Warning ke Jokowi, Hasil Pilkada untuk Pilpres 2019

Oleh: Aznil Tan



DALAM Pilkada 2018 ini, saya lebih banyak diam. Saya lebih cenderung secara senyap mengamati permainan politik. Saya tidak ada menyikapi pesta demokrasi kali ini meski tangan saya gatal2 untuk menulis dukungan saya kepada pasangan Cagub atau Cabup/Cawakot.

Ada 8 provinsi Pilkada Gubernur yang menjadi pengamatan saya yaitu Jabar, Jateng, Jatim, Sumut,  Sulawesi Selatan, Lampung, Sumsel dan Bali. Karna 8 provinsi ini menjadi penentu kemenangan pada Pilpres 2019  nanti.
Jumlah suara di Jawa Barat (33.138.630), Jawa Tengah (27.555.487) dan Jawa Timur
(31.312.285) dengan total mencapai 92 juta atau 48 persen dari total suara nasional yang tercatat 186,59 juta. Sedangkan jumlah pemilih di Sumatera Utara sebesar 10.763.893 orang dan Bali sebesar 2,816,565 orang.Total keseluruhan suara nasional sekitar 6%.

Disusul Sulawesi Selatan yang memiliki jumlah pemilih sebanyak 6.022.987 orang, Lampung 5.768.153 orang, serta Sumatera Selatan 5.656.633 orang pemilih. Total keseluruhan suara nasional sekitar 8,5%.
Jadi akumulasi keseluruhan dari 8 provinsi tersebut  :  62,5% suara nasional.

Untuk memudahkan analisis, saya membagi peta politik menjadi  2 kelompok :
1. Peta Partai Politik Jokowi (partai Pendukung Pemerintah Jokowi) yaitu : PDIP, NASDEM, HANURA, PKB, GOLKAR, dan PPP
2. Peta Politik Oposisi : GERINDRA, PKS, PAN dan DEMOKRAT

Baiklah, saya coba bedah berapa daerah yang Pilkada 2018 ini sebagai pisau analis saya untuk memberikan gambaran Pilpres 2019 nanti, yaitu :


*JAWA BARAT* 

Jawa Barat merupakan medan pertempuran yang memiliki peran sangat penting. Jumlah pemilih di Jawa Barat berdasarkan daftar pemilih tetap (DPT) dari KPU tercatat 31.735.133 atau sekitar 17% dari suara nasional.
Calon2 gubernur yang bertarung di Pilkada Jabar adalah
1. Ridwal Kamil - Uu Ruzhanul Ulum
Partai pengusung pasangan yakni, PPP dengan 9 kursi, PKB dengan tujuh kursi, Partai NasDem dengan lima kursi, Partai Hanura dengan tiga kursi. Total pendukung 24 kursi dari syarat minimal 20 kursi.
2. Sudrajat – Ahmad Syaikhu
Partai pengusung pasangan ini adalah, Partai Gerindra dengan 11 kursi, PKS dengan 12 kursi, dan PAN dengan empat kursi. Total pendukung 27 kursi.
3. Deddy Mizwar - Dedi Mulyadi
Partai pengusung pasangan ini yakni, Partai Demokrat dengan 12 kursi dan Partai Golkar dengan 17 kursi. Total pendukung 29 kursi.
4. Tubagus Hasanuddin – Anton Charliyan
Partai pengusung pasangan ini hanya PDIP dengan 20 kursi.

Ada beberapa catatan menarik pada Pilkada Jabar ini, PDIP begitu dekat dengan Ridwan Kamil tiba2 mengusung calon sendiri.
Ini saya prediksi pasti kalah telak dengan majunya PDIP sendiri apalagi sosok yang diusungnya tidak populis.

Tindakan PDIP dari kubu Jokowi ini pasti ada suatu siasat yang dimainkan. Apakah ini untuk memecah suara lawan (oposisi) I atau test case suara PDIP 2019 nanti dimana 2014 yg lalu menjadi partai pemenang dengan perolehan suara 18,95 persen?

