Panitia Rembuk Nasional Bantah Bantuan Rp 10 Miliar dari Istana

Presiden Jokowi menghadiri penutupan Rembuk Nasional Aktivis ’98, yang digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (7/6) petang. Foto Setkab
Jakarta, PenaOne - Rembuk Nasional aktivis 98 di JIEXPO yang digelar Sabtu (7/7/2018) kemarin sukses digelar. Namun, kabar adanya "sokongan" dana Rp10 miliar dari Istana untuk terselengaranya Rembuk Nasional aktivis 98 pun menyeruak.

Kabar tak sedap bagi panitia Rembuk Nasional aktivis 98 itu pun buru-buru dibantah.

Salah satu Koordinator Rembuk Nasional aktivis 98 Faisal Assegaf membantah adanya bantuan dana dari Istana itu.

Twitter Faisal Assegaf
"Saya menyaksikan langsung kedekatan khusus sahabat Adian Napitupulu dgn pk @jokowi, sehingga segelintir relawan tampaknya iri & gerah. Soal dana 10 M utk acara kegiatan Rembuk aktivis 98, saya pun sdh meminta klarifikasi Adian dkk, tdk ada bantuan dari Istana. Stop fitnah! *FA*," kata Faisal dalam akun twitter pribadinya @faisalassegaf yang dilihat Redaksi PenaOne.com Senin (9/7/2018).

Menurut Faisal, selama ini dirinya dan Adian Napitupulu sudah di dully dengan segala fitnah.

"Saya & Adian Napitupulu selama 20 th sdh trbiasa dibully dgn sgl fitnah. Apapun yg kita lakukan di mata kaum pembela radikalisme & terorisme ttp diplintir. Maklum, mrk panik sbb kami berdua sukses menyatukn kembali kawan2 yg telah lama trcerai berai. Maju terus pk @jokowi ! *FA*," tambah Ketua Progres 98 ini.

Rembuk Nasional aktivis 98 Sabtu akhir pekan lalu resmi di tutup Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang didampingi Kepala Staf Presiden Moeldoko.

Rembuk Nasional aktivis 98 itu di Kemayoran menelurkan beberapa rekomendasi. Salah satu diantaranya adalah mendukung Presiden Jokowi dua periode dalam Pilpres 2019 nanti.

Presiden Jokowi menghadiri penutupan Rembuk Nasional Aktivis ’98, yang digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (7/6) petang. Foto Setkab
Aktivis mahasiswa 98 Wahab Talaohu didapuk membacakan hasil keputusan Rembuk Nasional aktivis 98 didepan Jokowi dan pululuhan ribu peserta yang memadati JIEXPO Kemayoran. 

Berikut hasil Rembuk Nasional aktivis 98; Pertama, kaki tetap menjaga RI dari ancaman intoleransi, radikalisme, terorisme, dan menolak penggunaan isu SARA dalam praktik politik Indonesia;

Dua, melanjutkan perjuangan reformasi '98 untuk melawan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme dalam sendi kehidupan bernegara;

Tiga, menjaga demokrasi yang sudah terbuka saat ini yang merupakan buah perjuangan reformasi 1998 dari setiap ancaman otoritarianisme dan militerisme. Serta terus mendorong demokrasi politik dan demokrasi ekonomi agar menghasilkan masyarakat yang adil dan makmur;

Empat, memperjuangkan penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM dan mengusulkan penetapan aktivis mahasiswa yang menjadi korban peristiwa Semanggi, Trisakti, dan lain-lain sebagai pahlawan nasional;

Lima, mengusulkan kepada pemerintah menetapkan 7 Juli sebagai Hari Bhinneka Tunggal Ika; 

Enam, mendukung penuh Ir Joko Widodo sebagai calon presiden periode 2019-2024. Karena kita semua yakin bahwa Jokowi memiliki kemampuan untuk mewujudkan cita-cita reformasi 1998. Kenapa, karena Jokowi tidak punya kejahatan ekonomi, tidak punya kejahatan politik, dan tidak punya kejahatan kemanusiaan;

Presiden Jokowi menghadiri penutupan Rembuk Nasional Aktivis ’98, yang digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (7/6) petang. Foto Setkab
Tujuh, terkait hal-hal itu dan sebagai pertanggungjawaban negara, maka kami aktivis '98 menyatakan siap untuk turut serta memimpin dan mengemban tugas negara bersama Pak Jokowi.

Dalam sambutannya Jokowi mengaku bangga bisa bertemu dengan aktivis 98. Tak lupa Jokowi juga mengajak seluruh lapisan masyarakat agar selalu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

"Berbeda pendapat silahkan tapi kita harus selalu menjaga persatuan," kata Jokowi didepan puluhan ribu peserta Rembuk Nasional.

Presiden yang didampingi 25 perwakilan aktivis 98 itu menambahkan, berbeda pilihan dalam politik silahkan saja. Asal, jangan saling ejek dan menjelek-jelekan. Itu bukan etika kita.

"Marilah kita bersama-sama menggalang kekuatan untuk melawan intoleransi, teorisme dan radikalisme," ajak Jokowi.

Lebih lanjut Jokowi menambahkan, mengenai usulan tanggal 7 Juli yang akan dijadikan sebagai Hari Bhinneka Tunggal Ika dan aktivis mahasiswa 98 yang meningggal untuk dijadikan Pahlawan Nasional dirinya berjanji akan mengkaji serta menindaklajutinya.

"Kita akan kaji semua itu sesuai peraturan yang ada. Akan kita putuskan secepatnya," pungkas Jokowi.