Puisi Esai Memotret Manusia Gerobak

Oleh: Elza Peldi Taher

KETIKA Denny JA menawarkan saya menulis buku puisi Esai beberapa tahun lalu, saya sempat ragu. Saya bukan penyair, dan merasa tak punya bakat jadi penyair. Saya juga bukan penyuka puisi. Latar belakang saya ilmu sosial dan selama ini lebih asyik menggeluti dunia ilmu sosial. Sejak mahasiswa saya termasuk orang yang tak terlalu berminat pada puisi. Buku buku puisi yang menjadi legenda seperti Kahlil Gibran saya memang punya. Saya membelinya karena seperti yang sering dikatakan banyak orang karya mereka bagus dan menyentuh hati.

Ada semacam pandangan dalam dunia sastrawan bahwa sebuah puisi semakin bagus bila semakin sedikit di mengerti oleh banyak orang dan sebuah puisi menjadi gagal bila makin dimengerti oleh banyak orang.

Mereka yang mengerti itu adalah cukup para penyair saja. Mereka yang bukan penyair memang tidak akan mengerti makna yang terkandung di dalam puisi, karena puisi dibuat memang untuk tidak untuk di mengerti oleh mereka. Pembaca puisi, sama dengan jamaah pendengar mubaligh yang berkhutbah di sebuah mimbar dalam bahasa Arab, yang cukup mendengarkan dengan takzim tanpa harus mengerti apa yang disampaikan.

Riset yang dilakukan oleh Lingkaran Survey Indonesia tahun 2011 ( Denny JA, Jurnal sajak, nomor 3, halaman 69, ) menunjukkan betapa puisi menjadi sesuatu yang asing dalam masyarakat. Dalam riset itu ditemukan bahwa mereka yang tamat pendidikan tinggi sekalipun tidak mengerti dan tidak memahami puisi. Mereka yang pendidikannya menengah dan kebawah lebih sulit lagi memahaminya. Mereka menilai puisi terlalu njelimet. Jika bahasanya saja tidak di mengerti, mereka sulit  untuk tahu apa yang ingin disampaikan puisi itu.

Pemimpin Foundation of Poetry, Jon Barr, yang dikutip oleh Denny JA dalam bukunya, mengatakan puisi semakin sulit dipahami. Penulisan puisi juga makin stagnasi, tak ada perubahan berarti selama puluhan tahun. Publik luas merasa makin berjarak dengan dunia puisi.

Para penyair asyik masyuk dengan imajinasinya sendiri, atau hanya merespon penyair lain. Mereka semakin terpisah dan tidak merespon persoalan yang dirasakan khalayak luas. Karena itu Jon Barr merindukan puisi yang menjadi magnet dibicarakan, dihargai masyarakat dan memotret persoalan zamannya.

Tapi saya memutuskan menerima tawaran Denny JA menulis buku puisi esai. Ada dua hal yang mendorong dan memotivasi saya menulis buku puisi esai.

Pertama, seperti yang jadi jargon utamanya, yang bukan penyair bisa ambil bagian. Jargon ini menjadi magnet bagi orang awam seperti saya untuk menulis. Jargon ini membuka peluang bagi siapapun untuk bisa menuliskan pemikirannya dalam bentuk puisi esai.
Jargon ini mendobrak tabu selama ini bahwa puisi hanya terlahir hanya dari kalangan penyair atau sastrawan saja.

Kedua, seperti yang dikatakan penggagas puisi Esai, Denny JA bahwa puisi esai tak hanya lahir dari imajinasi penyair tapi hasil riset minimal realitas social. Ia merespon isu social yang sedang bergetar di sebuah kominutas, apapun itu.

Puisi esai berbabak dan panjang. Dalam puisi esai selayaknya tergambar dinamikan karakter pelaku aau perubahan sebuah realitas social. Puisi esai menggunakan bahasa sederhana yang mudah dipahami sehingga mereka yang berpendidikan menengahpun  dapat memahami dengan mudah pesan yang disampaikan dalam puisi esai.

Lewat perjuangan berat, tahun 2013, Buku puisi esai saya, Manusia Gerobak, terbit. Buku itu isinya mengungkapkan realitas soial yang berlangsung di sekeliling kita terutama orang orang yang kalah dan terpinggirkan.

Lewat buku itu saya mencoba mengartikulasikan secara jernih tragedi kehidupan dan jeritan kemiskinan di tengah sedikitnya orang yang berempati terhadap mereka.

Manusia Gerobak adalah kisah nyata yang pernah menggemparkan. Seorang manusia gerobak, kematian anaknya, membawa jenazahnya naik kereta api untuk dikuburkan di kampung halamannya karena tak punya biaya pemakan tapi kemudian ditangkap di stasiun Manggarai. Sempat jadi isu hangat karena begitu dramatis kejadiannya.

Setelah membaca buku tulisan saya sendiri,  saya sempat heran mengapa saya bisa menulisnya dengan baik sekali, menurut saya, padahal saya sama sekali tak punya pengalaman menulis puisi. Jangankan menulis buku puisi, menulis satu lembar puisi pun saya belum pernah.

Tak lama setelah buku itu terbit saya mendapat kehormatan yang tak pernah saya bayangkan. Saya diundang oleh Soegeng Saryadi untuk membicarakan buku saya tersebut dalam forum dialog di TVRI selama satu jam penuh. Turut hadir sebagai pembicara Ichsanuddin Noorsy dan Budiarto Shambazy.

Menurut Soegeng Saryadi yang menjadi presenter buku  puisi esai saya cukup menarik baik judul mau pun isinya karena kontras dengan amanah konstitusi yang mengatakan farkir miskin menjadi tanggung-jawab pemerintah.

Tapi yang lebih membanggakan kemudian adalah pada tahun 2014 seorang mahasisiwi UIN Jakarta, Naila Mufidah, menjadikan buku saya sebagai bahan utama skripsinya dengan judul Kritik Sosial dalam puisi Esai Manusia Gerobak karya Elza Peldi Taher dan implikasinya  terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SMA. Ia dinyatakan lulus dalam ujian munagasah pada tanggal 4 maret di hadapan penguji.

Tentu saja merupakan kehormatan yang luar biasa ternyata buku yang saya tuliskan mendapat apresiasi. Tak terbayangkan.

Menulis puisi esai itu mudah, tidak sulit. Baca peristiwa yang pernah terjadi, isu yang hangat, mainkan imajinasi, rangkaikan kalimat, cari referensi yang mencatat peristiwa itu di berbagai media, renungkan, maka jadilah ia puisi esai.

Terlepas dari pro kontra yang berkembang selama ini, saya yakin puisi  esai merupakan genre baru kesusastraan Indonesia dan memberi kontribusi besar pada kesasteraan Indonesia.

Buktinya, dalam usia yang masih muda, telah terbit puluhan buku yang lahir dari berbagai kalangan, termasuk yang bukan penyair.

Elza Peldi Taher merupakan penulis buku Manusia Gerobak