Hasil Quick Count dari beberapa lembaga survey didapat sebagai berikut hasilnya:
1. Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum: 33,53%
2. Tb Hasanuddin-Anton Charliyan: 11,38%
3. Sudrajat-Ahmad Syaikhu: 30,07%
4. Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi: 25,02%

Sampai postingan ini saya tulis sudah bisa dipastikan  Pilkada Jawa Barat dimenangkan oleh partai pendukung Jokowi yaitu Bapak Ridwan Kamil.
Jika suara Rindu digabungkan dengan suara Hasanah = 33,55% + 11,38% = 44,93%
Perolehan suara dari kubu pendukung Jokowi di Jabar sebesar 44,93% ini saya nilai SANGAT BERBAHAYA jika suara Golkar belum dihitung.
Jika suara Dedy Mizwar yang 25% dibagi 2 antara Golkar dengan Demokrat masing2 mendapat 12,5%. Maka total keseluruhan suara Jokowi adalah 57,43%.
Jokowi-JK pada Pilpres 2014 yang lalu keok di Jabar dengan mendapat suara 40,22% sedangkan Prabowo-Hatta unggul dengan perolehan suara 59,78%.

Catatan yang menarik lagi pada Pilkada Jabar ini adalah suara PDIP merosot tajam jatuh dari 18,95% (Pileg 2014) menjadi 11,38%. Saya tahu para pendukung PDIP banyak yang galau di TPS antara memilih Cagub diusung PDIP atau Ridwan Emil... Hehehe


*JATENG*

Saya sudah prediksi dari awal Ganjar akan menang telak lawan Sudirman Said meski meleset presentasi angkanya. Saya memprediksi kemenangan Ganjar 70% suara tetapi hanya memperoleh 59% suara. Hehehe

Jawa Tengah adalah sebagai sarang PDIP tidak diragukan lagi. Jumlah pemilih di Jateng 27.068.500 orang.

Perolehan suara pada Pileg 2014 dari Partai Pendukung Jokowi yaitu PDIP (18,95%, Partai Golkar (14,75), PKB 9,04%, Nasdem 6,72%, Hanura 5,26% dan PPP 6,53% dengan total keseluruhan 61,25%.

Sedangkan  Partai oposisi yaitu : Gerindra 11,81%, PAN 7,59%, PKS 6,79%  dan Demokrat 10,19%.

Pada pilkada 2018 cagub yg muncul 2 pasangan yaitu :
1. Ganjar Pranowo - Taj Yasin Maimoen yang diusung PDI-P, PPP, Nasdem, dan Demokrat lalu disusul Golkar dan Hanura.
2. Sudirman Said-Ida Fauziyah diusung partai Gerindra, PKB, PAN, dan PKS.

Pasangan nomor urut 1 Ganjar Pranowo - Taj Yasin Maimoen: 59,04% sedangkan Pasangan nomor urut 2 Sudirman Said - Ida Fauziyah: 40,96%.
Dengan selisih sebesar itu, Sudirman-Ida tidak mungkin lagi mengejar Ganjar-Yasin. Ini artinya Ganjar-Yasin menang Pilgub Jateng

Ada berapa catatan menarik pada Pilkada Jateng 2018 ini. Pada Pilkada 2013, PDIP begitu percaya mengusung sendiri Ganjar Pranowo dan akhirnya keluar sebagai pemenang dengan Perolehan suara  48,82% yang mengalahkan 2 pasangan lawannya. Beda dengan PILKADA 2018 sekarang, PDIP banyqk mengandeng partai.

Menurut catatan saya, Perolehan 59,04% suara dari Cagub Ganjar yang diusung banyak partai pada pilkada 2018 ini adalah SANGAT MENGAWATIRKAN. Perlu diketahui Suara JOKOWI-JK di Jateng pada Pilpres 2014 adalah 66,33%

Jateng sebagai basis kekuatan suara Jokowi ternyata tersedot sekitar 6,5% ke pihak lawan. Kehadiran Ganjar pada Pilkada Jateng ini seharusnya mendapat 70% suara.

*JAWA TIMUR*

Pilkada Jawa Timur  tahun 2018 adalah *pertandingan persahabatan*. Siapapun yang menang tidak merugikan Jokowi pada Pilpres 2019 nanti

Berdasarkan data quick count Pilkada Jatim 2018, Rabu (27/6/2018) pukul 17.33 WIB, data yang sudah masuk sebanyak 100% hasilnya sbb :

1. Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak: 53,63%
2. Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Puti Guntur Soekarno: 46,37%

Dengan demikian, Khofifah menang Pilgub Jatim dengan selisih 7,26% dengan Saifullah Yusuf.

Yang menarik Pilkada Jatim tidak diikuti oleh musah bubuyutan Jokowi yaitu GERINDRA dan PKS.


