Era Jokowi, Tatanan Urut Kacang Polri Cenderung Rusak

Joko Widodo @Afp Photo
Jakarta, PenaOne - Beredar kabar Kapolda Metro Jaya Irjen Idam Azis akan digeser menduduki posisi Wakapolri menggantikan Komjen Syafruddin yang kini menjabat Menpan RB.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menduga, ada penolakan dari internal Polri terhadap rencana pengangkatan Idam tersebut.

IPW melihat, penolakan itu akibat rencana pengangkatan Idam itu tidak urut kacang. Sebab di atas Idam masih banyak jenderal bintang tiga yang lebih senior. Selama ini, pengangkatan orang nomor dua di Polri itu selalu diambil dari bintang tiga senior dan tidak pernah tidak urut kacang atau melompat dari bintang dua.

Tapi dari pendataan IPW, sejak era Presiden Jokowi tatanan urut kacang di Polri sudah cenderung dirusak. Ini yang disesalkan IPW, apalagi internal Polri cenderung membiarkannya. Mantan ajudan Jokowi misalnya, langsung dimutasi menjadi Kapolda Banten.

"Padahal di era sebelumnya, semua mantan ajudan masuk Mabes Polri lebih dulu, setelah beberapa bulan baru mutasi jadi Kapolda. Begitu juga mantan Kapolresta Solo karena sukses mengamankan pernikahan putri Jokowi dimutasi jadi Wakapolda Jateng. Lalu belum lama ini Korsespri Kapolri dimutasi jadi Wakapolda Sumut," ujar Neta dalam siaran pers Rabu (15/8/2018).

Jadi, lanjutnya, sistem urut kacang di Polri sudah banyak yang ditabrak oleh institusi kepolisian. Hal inilah yang banyak menimbulkan kecemburuan yang luar biasa di internal Polri dan ini sngt berbahaya bagi kelangsungan dan sistem kaderisasi di kepolisian, apalagi jika Idham Azis nantinya diangkat sbg Wakapolri.

"Untuk itu IPW berharap elit elit Polri memikirkan masa depan Polri dan sistem kaderisasi urut kacang yang sudah terbangun di Polri selama ini," pungkas Neta. (sus/gah)