Matinya Langkah Catur Politik Prabowo

Oleh: Benny Ramdhani

Ilustrasi
IBARAT main catur, dengan masa lalu Prabowo yang selalu dikaitkan dengan kejahatan HAM atau penculikan Aktifis 98 dan minimnya prestasi saat berkarier di militer, Prabowo memulai permainan caturnya dengan tanpa memiliki 2 peluncur.

Disaat Prabowo dengan sadar tidak mengindahkan Ijtima Ulama untuk mengambil pasangannya dari kalangan ulama, Prabowo langsung kehilangan  2 benteng bidak caturnya.

Ketika Prabowo dengan sadar (kalau bukan karena mahar) membatalkan AHY sebagai Cawapresnya dan menolak SBY untuk di jadikan sebagai Ketua Tim suksesnya, Prabowo pun kehilangan langsung 2 bidak kuda secara bersamaan.

Dan ketika Erick Tohir diangkat sebagai Ketua Tim Pemenangan Jokowi,  membuat catur politik Prabowo mati langkah.

Jelas, Prabowo tersudut dan kehilangan akal untuk memindahkan bidak catur politik berikutnya. Karena mengulangi langkah ceroboh berikutnya, hanya akan membuat skakmat bagi dirinya.

Pertanyaannya, perlukah Jokowi mengambil kesempatan memindahkan bidak caturnya dan menskakmat guna mengakhiri perlawanan Prabowo dan mendeklarasikan kemenangannya?

Rasanya Jokowi tidak perlu menghabiskan energi dan menggunakan tangannya sendiri untuk mengalahkan Prabowo dengan langkah skakmat nya.

Bukankah Jokowi sudah punya Sandiaga Uno, Cawapres dari Prabowo. Sang 'Mentri' yang bisa kita pinjam tangannya bahkan mulutnya dengan segala kecorobohannya, yang akan menghentikan bahkan mematikan langkah sang "Raja" Prabowo.

Sang Menteri lah yang akan membuat sang raja mati dengan sendirinya.

Lihatlah pernyataan-pernyataan kontroversial sang "menteri"  yang selalu menghiasi ruang publik. Bahkan pernyataan yang berbau kebohongan dan manipulatif sekalipun.  Dimulai tentang kenaikan dolar dan dampaknya pada harga-harga bawang dan rica di pasaran.

Sampai tentang tempe dipasar yang hanya tinggal setipis kartu ATM.

Yakinlah, semua pernyataan kontroversial Sandi yang menjadi blunder politik bagi Prabowo, akan terus berulang dan dilakukan berulang-ulang.

Kok bisa? Karena itulah cara sang menteri untuk membuat kapal yang ditumpangi sang raja bocor dari dalam. Sebuah cara untuk sang raja akhirnya mati bahkan tenggelam dengan kapal yang ditumpanginya.

Kok bisa? Bagaimana dengan nasib Sang Menteri? Bagi sang menteri, Pilpres 2019 bukanlah pertarungan sesungguhnya dan target politik yang sebenarnya. Pilpres 2019 bagi sang menteri adalah pintu masuk, tangga sekaligus batu loncatan untuk Pilpres yang sesungguhnya di tahun 2024.

Permainan catur di meja Pilpres 2019, bagi sang menteri hanyalah latihan sekaligus pemanasan menuju tournamen yang sesungguhnya dan sebenarnya di tahun 2024.

Bahkan tidak hanya itu, sang menteri sedang mempersiapkan diri untuk mengambil alih kepemimpinan politik menjadi orang nomor satu di partai yang selama ini dikuasai sang raja, untuk dijadikannya sebagai kendaraan politiknya untuk maju di Pilpres 2024 yang diyakini sejak awal adalah jawaban atas takdir pencapaian target politiknya," jelasnya.

Sang menteri sedang memainkan peran yang cantik, dan Jokowi tetap syantik menjadi Presiden RI untuk 1 periode lagi berikutnya.

Benny Ramdhani adalah Direktur Kampanye TKN Jokowi-KH Ma'ruf Amin

(zis/sus)