*SUMUT*

Sumut merupakan PILKADA hampir mirip dengan DKI. Isu SARA sangat kental bermain.

Djarot yang hanyq diusung partai PDIP dan PPP diserang dengan isu PUTRA DAERAH dan isu AGAMA. Meskipun partai pendukung Jokowi seperti Golkar, Nasden, hanura ada dalam kubu pengusung

Pasangan calon nomor urut 1, yakni Edy Rahmayadi-Musa Rajeksah diusung oleh lima partai. Partai Golongan Karya (Golkar), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Nasional Demokrat (Nasdem) tapi seperti membiarkan isu SARA.

Pada hasil quick count didapat hasil sbb :
1. Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah: 56,34%
2. Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus: 43,66%

Pada catatan saya Pada Pilkada Sumut 2018 ini adalah pertarungan antara sesama mafia tanah. Musa Rajekshah  sebagai Cawagub adalah seorang mafia tanah terkenal di Sumut. Namun Musa cerdik membungkus dirinya dengan banyak membangun masjid.

Sedangkan Cagub Edy Rahmayadi semasa menjabat Panglima Kodam I/Bukit Barisan pada 2015 pernah memarahi pendemo di Medan, Sumatera Utara terkait sengketa lahan puskopad di Desa Ramunia.

Begitu juga Sihar Sitorus adalah juga seorang mafia tanah di Sumut dimana bapaknya ditangkap KPK kasus korupsi yang kemudian divonis 18 tahun penjara.
4 orang cagub dan wacagub Sumut ini cuma Cagub Djarot tidak terlibat mafia tanah di Sumut. Banyak orang menyayangkan jika Djarot tidak berpasangan dengan Sihar Sitorus besar kemungkinan DJAROT menang melawan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah:

Kemenangan telak Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah: sebuah PUKULAN BESAR buat nasib Jokowi 2019 nanti.
Pada pilpres 2014 di Sumut, Pasangan Jokowi-JK unggul atas pasangan Prabowo-Hatta dalam Pilpres di Sumatera Utara (Sumut). Hasil rekapitulasi KPU Provinsi Sumut. Jokowi-JK mendapatkan 55,24% suara.

Meskipun partai pengusung Jokowi seperti Partai Golkar, Nasdem, dan Hanura berada dalam kubu Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah bukan sebuah jaminan suara Jokowi di Sumut bisa bertahan 55,24%.

Saya mencatat Pilkada 2018 bahwa daerah Sumut menjadi daerah yang berpotensi permainan isu SARA pada Pilpres 2019 nanti.


*SUMSEL *

Melihat hasil pemilihan di Sumsel relatif aman buat nasib Jokowi 2019 nanti. Meskipun daerah kalah bagi Jokowi di Sumsel waktu pilpres 2014 yang lalu hanya memperoleh suara 48,74% namun melihat petolehan suara pada Pilkada 2018 di Sumsel sebagian besar suara pemilih banyak dikuasai oleh para partai pendukung Jokowi.

Berdasarkan hasil hitung cepat sebagai berikut :
1. Herman Deru-Marwadi Yahya yang diusung PAN, NasDem, dan Hanura : 35,37%.
2. Dodi Reza Alex Nurdin - M Giri Ramanda N. Kiemas yang diusung PDIP, PKB, dan Golkar : 31,97%
3. Ishak Mekki - Yudha Pratomo yang diusung oleh Demokrat, PBB, dan PPP : 20,97%
4. Saifudin Aswari Rivai-M Irwansyah yang diusung Gerindra dan PKS : 11,69 persen.

Waktu Pilpres 2014 Jokowi-JK memperoleh suara 48,74% ditempat asal Cawapres Hatta Rajadsa.

Yang harus diwaspadai kedepan adalah perseteruan Herman Heru dengan Alek Nurdin yang bisa memecah suara Golkar di Sumsel.

*LAMPUNG* 

Nasib suara Jokowi melihat hasil Pilkada 2018 ini relatif aman. Partai pendukung Jokowi menyebar disetiap pasangan Cawagub. Dominasi suara lebih banyak dari partai pendukung Jokowi.

