Komnas PA Permasalahkan Replika Sejanta Anak TK di Probolinggo

Pawai anak TK yang memakai cadar dan replika senjata di Probolinggo Jum'at (17/8/2018).
Jakarta, PenaOne - Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak (PA), Arist Merdeka Sirait  menyayangkan, puluhan anak-anak TK di Probolingo, Jawa Timur yang mengenakan busana muslim hitam dalam acara pawai Seni Budaya dengan memakai replika senjata yang dilepas Sekretaris Daerah Probolinggo dari depan kantor Pemkot Probolinggo pada Jum'at 17 Agustus 2018.

"Sebab menggunakan senjata apakah itu replika senjata maupun mainan anak-anak  dalam acara pawai Seni Budaya sekalipun dan apapapun alasannya dinilai telah mengandung penanaman paham radikalime dan kekerasan terhadap anak," kata Arist dalam siaran pers Senin (20/8/2018).

Menurutnya, karnaval anak dengan cara menggunakan replika senjata ini tidak dapat dibenarkan oleh hukum nasional dan hukum humater international.

Hal itu kata dia, juga telah diatur oleh Konvensi International PBB tentang Hak Anak  maupun UU RI No. 35 Tahun 2024 mengenai perubahan UU RI. NO. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak berdasarkan kesepatan dunia dinyatakan mengandung penanman paksa nila-nilai kekerasan dan pelanggaran terhadap anak.

Dijelaskan Arist, Komnas PA berpendapat, setiap orang bebas untuk menggunakan busana asal tidak dilarang oleh hukum

"Menggunakan busana agamis dengan cadar dan burka adalah  syah-syah saja digunakan baik oleh usia anak-anak dan orang dewasa dimana dan kapanpun. Selagi busana itu dinyatakan dilarang untuk digunakan oleh hukum," jelasnya.

Arist menambahkan, berdasarkan semangat Konvensi PBB tentang Hak Anak dengan sekuat tenaga melalui kesepakatan international  terus menerus mengkampanyekan perlindungan anak agar anak tidak direkrut dan diperkenankan menjadi tentara anak "child soldier" dalam keadaan apapun dan dalam kondisi apapun suatu negara.

"Jelas anak dilarang ditekrut bahkan dikenalkan menjadi tentara," ujarnya.

Masih menurutnya, Komnas PA tidak menyoal busana yang dipakai anak dalam pawai seni budaya sekali lagi tidak menyoalnya dan merupakan hak dan sah-sah saja.

"Yang disoal adalah mengapa menggunakan atribut tambahan yakni senjata. Bukan busananya padahal kita tahu senjata adalah simbol peperangan yang memastikan. Itu yang menjadi masalah," tegas Arist.

Dirinya menambahkan, agar masalah ini tidak menjadi bola liar dan menjadikan anak sebagai korban gagal paham orang dewasa terhadap hak anak dan telah menjadi isu yang diperbincangkan banyak netizen dan telah viral dimedia sosial.

Arist meminta Polres Probolinggo untuk memeriksa dan tanggungjawab  pantia penyelenggara, guru TK yang menyiapkan replika senjata dalam pawai seni budaya.

"Sekda Kota Probolinggo yang melepas Pawai Seni Budaya serta Kabid Dinas Pendidikan Probolinggo juga harus dimintai keterangannya," kata Arist.

Dalam waktu dekat, tim investigasi Komnas PA akan datang ke Probolinggo untuk melakukan klarifikasi dan berkordinasi dengan Komandan Kodim, Kepala Dinas Pendidikan, Kapolres Probolinggo dan panitia pelaksana Pawai Seni Budaya, tegas Arist.  (zal/tan)