Manuver SBY Buat AHY 'Karam' di Jakarta, Mengubur DEMIZ di Jabar

Susilo Bambang Yudhoyono dan Agus Harimurti Yudhoyono.
Jakarta, PenaOne - Pilgub DKI Jakarta 2017 dan Pilgub Jawa Barat 2018 adalah indikator utama bahwa Partai Demokrat yang dipimpin oleh SBY elektabilitasnya merosot. Karena, DKI Jakarta dan Jawa Barat adalah dua Provinsi yang sangat strategis untuk memenangkan Pemilu 2019.

Pada Selasa, 21 Maret 2017 KPU DKI Jakarta menetapkan DPT untuk putaran kedua Pilgub DKI Jakarta 2017 mencapai 7.264.749 orang. Pada Sabtu, 21 April 2018 KPU Jawa Barat menetapkan DPT untuk Pilgub Jawa Barat 2018 mencapai 31.735.133 orang.

Maka, hal yang sangat wajar bila wilayah DKI Jakarta dan Jawa Barat menjadi sangat strategis untuk memenangkan Pemilu 2019. Bahkan, pasangan Cagub/Cawagub yang diusung oleh PDI-P pada Pilkada serentak 2017-2018 di Provinsi strategis ini harus tersungkur.

Lalu, mengapa Cagub/Cawagub yang diusung Partai Demokrat yang dipimpin oleh SBY terkubur di DKI Jakarta dan karam di Jawa Barat?

"Manuver SBY yang mengusung AHY pada Pilgub DKI Jakarta 2017 adalah blunder pertama. Manuver SBY yang mengusung Demiz pada Pilgub Jawa Barat 2018 adalah blunder kedua," demikian dikatakan Wenry Anshory Putra Koordinator  Pergerakan Pemuda Merah Putih (PP Merah Putih) dala siaran pers yang diterima Kamis (4/7/2018).

Mengapa blunder? Karena, kekalahan telak keduanya sangat berkaitan erat dengan manuver-manuver SBY yang justru menjungkalkan keduanya. AHY harus terkubur pada putaran pertama pada Pilgub DKI Jakarta 2017 dan Demiz sebagai petahana pada akhirnya karam setelah RK memimpin perolehan suara, bahkan Demiz mampu disalip oleh Sudrajat yang sebelumnya tidak terlalu diperhitungkan.

Mengapa terjadi demikian? Selain mesin politik yang tidak bekerja maksimal, faktor lainnya adalah kemunculan terus menerus SBY di panggung politik justru mendowngrade Partai Demokrat.

Pengaruh SBY lanjutnya, setelah 10 tahun berkuasa telah meredup, apalagi ditambah dengan ambisi SBY yang begitu besar menjadikan AHY "sebagai penerusnya". Hal ini dapat dilihat dari segala manuver yang dilakukan SBY untuk mendongkrak popularitas AHY.

Menurutnya, AHY yang pensiun dini dari kariernya sebagai Prajurit TNI demi menjadi politisi dan diusung Partai Demokrat Cs dalam Pilgub DKI Jakarta 2017, tentu tidak mendapat simpati masyarakat. Buktinya, AHY terhenti pada putaran pertama yang saat itu Pilgub DKI Jakarta ada tiga pasang Cagub/Cawagub.

"Selama SBY terus menerus muncul dalam panggung politik nasional, maka selama itu pula kandidat-kandidat yang diusung Partai Demokrat pada wilayah-wilayah strategis akan terjungkal. Apalagi bila SBY ngotot mendorong AHY sebagai Capres/Cawapres pada Pemilu 2019," demikian ia menjelaskan. (zia/tan)