Kisah Bripka Dewi Suryani Sukses Bangun Masjid di Sudan

KALAU seorang jenderal membangun sebuah masjid dengan hartanya, pasti kita salut kepada  sang jendral. Salut karena boleh dibilang jarang pernah ada, kalaupun ada mungkin dengan menggunakan dana dari institusinya

Tapi bagaimana kalau ada seorang Bintara Polisi,  Polwan pula lagi, dengan uang gajinya dia  membangun sebuah masjid, tidak di Indonesia tapi di luar negeri. Subhanallah..... Alhamdulillah...., Allahuakbar.

Luar biasa.......

Siapa dia Polwan yang berpangkat Bintara, telah  membangun masjid di luar negeri?

Dia berasal dari  Polres Solok Arosuka, Polda Sumatera Barat (Sumbar). Namanya,  Bripka Dewi Suryani. Namanya  mengharumkan bangsa dan negara  Indonesia di Sudan, Afrika. Dia  bertugas pada  misi perdamaian PBB, sebagai protokol individual police officer (IPO) United Nations – African Union Hybrid Operation in Darfur (UNAMID), membangun masjid di Shangil Tobaya, Sudan. Masjid yang diberi nama Ar Rahman tersebut, dibangun Dewi dengan menyisihkan gajinya selama menjadi pasukan perdamaian PBB.

Bripka Dewi Suryani, berfoto bersama rekan sejawatnya. Ist
Bripka Dewi Suryani, saat ini tergabung dalam UNAMID MHQ di El Fasher, yang memiliki jarak tempuh sejauh 45 menit dengan helikopter ke wilayah Shangil Tobaya. Niat membangun masjid muncul saat  Dewi berkunjung ke daerah tersebut.

Di daerah itu memang ada satu unit mesjid tapi  mushala itu dibangun  dari ranting kayu.

“Satu hari saya ke daerah itu,  masyarakat salat di sana basah-basah karena musim hujan. Itu yang mengetuk hati saya,” kata Dewi ketika berbincang dengan penulis melalui whatsapp, Senin (5/11).

Dewi menggambarkan tempat shalat yang ditemuinya berdinding dan beratapkan ranting kayu. Dewi yang sudah dua kali bertugas sebagai pasukan penjaga perdamaian di Sudan, merasa perlu melakukan sesuatu agar warga di Shangil Tobaya dapat beribadah tanpa harus kebasahan saat hujan dan kepanasan saat matahari terik.

“Kondisinya di sini sangat susah. Sehingga untuk membangun tempat ibadah saja mereka belum mampu,” ujar Dewi.

Ibu dari tiga anak ini mengatakan uang untuk membangun masjid didapat dari gajinya selama menjadi pasukan penjaga perdamaian. Dia lalu mengajak warga bersama-sama membangun masjid yang diberi nama Ar Rahman.

“Uang yang saya gunakan berasal dari gaji saya sendiri selama melaksanakan tugas di UNAMID. Lama proses pembangunan satu bulan, borongan kilat,” jelas Dewi.

Bripka Dewi Suryani, berfoto bersama rekan sejawatnya

Dewi mengaku dengan berdirinya masjid Ar Rahman di tengah pemukiman warga Shangil Tobaya, dia berharap masyarakat dapat beribadah dan menggelar kegiatan agama dengan tenang.

“Semoga masyarakat bisa melaksanan ibadah dengan tenang. Masjid dapat digunakan sebagai tempat belajar agama bagi anak-anak dan semua kegiatan-kegiatan positif seperti musyawarah yang nantinya akan menghindari masyarakat dari konflik atau perselisihan, sehingga tercipta perdamaian,” ungkap Dewi.

Bripka Dewi Suryani, sebelumnya juga pernah terlibat penugasan mewakili Polri yang bertugas sebagai penjaga misi perdamaian pada wilayah “sector central” di Darfur, Sudan tahun 2014. Bertugas selama sembilan bulan saat itu, Dewi kembali mendapatkan kepercayaan dari Polri sebagai Protokol IPO di El Fasher. Sebelum berangkat, Dewi mendapatkan pembekalan “Pre Deployment Training” (PDT) selama tiga pekan yang diselenggarakan satuan kerja Polri Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) yang dipimpin oleh Irjen Pol Saiful Maltha.

