Jadi hari ini, kata Sayed, pemerintah yang sekarang saya anggap sipil, bersih dan terpilih secara demokratis adalah Pak Jokowi.

"Jangan salahkan Pak Jokowi yang terjadi hari ini, karena ini terjadi akibat ulah sekelompok orang yang tidak puas dengan reformasi dan mengawali kebangkitan Orde Baru dengan menggunakan cara-cara licik dan tidak beradab," pungkasnya. (zal/ina)