Data masuk 100% menempatkan perolehan suara sebagai berikut :
1.  Arinal Djunaidi-Chusnunia (Nunik) diusung oleh partai Partai Golkar dan PKB (17 kursi) : 38,32%
2.  Herman HN-Sutono diusung oleh diusung PDIP (17 kursi). : 25,50 persen
3  Muhammad Ridho Ficardo-Bachtiar Basri yang diusung oleh Partai Demokrat, PPP, Gerindra, dan PAN (33 kursi) : 24,83 persen.
4. Mustafa-Ahmad Jajuli diusung oleh Partai Nasdem, PKS, dan Hanura (18 kursi) : 11,35 persen

Pada Pilpres 2014 yang lalu, suara Jokowi-JK unggul dengan perbedaan persentase sebesar 53,07 persen (Jokowi-JK) dan 46,93 persen (Prabowo-Hatta). Jika suara

Arinal Djunaidi-Chusnunia (Nunik)  digabungkan suara Herman HN-Sutono maka perolehan suara Jokowi bisa berkisar 53%.


*BALI*

Menurut pengamatan saya, nasib suara Jokowi di Bali pada Pilpres 2019 nanti relatif aman.

Berdasarkan 100 persen data yang masuk pukul 16.02, pasangan Wayan Koster-Cok Ace memperoleh 58,25 persen suara yang diusung PDIP, Partai Hanura, PAN, dan PKPI.

Kemudian pasangan Rai Mantra-Sudikerta memperoleh 41,75 persen suara yang diusung Golkar, Demokrat, Gerindra, NasDem, PKS, dan PBB

Meskipun partai pendukung Jokowi diluar Golkar dan Nasdem  menang 58,25% tetapi sangat perlu diwaspadai bahwa perolegan suara tersebut  sangat jauh dari hasil Pilpres 2014 dimana  Joko Widodo-Jusuf Kalla meraih 71,42 persen suara sah di Provinsi Bali

Pada pileg 2014, PDIP meraih 40,9%  sedangkan Partai Golkar 16,7% dan Nasdem 6,72%.

Jika suara Wayan Koster-Cok Ace memperoleh 58,25% dianggap stabil memilih Jokowi 2019 dan perolehan suara Golkar pada pileg 2014 kemarin 16,7% dan Nasdem 6,72% juga tetap stabil memilih Jokowi maka suara Jokowi 2019 adalah sebesar 81,67%.

Sulsel

Nasib Jokowi di Sulsel untuk Pilpres 2019 nanti cukup aman. Pasangan Cagub Nurdin Abdullah - Sudirman Sulaiman adalah sosok pendukung Jokowi berhasil menang telak mengalahkan para lawan politiknya dengan perolehan suara 55,55%

Andi Sudirman Sulaiman (lahir 25 September1983; umur 34 tahun)[1] merupakan adik dari Andi Amran Sulaiman, Menteri PertanianKabinet Kerja Jokowi-Jusuf Kalla periode 2014–2019. Sulsel pada Pilpres 2014 memberikan suara yang sangat signifikan ke Jokowi sebesar 71,43%.

Ini hasil quick count Pilkada Sulsel 2018  :

1. Nurdin Halid - Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar diusung Golkar, Nasdem, Hanura, PKB, PKPI (35 kursi) : 48,64 persen

2. Agus Arifin Numang - Tanribali Lamo diusung Gerindra, PPP, PBB (19 kursi) : 6,73 persen

3. Nurdin Abdullah - Sudirman Sulaiman dengan partai pengusung PAN, PDI-P, dan PKS (20 kursi) : 55,55 persen

4. Ichsan Yasin Limpo - Andi Mudzakkar (independen) : 9,08 persen

Pilkada Sulsel 2018 termasuk unik karena PKS sebagai partai yang selalu menyatakan PDIP sebagai partai anti Islam tetapi pada Pilkada kali berkoalisi.

Meski tidak mustahil Jokowi pada Pilpres 2019 nanti  bisa menang telak di Sulsel tetapi harus waspada karena kemenangan pasangan Nurdin Abdullah - Sudirman Sulaiman tidak lepas dari suara PKS dan PAN. Hasil Pileg 2014 suara PDIP hanya  7,11 persen sedangkan suara PAN 9,23% dan  PKS 7,69%.

Saya memprediksi suara yang tetap bertahan cuma sebanyak 48,64% dari suara Golkar, Nasdem, Hanura, PKB, dan PKPI. Sedangkan suara dari Nurdin Abdullah - Sudirman Sulaiman terpecah berkeping-keping.

Aznil Tan adalah aktivis mahasiswa 1998 yang kini sebagai Ketua Umum Merdeka 100 % (DERAP 100 %)