Selanjutnya, dia bersama beberapa rekannya menjalankan kegiatan seperti pelatihan mengemudi, pengenalan misi PBB dan “United Nations Core Value“, pemeriksaan kesehatan, vaksinasi, serta simulasi kerja. Pembekalan itu digelar di ruangan ” Command Post Exercise” (CPX) bertempat di Pusat Latihan Multi Fungsi Cikeas Bogor, Jawa Barat. Bagi anggota Polri yang terpilih wajib mengikuti pelatihan itu sebagai bekal melaksanakan tugas pada misi pemeliharaan perdamaian PBB.

Bripka Dewi bersama delapan anggota Polri lainnya diberangkatkan menuju daerah tugas oleh Kepala Biro Misi Internasional Polri, Brigjen Pol Krishna Murti.

Polwan asli Surian, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Solok tersebut, mendapatkan penugasan di wilayah Shangil Tobaya yang berlokasi sekitar 45 menit perjalanan menggunakan helikopter dari pusat komando misi UNAMID, El Fasher. Yang membanggakannya, dari 15 orang kontingen Garuda Bhayangkara dari semua anggota polisi seluruh Indonesia, Dewi yang sekaligus mendapatkan baret biru dari PBB, menjadi wakil polwan satu-satunya dari Pulau Sumatera yang diterbangkan ke negara Sudan.

Lewati Rangkaian Seleksi Ketat

Tidak mudah bagi Dewi berhasil lulus menjadi salah seorang polisi terpilih dan menjadi IPO-UNAMID. Bermacam tes dan ujian dilewati Dewi hingga terpilih menjadi salah seorang kontingen Garuda Bhayangkara. Mulai dari tes tingkat nasional yang diberikan Polri hingga mekanisme ujian sesuai United Nation Selection Assistance and Assesment Team (UNSAAT) PBB.

Materi ujian tidak saja soal keberanian dan kesehatan jasmani, tapi juga kemampuan intelektual akademik, menembak dan psikologi. Menariknya, dalam ujian itu, tidak dibedakan antara perwira dan bintara. Materi ujian bukan berdasarkan kepangkatan.

“Kita juga dituntut aktif berbahasa Inggris,” sebut lulusan bintara tahun 2002 itu.

Usai dinyatakan lulus, para polisi pilihan diberikan pelatihan dan materi tugas pokok ketika berada di Sudan. Dewi dan rekannya se-Indonesia, juga dilatih mengemudi mobil setir kiri.

“Pelatihan pemecahan masalah, pendalaman materi soal HAM dan cara mengendalikan stres,” kata ibu tiga anak itu.

Sesampai di Sudan, Dewi bersama rekan-rekannya bertugas mendukung operasional, reformasi dan restrukturisasi kepolisian lokal. Bersama kontingen negara lain, juga melakukan patroli, pelatihan dan pendampingan polisi lokal.

“Kita terlibat merumuskan kebijakan pengembangan institusi polisi lokal,” ucapnya

Pernah Terjebak dalam Baku Tembak

Saat di Sudan, Dewi pernah terjebak dalam aksi baku tembak. Saat itu, Dewi bersama rekannya tengah menjadi team leaders di salah satu lokasi. Tak disangka, tiba-tiba terjadi baku tembak antara dua kubu.

“Posisi kami berada di tengah. Di antara dua kubu. Aksi tembak-menembak terus berlanjut. Kita sempat tertahan beberapa jam dan akhirnya berhasil keluar dari kepungan kedua kubu yang bentrok. Alhamdulillah selamat,” kenang Dewi.

Bripka Dewi Suryani, berfoto bersama rekan sejawatnya. @Ist
Setelah setahun menjalankan tugas perdamaian di Negara Sudan, Dewi bersama kontingennya mendapat penghargaan berupa Satya Lencana Bhakti Buana dari Presiden Joko Widodo. Dewi juga mendapat penghargaan berupa medali perdamaian dari PBB.

Dewi di Mata Sahabat

Keberanian dan keuletan Dewi ternyata sudah terlihat jelas sejak dirinya bersekolah di SMAN 1 Gunung Talang, Kabupaten Solok. Menurut teman satu angkatannya, Mevrizal, saat menuntut ilmu SMAN 1 Guntal, Dewi yang juga aktif di Pramuka, juga menjadi pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Pada kepengurusan periode 1999-2000 yang diketuai Mevrizal, Bripka Dewi Suryani menjadi pengurus di bidang bela negara.

“Sejak sekolah, Dewi memang sudah aktif dan pandai bergaul. Main gitar hebat dan kemampuannya berbahasa Inggrisnya, memang sudah hebat juga dari awal masuk sekolah. Jadi sangat pantas menjadi pasukan perdamaian PBB,” ujar Mevrizal. (yus/gah)